Duh, 80 Persen Sampah di Pasuruan Dibakar

130
Sejumlah jurnalis saat mengikuti diskusi lingkungan 'Pilah Sampah dari Rumah, Apa Susahnya?' yang digelar WartaBromo bersama Coca Cola, 18 Juli 2022 lalu.

Pasuruan (WartaBromo.com)– Wakil Ketua Forum Komunikasi Peduli Lingkungan (FKPL) Kabupaten Pasuruan R Ahsanul Amali mengatakan pembangunan infrastruktur pengolahan sampah harus diimbangi dengan peningkatan kesadaran masyarakat dalam mengurangi sampah.

“Tanpa mengubah kebiasaan dalam memperlakukan sampah, upaya pengurangan sampah akan menjadi pekerjaan yang lebih sulit diimplementasikan,” katanya.

FKPL berdiri pada 2015. Menurut dia, pendirian itu didasari keprihatinan kondisi timbulan sampah yang tak terkelola baik. Dalam catatannya, produksi sampah di Kabupaten Pasuruan saat itu mencapai 4.707 meter kubik per hari.

Sebanyak 811 meter kubik di antaranya diangkut ke TPA Kenep Kecamatan Beji dan 166 meter kubik diolah di 18 TPS 3R. Sisanya sekitar 3.730 meter kubik sampah dibakar atau berserakan di lahan-lahan kosong. “Jadi saat itu tidak ada sepertiganya yang terkelola dengan baik,” katanya.

Namun kini, ia melanjutkan, infrastruktur pengelolaan sampah telah tersedia lebih baik. Pada 2021 misalnya, TPA Kenep telah ditutup dan digantikan dengan TPA Wonokerto di Kecamatan Sukorejo. Jumlah TPS 3R pun bertambah menjadi 45 unit.

Ia mendorong peningkatan kerja sama antarpihak dalam pengelolaan sampah, baik antara pemerintah, masyarakat, dan kalangan usaha.

Di beberapa desa di Pasuruan, inisiatif semacam itu sebenarnya telah dilakukan. Misalnya saja, kata dia memberi contoh, di Desa Kepulungan Kecamatan Gempol, masyarakat setempat berkolaborasi dengan Coca-Cola Europacific Partners (CCEP) Indonesia dalam kegiatan pengolahan sampah.

Regional Corporate Affair Manager CCEP Indonesia Armytanti Hanum Kasmito mengatakan kolaborasi itu berlangsung sejak 2019. Sebagai perusahaan yang berkomitmen pada pelestarian lingkungan, CCEP Indonesia mendukung program pengelolaan sampah berbasis pemberdayaan masyarakat. “Syukurlah, inisiatif itu mendapat sambutan positif dari masyarakat,” katanya.

Kebiasaan membuang sampah sembarangan lamban laun berubah. Bahkan, melalui kelompok-kelompok swadaya masyarakat yang didirikan di dusun-dusun, warga memilah sampah yang terkumpul dari rumah-rumah. Dengan cara itu, sampah yang berakhir di TPA bisa dikurangi. Di sisi lain, masyarakat bisa mendulang keuntungan dari sampah yang terpilah.

Ia mengatakan CCEP Indonesia juga menjalankan program pendampingan dalam pengelolaan sampah berbasis masyarakat di seluruh wilayah operasionalnya.

Selain di Pasuruan, program serupa misalnya, juga dilakukan di Ungaran Kabupaten Semarang. Baru-baru ini CCEP Indonesia bahkan memberikan penghargaan pada Yayasan Malu Dong Buang Sampah Sembarangan di Bali karena upayanya dalam mengedukasi pengelolaan sampah pada masyarakat.

“Kami selalu memberi apresiasi pada kelompok masyarakat dalam membangun kesadaran pengolaan sampah, merekalah pahlawan dalam pengurangan sampah di Indonesia,” katanya. (asd)