KLB Leptospirosis, Kota Probolinggo Waspadai Ancaman Banjir Musim Hujan

43

Probolinggo (WartaBromo.com) – Banjir di Kota Probolinggo patut diwaspadai karena dapat menyebarkan bakteri leptospira sp. Pemerintah Kota Probolinggo pun mengeluarkan Surat Edaran (SE) tentang Kewaspadaan terhadap kejadian luar biasa (KLB) leptospirosis

Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes-P2KB) Kota Probolinggo menemukan 3 kasus penyakit leptospirosis dalam tiga bulan terakhir.

“Dua kasus di antaranya menyebabkan penderitanya meninggal,” sebut Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Asri Wahyuningsih, Jumat (22/3/2024).

Menurut Asri, terdapat 8 kasus leptospirosis, yang juga mengakibatkan 2 kematian pada 2023. Penderita tidak segera diobati dan ditangani sehingga mengakibatkan kematian.

Pemerintah Kota Probolinggo telah mengeluarkan Surat Edaran (SE) tentang Kewaspadaan terhadap kejadian luar biasa (KLB) leptospirosis.

Baca Juga :   Tak Ada Kenaikan Gaji ASN Tahun Depan, hingga Guru TK Diteror Puluhan Nomor Ponsel | Koran Online 23 Nov

SE tersebut bertujuan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kasus leptospirosis. Terutama di daerah rawan seperti daerah banjir, persawahan, pemukiman kumuh, dan daerah dengan faktor risiko lainnya.

“Mengingat musim hujan yang berlangsung saat ini, kondisi banjir atau genangan air membuat lingkungan rawan terhadap penyebaran leptospirosis, yang ditularkan melalui kencing tikus,” ucapnya mewakili Kepala Dinkes-P2KB Kota Probolinggo Nurul Hasanah Hidayati.

Asri menjelaskan bahwa leptospirosis merupakan penyakit yang ditularkan melalui air, dengan urine dari individu yang terinfeksi sebagai sumber penularan utama.

Bakteri leptospira memiliki kemampuan untuk bergerak dengan cepat dalam air, sehingga dapat menginfeksi inang baru dengan mudah. Hujan deras akan membantu penyebaran penyakit ini, terutama di daerah banjir.

Baca Juga :   Mantan Karyawan Otaki Pencurian Ponsel di PNM Mekar Paiton

Penularan leptospirosis dapat terjadi secara langsung melalui kontak dengan sejumlah media. Seperti kontak dengan selaput lendir mata, kulit yang terluka, atau cairan urin.

Penularan juga bisa terjadi secara tidak langsung melalui media tersebut. Dengan air kencing tikus yang terbawa oleh banjir menjadi salah satu sumber utama penyebaran penyakit ini.

Dalam kondisi banjir, perubahan lingkungan seperti genangan air, lumpur, dan timbunan sampah mempercepat berkembang biaknya bakteri leptospira.

“Tikus dianggap sebagai reservoir dan penyebar utama leptospirosis. Sehingga perlu meningkatkan langkah-langkah pencegahan dan kesadaran masyarakat terhadap bahaya penyakit ini selama musim hujan,” tandas ia. (saw/saw)