Hujan Deras Picu Limpasan di Lautan Pasir Gunung Bromo

212

Probolinggo (WartaBromo.com) – Hujan deras yang melanda kawasan Gunung Bromo memicu kejadian mengejutkan di lautan pasir, Selasa (9/1/2024). Meskipun disebut sebagai “banjir,” Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) memastikan bahwa itu adalah aliran air cepat surut.

Kepala Bagian Tata Usaha BB TNBTS, Septi Eka Wardhani, menegaskan bahwa air yang mengalir tersebut hanyalah dampak dari hujan deras. Aliran yang mirip banjir itu, dikenal dengan limpasan air.

“Bukan banjir sesungguhnya. Nanti akan meresap ke dalam di sekitar Mendongan,” kata Septi,

Sejumlah motor warga terjebak arus limpasan yang deras di lautan pasir Bromo. Warga setempat bahkan membantu para pemotor yang terjebak. Seperti yang terlihat dalam video beredar di beberapa grup aplikasi percakapan.

Baca Juga :   Ketua PCNU Kraksaan Wafat

Informasi yang dihimpun WartaBromo menyebutkan bahwa peristiwa tersebut terjadi di kawasan Bukit Dingklik, Desa Wonokitri, Tosari, Pasuruan. Limpasan dimulai sejak pukul 11.00 WIB, dengan ketinggian air mencapai betis orang dewasa.

“Hujan deras, air dari Gunung Widodaren turun ke lautan pasir, lewat situ, tepat sebelum naik ke Penanjakan dari arah lautan pasir,” ungkap tokoh masyarakat Tengger Pasuruan, Widian Dharma Singgih.

Lokasi limpasan merupakan jalur air yang rutin dilewati saat hujan deras. Meskipun ada pemotor yang terjebak, sebagian besar warga memilih untuk menunggu surutnya limpasan.

“Bukan wisatawan, tapi warga yang pulang dari ladang. Sebagian lagi warga Brang Wetan (Probolinggo) dan Brang Kulon (Pasuruan) yang memang setiap hari melintas,” tuturnya.

Baca Juga :   Pasca Tragedi Lapas Tangerang, Kemkumham Safari ke Sejumlah Lapas

Berdasarkan pengamatan PVMBG, asap putih tebal membubung setinggi sekitar 700 meter dari puncak Gunung Bromo. Asap putih tersebut masih berupa uap air akibat suhu tinggi di dasar kawah.

Meskipun aktivitas Gunung Bromo masih pada tingkat Waspada (level II), masyarakat diimbau untuk tidak memasuki area dalam radius satu kilometer dari kawah aktifnya. Juga diminta mewaspadai kemungkinan letusan freatik tanpa gejala-gejala vulkanik yang jelas. (lai/saw)