Warga Desak Pemkab Lakukan Ekskavasi Ulang Temuan Saluran Air Kuno di Gempol

333

Gempol (WartaBromo.com) – Temuan situs saluran kuno di Dusun Blimbing, Desa Bulusari, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan yang berpotensi sebagai cagar budaya kiranya perlu mendapatkan sentuhan pemerintah.

Pada tahun 2021 pemerintah telah melakukan eskavasi temuan yang memiliki keterkaitan dengan Prasasti Cunggrang, di Dusun Sukci, Desa Bulusari.

Namun demikian, temuan bersejarah tersebut kini tak dilanjutkan lagi. Padahal masyarakat setempat berharap saluran air kuno itu bisa menjadi destinasi cagar budaya yang lestari.

“Disini peran pemerintah sangatlah diharapkan. Agar penemuan saluran kuno dengan struktur batu bata ini terawat,” kata Kasun Blimbing, Desa Bulusari, Kecamatan Gempol, Mohammad Atim berapa pekan yang lalu.

Warga setempat, katanya, berharap pemerintah dapat melakukan eskavasi ulang untuk menguak situs kuno bersejarah itu serta menjadikannya sebagai destinasi wisata cagar budaya sebagai edukasi akan sejarah daerah.

Baca Juga :   Melacak Jejak Semaun di Pasuruan, Ketua Pertama PKI (1)

Sebagai Edukasi Masyarakat Akan Peradaban Daerah

Menurut sejarah, Prasasti Cunggrang menuliskan tanah perdikan (pembebasan pajak) bagi masyarakat setempat (lereng Gunung Penanggungan) oleh Mpu Sendok.

Pembebasan pajak itu didasari atas dedikasi masyarakat setempat yang mampu memelihara dan merawat Gunung Penanggungan.

“Dulu gunung itu disebut Gunung Pawirta yang merupakan pentirtaan raja-raja di Nusantara,” kata Karno, penanggung jawab Museum Pasuruan.

Prasasti Cunggrang sendiri ditulis dengan menggunakan bahasa Jawa kuno bertanda tahun 851 Saka atau 929 Masehi yang bertanggal Jum’at Pahing tanggal 18 September 929 M.

Tanggal tersebut selanjutnya ditafsirkan sebagai hari berdirinya Pasuruan dan tanggal 18 September sebagai hari jadi Kabupaten Pasuruan.Dari ulasan di atas, kiranya temuan saluran air kuno tersebut sangat berarti dan bersejarah jika memang berkaitan dengan Prasasti Cunggrang. Pasalnya, raja-raja Nusantara sangat mengagungkan Gunung Penanggungan sebagai tempat yang suci. (lio/yog)