Aida Fitriati Sosialisasikan Wawasan Kebangsaan

147
Hj. Aida Fitriati (dua dari kiri), anggota DPRD Provinsi Jawa Timur saat mensosialisasikan wawasan kebangsaan.

Pasuruan (WartaBromo.com) – Dra. Hj. Aida Fitriati, M.Pd.I, Wakil Ketua FPKB DPRD Jawa Timur melaksanakan agenda Sosialisasi Wawasan Kebangsaan. Acara ini dipusatkan di Gedung PC GP Ansor Kabupaten Pasuruan pada Ahad, 4 Desember 2022

Ning Fitri sapaan akrab Aida Fitriati merupakan cucu Alm KH. Abdul Wahab Chasbulloh (Pendiri NU). Ning Fitri juga menghaturkan salam dari  Ketua Umum DPP PKB Abdul Muhaimin Iskandar untuk selalu berkhidmat kepada Nahdlatul Uluma.

Sebagai cucu pencipta Syubbanul Wathon, Ning Fitri juga menyampaikan khidmatnya kepada NU dengan melaksanakan aspirasinya demi kemaslahatan NU. Antara  lain; menfasilitasi pembangunan kantor-kantor MWC NU di Cabang Kabupaten Pasuruan serta Cabang Bangil serta badan otonom (banom-banom) NU.

Dalam kesempatan wawasan kebangsaan ini, Ning Fitri juga mengingatkan kepada peserta untuk tidak melupakan dan harus ditancapkan dalam hati tentang 4 Hal. Yakni P.B.N.U (Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945).

“Wawasan kebangsaan ini penting kita bahas terus menerus ke masyarakat. Karena kita ingin nilai-nilai dasar Pancasila dipahami dan diamalkan dalam kehidupan kita,” ujar Ning Fitri, kemarin.

Para peserta seminar Wawasan Kebangsaan menyimak serius paparan pemateri di gedung PC GP Ansor Kabupaten Pasuruan.

Dalam kesempatan itu, program Ning Fitri sebagai wakil rakyat menghadirkan dua narasumber. Yakni Farid Sauqi (Wakil Ketua PW GP Ansor Jatim) dan Naufal Cholily, M.Th.I (Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya).

Farid lebih banyak membahas soal Pentingnya Nasionalisme saat ini dan mendatang. “Data lembaga survey menyebutkan, kalau Indonesia sedang menghadapi tantangan serius terkait dengan nasionalisme,” ujar Farid.

Ia kemudian mengutip hasil survei LSI Denny JA.  Sejak 2005-2018 jumlah warga yang pro-Pancasila semakin berkurang setidak-tidaknya 10%. Di level pendidikan formal, khususnya kelompok muda, jumlah pro-Pancasila juga menurun. Penelitian LSI pada 2019 cukup memberikan sedikit angin segar, karena jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, nasionalisme masyarakat mengalami kenaikan.

“Dari data Lembaga survey itu, bisa kita ketahui sebesar 66,4 persen warga yang masih mengidentifikasi diri sebagai bagian dari bangsa Indonesia. 19,1 persen warga mengidentifikasi diri sebagai kelompok penganut agama tertentu.  Dan 11,9 persen warga mengidentifikasi diri sebagai bagian dari suku tertentu, 2,6 persen tidak menjawab. Nah, 33,6 persen warga yang tidak mengutamakan nasionalisme bukanlah angka yang kecil ,” tegasnya.

Bagaimana strategi dalam penguatan nasionalisme? Pertama, menguatkan kembali nasionalisme di level pendidikan formal. Kedua, dalam level pendidikan formal, narasi-narasi sejarah tentang kepahlawanan yang wajib munculkan kembali, diketahui, dan dipahami oleh generasi muda. Dan ketiga, penguatan nasionalisme dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan budaya populer.

Sementara itu, Naufal Cholily mengupas soal Pluralisme Dalam Bingkai Kebangsaan. “Mengapa ada pluralisme? Ya karena sebuah keniscayaan akan adanya perbedaan (QS: Al-Maidah: 48, Ar-Rum: 22, Al-Hujurat: 13). Dalam konteks ke-Indonesia-an ada bhinneka tunggal ika, masyarakat majemuk.

Sehingga poin penting dalam pluralism adalah sikap aktif terhadap keragaman yang ada di sekitarnya. Pluralisme bukan sekedar toleransi, namun juga butuh sikap aktif untuk memahami perbedaan yang ada. Pluralisme tidak selalu bermakna relativisme, namun juga mempertemukan komitmen. “Bahasa pluralisme adalah dialog dan bertemu (saling memahami). (day/*)