Pasuruan (WartaBromo.com) – Kucing kerap membuat banyak orang takjub. Di kondisi minim cahaya atau ruangan gelap sekalipun, hewan ini tetap bisa melangkah lincah, melompat tepat sasaran, hingga menghindari benda di sekitarnya tanpa kesulitan berarti.
Namun, kemampuan itu bukan hanya karena ketajaman mata. Ada peran penting dari organ kecil di wajahnya yang selama ini sering dianggap sekadar pelengkap penampilan, yakni kumis.
Di balik tampilannya yang sederhana, kumis kucing menyimpan fungsi biologis yang kompleks dan menjadi salah satu sistem sensorik paling efektif di dunia hewan.
Dilansir dari journals.plos.org, dalam penelitian dalam jurnal PLOS ONE (2023) menyebut, secara ilmiah, kumis kucing disebut vibrissae, berasal dari bahasa Latin vibrio yang berarti bergetar. Organ ini tidak hanya tumbuh di area hidung, tetapi juga di alis, dagu, hingga bagian belakang kaki depan dekat cakar.
Nah, vibrissae sebagai struktur fleksibel yang menjadi sumber informasi sensorik penting bagi mamalia, berbeda dengan antena serangga yang memiliki sensor di sepanjang tubuhnya.
Tak hanya di wajah, kucing juga memiliki kumis di bagian belakang kaki depan. Fungsi ini sangat penting saat berburu karena membantu menutup titik buta penglihatan saat menangkap mangsa. Dengan sensor ini, kucing bisa mengetahui posisi mangsa tepat di bawah tubuhnya secara lebih presisi.
Menariknya, kemampuan ini tidak dimiliki anjing, yang meski memiliki kumis, tidak memiliki sistem sensor serupa di bagian kaki.
Dengan demikian, kumis kucing bukan sekadar bagian estetika wajah, melainkan sistem sensor biologis yang sangat penting. Organ ini memungkinkan kucing bergerak presisi, berburu efektif, dan beradaptasi dengan lingkungan, bahkan dalam kondisi gelap total. (jun)





















