Pemilu dan Rendahnya Optimisme Politik Anak Muda

56

Pasuruan (WartaBromo.com) – Pemilu 2024 tinggal hitungan hari. Diskursus seputar politik dan anak muda pun kian santer mendekati pesta demokrasi 2024 mendatang itu.

Data Komisi Pemilihan Umum (KPU) menyebut Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pemilu 2024 sebanyak 33,60 persen adalah millenial. Termasuk di dalamnya adalah Gen Z.

Namun demikian, menurut Survei Indeks Optimisme Generasi Muda 2023 yang dilakukan Good News From Indonesia (GNFI), tingkat optimisme anak muda dalam politik sangat rendah. Yakni diangka 5,72 persen.

Mengapa Anak Muda Apatis?

Wakil Ketua GP Ansor Jatim Zulkarnain Mahmud, menilai bahwa pendidikan politik pada masyarakat sejauh ini belum optimal. Padahal, parpol secara struktural memiliki klaster kepemudaan.

Baca Juga :   Satu Juta Pelamar Sudah Buat Akun di Situs Pendaftaran CPNS

“Partai politik itu punya banom-banom klaster kepemudaan, tapi bisa kita lihat di lapangan mereka tidak jalan itu,” papar Zulkarnain dalam podcast wartabromo.com pada Sabtu, (14/10/2023) lalu.

Di sisi lain, anak-anak muda yang mau bertarung dalam dunia politik faktanya akan terbentur dengan cost politik yang mahal. Dalam buku democracy for sale, diketahui bahwa demokrasi Indonesia itu demokrasi termahal di dunia.

Pentingnya Pendidikan Politik

Masa kampanye, per tanggal 28 November 2023 tengah dimulai. Komisioner KPU Divisi Teknis Penyelenggaraan, Fatimatuz Zahro mengatakan masa kampanye juga merupaka pendidikan politik dan harus dimanfaatkan dengan tepat.

Ia juga bilang, selain penyelenggara pemilu, pendidikan politik pada masyarakat juga merupakan tanggung jawab peserta pemilu dan partai politik.

Baca Juga :   Alasan Cucu Kiai Hamid Tak Mau Dicalonkan Wali Kota, hingga Tipu-tipu Pegawai Honorer | Koran Online 8 Sept

“Tanggung jawab penyelenggara pemilu, peserta pemilu juga dapat melaksanakan pendidikan kepemiluan, masyarakat/stakeholder. Termasuk parpol dapat memberikan pendidikan politik,” ungkap Zahro, Selasa (28/11/2023).

Sejauh ini, lanjutnya, KPU sudah melakukan sosialisasi dengan beberapa segmen kepada masyarakat, pemilih pemula, kelompok disabilitas, maupun ormas. Salah satunya pendidikan menjadi pemilih cerdas. (lio/asd)