Produksi Garam di Kota Pasuruan Anjlok, Perubahan Iklim Jadi Penyebab

190
Seorang petani garam di Panggungrejo Kota Pasuruan sedang melakukan pengolahan garam, Senin (17/7/2023)

Pasuruan (WartaBromo.com) – Produksi garam di Kota Pasuruan anjlok. Perubahan iklim disebut sebagai penyebab utama turunnya produksi garam.

Salah satu petani garam di Kelurahan Panggungrejo, Mustain (43) yang ditemui wartabromo mengatakan. proses produksi garam membutuhkan waktu satu hingga dua pekan.

Selama proses tersebut petani garam sepenuhnya bergantung pada panas matahari untuk mengkristalisasi air laut yang sudah ditampung di tambak. Jika cuaca tak menentu, maka akan berpengaruh terhadap produksi.

Jika panas matahari sedang bagus, satu petak tambak yang dia kelola sekali panen bisa menghasil empat hingga lima ton garam. Namun jika cuaca tidak menentu, hasilnya di bawah angka tersebut.

“Kalau cuacanya tidak menentu, misalnya, pas musim kemarau sering mendung, hasilnya tiga ton atau dua ton. Untungnya kalau sekarang harga garam masih bagus,” ujar Mustain.

Baca Juga :   Perlukah Impor Garam Dilakukan?

Sementara itu, Kepala Dinas Perikanan Kota Pasuruan, Mualif Arief saat dikonfirmasi membenarkan hal ini. Menurutnya, pihaknya mencatat produksi garam dalam empat tahun terakhir terus mengalami penurunan.

Pada tahun 2019, produksi garam di Kota Pasuruan mencapai 10.044 ton dalam setahun. Tahun 2020 produksi garam turun menjadi 6.668 ton setahun.

Tahun berikutnya, produksi garam turun separuh dibanding tahun sebelumnya. Sepanjang tahun 2021, produksi garam di Kota Pasuruan mencapai 3.317 ton.

Terakhir, pada tahun 2022, produksi garam dalam setahun hanya mencapai 982 ton. Mualif menyebut, cuaca yang tidak menentu menjadi penyebab utama anjloknya produksi garam.

“Cuacanya tidak menentu. Sementara petani garam mengandalkan panas matahari,” kata Mualif, Senin (17/07/2023). (tof/yog)