Warga Tengger Kibarkan Merah Putih di Ketinggian 2.400 Mdpl

220

Sukapura (WartaBromo.com) – Sambut Kemerdekaan Republik Indonesia, warga Tengger di Kabupaten Probolinggo kibarkan sang saka Merah Putih. Lokasi pengibaran berada di puncak Seruni Point, Desa Ngadisari, dengan ketinggian 2.400 MDPL.

Pengibaran itu menyiratkan pesan dan semangat perjuangan generasi muda saat ini. Utamanya dalam mengisi kemerdekaan. Salah satunya, mempercepat pemulihan sektor perekonomian yang sebelumnya lumpuh karena pandemi Covid-19.

Merah putih pun berkibar gagah di puncak Seruni Point. Salah satu titik pandang Gunung Bromo ini, menjadi bukti kecintaan masyarakat Suku Tengger kepada tanah air Indonesia. Mereka mengibarkan bendera merah putih mulai dari tangga paling bawah hingga di puncaknya yang memiliki ketinggian 2.400 meter di atas permukaan laut.

Baca Juga :   Bromo Hanya untuk Wisnu

“Sesuai dengan usia kemerdekaan Republik Indonesia, ada tujuh puluh tujuh bendera merah putih yang dikibarkan secara serentak dan bersama-sama. Selain masyarakat Tengger, kami juga melibatkan unsur TNI, Polri, pelajar dan pramuka,” terang Plt. Bupati Probolinggo, Timbul Prihanjoko, Selasa (16/08/2022).

Prosesi puncaknya adalah pembentangan bendera merah putih berukuran raksasa persis di bawah tangga puncak Seruni Point. Bendera merah putih dengan ukuran panjang 30 meter dan lebar empat meter dibentangkan dari atas ke bawah.

Timbul juga lakukan penyerahan bendera merah putih. Dari Pemerintah Kabupaten Probolinggo kepada masyarakat Tengger. Sebagai simbol, bahwa pada Kemerdekaan Republik Indonesia ke 77 ini, bendera merah putih bukan hanya berkibar di perkotaan saja.

Baca Juga :   Bromo Resmi Ditutup, hingga Kejar Komisi Rp50 Ribu, Ibu Rumah Tangga asal Pandaan Nekat Edarkan Sabu | Koran Online 19 Maret

“Tetapi juga pedesaan. Bahkan, dari laut hingga ke daerah pegunungan, kami sebarkan sedikitnya 10 ribu bendera merah putih. Sebagai simbol semangat juang sesuai tema saat ini, pulih lebih cepat, bangkit lebih kuat,” tandasnya.

Warga Tengger berharap, dunia pariwisata yang menjadi penunjang utama sektor ekonomi di Bromo dan Kabupaten Probolinggo pada umumnya, dapat pulih lebih cepat, bangkit lebih kuat. (lai/saw/may)