Kisah Pilu Penyintas Semeru, Kehilangan Rumah dan Mata Pencaharian

155
Kisah Pilu Penyintas Semeru, Kehilangan Rumah dan Mata Pencaharian
Hunian yang Terkubur Abu Semeru.

Candipuro (wartabromo.com) – Erupsi semeru kali ini benar-benar menimbulkan kerusakan serius. Selain merusak materi, erupsi kali ini juga membuat penyintas kehilangan lapangan pekerjaan.

Kendati sudah menempati hunian relokasi, mereka masih gamang. Karena sumber mata pencaharian ikut luruh bersama erupsi Minggu 4 Desember 2022 kemarin.

Terjangan material vulkanik pada erupsi minggu kemarin, meluluhlantakkan area yang sebelumnya masih bisa ditinggali warga. Terutama mereka yang belum mendapat jatah huntara. Lahan pertanian dan rumah di Dusun Kajar Kuning, Desa Sumberwuluh, Lumajang, Jawa Timur, tenggelam dalam abu vulkanik semeru.

Siti Animah, termasuk penyintas erupsi semeru tahun 2021 lalu bercerita. Kendati saat ini sudah tinggal di huntara yang aman, tak semata-mata membuatnya tenang.

Baca Juga :   Ini Pesan Buat Emak - emak Supaya Tak Tertipu Investasi Bodong

Erupsi kedua yang terjadi beberapa hari lalu, rupanya merenggut lapangan pekerjaan satu-satunya. Tujuh petak lahan singkong yang menjadi sandaran hidup, kini sudah hancur terkubur material vulkanik Semeru. Ibu dengan tiga anak ini pun hanya bisa gigit jari.

“Padahal, seminggu lagi sudah waktunya panen,” lirih suara Siti dengan tatapan mata kosong, Jumat (09/12/2022).

Siti Animah merupakan warga asli Dusun Curah Kobokan. Sejak lahir sekitar setengah abad silam, dirinya sudah menggantungkan hidup dari hasil pertanian yang diolah bersama sang suami, Tarji.

“Kami hanya bisa berharap, ada perhatian pemerintah. Untuk memberikan pelatihan atau modal usaha. Agar kami bisa kembali bekerja lagi,” imbuhnya.

Saat erupsi minggu lalu menerjang, tak semua warga mengungsi. Beberapa memilih tinggal dan bertahan di hunian relokasi.

Baca Juga :   Tak Ada Cuti Panjang Karyawan, hingga Kota Pasuruan Dapat Rp2,14 Miliar dari Pungutan Parkir | Koran Online 17 Feb

“Waktu kejadian itu saya tidak ikut mengungsi. Karena ini kan tempat relokasi. Yang secara logika pasti aman dari potensi erupsi kalau terjadi lagi,” jelas Siti Nurhayati.

Hal itu dilakukan Siti agar keadaan tetap kondusif. Sehingga tidak menambah kepanikan. Sejauh ini, aktivitas vulkanik semeru masih tinggi. Letusan terjadi lima kali rata rata setiap satu jam sekali. Warga dihimbau untuk menjauhi aliran lahar semeru. (lai/may)