Cerita Jajanan : Klepon Wahyu Sejak 1997

287

“Saya dulu mancal, pindah-pindah tempat jual kue cenil, lupis, klepon dan jajajan lainnya. Ramai laris akhirnya saya dan suami inisiatif beri nama Klepon Wahyu pada tanggal 2 April 1997”

Laporan : Akhmad Romadoni

Klepon adalah sejenis makanan tradisional atau kue tradisional Indonesia yang termasuk ke dalam kelompok jajanan pasar. Makanan enak ini terbuat dari tepung beras ketan yang dibentuk seperti bola-bola kecil dan diisi dengan gula merah lalu direbus dalam air mendidih.

Kali ini, Wartabromo mendatangi sejumlah lapak penjual Klepon di Jalan Raya Gempol, Kabupaten Pasuruan. Berjajar toko-toko yang menjual jajan klepon mulai dari ujung gapura masuk Kabupaten Pasuruan hingga lurus ke arah timur sekitar 1 kilometer.

Mulai pagi hingga sore hari penjual disibukkan dengan membuat ratusan biji klepon. Jajanan tersebut memang dihidangkan dengan kondisi hangat dan nikmat untuk dimakan.

“Setiap hari, mulai pagi hingga sore hari kalau sabtu kaya gini, bikin terus,” kata Wiwik Andayani, salah satu karyawan di salah satu toko penjual klepon tersebut.

Dalam sehari ia bisa menghabiskan kurang lebih 8-7 kilo adonan klepon untuk dijual ke para wisatawan yang setiap harinya memburu jajanan pasar di sepanjang jalan masuk Kabupaten Pasuruan. Bahkan kalau weekend di toko ini bisa menghabiskan lebih dari itu.

“Kalau setiap kotak isinya 9 biji, dijual Rp5000 ribu. Sehari kalau dihitung bisa 1000 biji klepon,” tuturnya sambil membuat klepon.

Asap air mendidih juga menjadi pemandangan setiap hari di puluhan toko oleh-oleh Pasuruan ini. Ibu-ibu tersebut per 2 jam sekali membuat adonan baru agar bisa menyajikan jajanan pasar dalam kondisi hangat.

“Semuanya selalu hangat, kebanyakan toko-toko yang jual kaya gtu. Intinya selalu fresh lah,” lanjutnya.

Cita rasa nikmat saat menyantap klepon khas Pasuruan sangat menggoyang lidah. Paduan rasa gula merah yang meletus dalam mulut menjadi sensasi tersendiri bagi kue klepon ini.

Selain mengunjungi beberapa penjual klepon di sepanjang jalan pantura Gempol, Wartabromo juga mencari asal muasal penjual klepon hingga menjadi puluhan dan berjajar di area masuk Kabupaten Pasuruan ini.

Bertemu dengan Sarminah, ibu 3 anak ini bercerita tentang awal mula banyaknya penjual klepon yang berjajar tersebut. Ia mengawali karirnya menjadi penjual klepon sejak tahun 90 an.

“Saya dulu mancal, pindah-pindah tempat jual kue cenil, lupis, klepon dan jajajan lainnya. Ramai laris akhirnya saya dan suami inisiatif beri nama Klepon Wahyu pada tanggal 2 April 1997,” katanya, mengawali cerita.

Jerih payahnya sebagai penjual klepon keliling rupanya penuh hambatan. Bahkan, saat i berjualan pun juga sering larang oleh petugas satpol pp berada di sisi jalan Nasional itu.

“Dulu juga sering diobrak satpol pp,” tandasnya.

Kemudian, ia juga sering berpindah-pindah tempat agar tak diusir petugas. “Ke timur, ke barat, tergantung tempat enak berjualan,” ujarnya.

Lambat laun, penjualan kue kleponya banjir order. Ia dan suami memutuskan untuk membeli sebidang tanah yang berukuran kurang lebih 5×7 meter untuk lebih meningkatkan omsetnya.

Semakin hari semakin ramai, ia lalu melihat beberapa masyarakat juga banyak yang menjual kue klepon di pinggir jalan.

“Nah itu, mungkin melihat ramai jadi banyak yang jual juga. Tapi nggakpapa, kata almarhum suami rejeki sudah ada yang ngatur,” ungkapnya.

Hingga kini, ia masih mempertahankan resep lamanya agar tak mengurangi kualitas rada klepon yang ia jual.

“Sampai saat ini sama seperti yang dulu, tepung pakai beras yang diselep, warna hijaunya pakai daun pandan,” ujarnya.

Sampai saat ini jajanan pasar yang berada di sepanjang jalan masuk Kabupaten Pasuruan ini banyak diburu oleh wisatawan. Seperti Atik, wisatawan asal Jombang yang selalu singgah ke Gempol hanya untuk membeli klepon tersebut.

“Rasa enak, di Jombang ada tapi nggak seperti di Pasuruan ini. Jadi kalau lewat Pasuruan wajib beli ini,” kata Atik.