Harga Kedelai Naik, Perajin Tempe di Kota Pasuruan Kelimpungan

124

Pasuruan (WartaBromo.com) – Harga kedelai terus mengalami kenaikan sejak dua bulan terakhir. Akibatnya, perajin tempe di Kota Pasuruan mulai kelimpungan untuk mengatur strategi penjualannya.

Seperti yang terjadi pada Zainul Muttaqin (43), perajin tempe asal Kelurahan Pekuncen, Kecamatan Panggungrejo, Kota Pasuruan.

Iya mengaku mulai resah, Pasalnya, harga kedelai terus mengalami kenaikan sejak dua bulan yang lalu atau saat Pemerintah mengumumkan kenaikan harga BBM.

“Itu pas harga BBM naik, naik terus mulai dari harga Rp12.000 hingga sekarang menjadi Rp14.000,” kata Zainul saat ditemui di tempat produksi tempe miliknya, Kamis (3/11/2022).

Kenaikan harga kedelai memaksanya untuk bersiasat, hal itu dilakukan agar omset usaha tempe miliknya tak merosot drastis. Mulai dari memperkecil hingga menaikkan harga penjualan tempe.

Baca Juga :   Rusto’s Tempeh Man Jadda

“Sudah naik Rp500, dari harga awal saya jual Rp2000 kini naik menjadi Rp2500. Namun, jika kenaikan harga kedelai tak berhenti, mau tak mau akan naik lagi,” ujarnya.

Pria yang sudah puluhan tahun berkecimpung di usaha tempe ini memang tak mudah putus asa. Ia mengaku akan terus berjualan tempe meski harga kedelai terus mengalami kenaikan.

“Yang penting kedelainya ada, soalnya ini usaha keluarga sejak mbah saya. Saya generasi ketiga, mungkin sudah 100 tahun lebih,” lanjutnya.

Selain itu, pria beranak satu ini juga berharap agar pemerintah bisa segera menstabilkan harga kedelai. Upaya itu dilakukan agar konsumen tempe tak banyak yang mengeluh.

“Semoga langkah pemerintah tepat. Konsumen sudah banyak yang ngeluh, dibilang makin mahal, makin tipis, susah kalau kaya gitu,” kata Zainul.

Baca Juga :   Harga Kedelai Naik, Ini Siasat Perajin dan Penjual Tempe Tahu di Pasuruan

Diketahui,dalam sehari Zainul bisa memproduksi hingga 20 kilogram tempe. Hanya saja, keuntungan yang dia peroleh semakin berkurang karena mahalnya bahan baku kedelai.

“Sehari itu omset kotornya Rp 450 ribu, belum kepotong bahan baku sama raginya, untungnya tinggal Rp 150 ribuan,” ucapnya

Hingga kini, Zainul menjadi salah satu dari tiga pengrajin tempe yang masih bertahan di Kampung Rekesan. (don/yog)