Pasuruan (WartaBromo.com) – Sejumlah wali murid kelas 1 MIN 2 Kota Pasuruan mengeluhkan hasil pengadaan seragam sekolah yang dinilai tidak sesuai dengan ukuran anak mereka. Padahal, sebelum seragam diproduksi, setiap siswa telah menjalani proses pengukuran.
Salah seorang wali murid yang enggan disebutkan namanya mengaku kecewa karena seragam yang diterima, terutama baju muslim dan bagian bawahan, justru kebesaran. Akibatnya, orang tua harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mempermak seragam agar dapat dikenakan anak saat masuk sekolah.
“Sudah diukur, tapi pas dibagi tidak sesuai, kebesaran. Jadi kan keluar biaya lagi untuk permak,” ujarnya.
Ia mengaku biaya permak untuk satu seragam berkisar Rp30 ribu. Karena setiap siswa memiliki empat jenis seragam, total biaya tambahan yang harus dikeluarkan orang tua mencapai sekitar Rp120 ribu.
“Permaknya satu setel sekitar Rp30 ribuan per seragam. Karena ada empat seragam, ya totalnya sekitar Rp120 ribu lagi. Padahal kami sudah bayar seragamnya,” keluhnya.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, dari sekitar 120 siswa kelas 1, hampir seluruhnya menerima seragam dengan ukuran yang kebesaran. Keluhan paling banyak terjadi pada baju muslim, sementara sebagian lainnya juga mengeluhkan ukuran bawahan yang tidak sesuai.
Setiap siswa diwajibkan memiliki empat jenis seragam, yakni busana muslim putra/putri, seragam hijau khas MIN 2, seragam merah putih, dan seragam pramuka. Masing-masing seragam dibanderol Rp170 ribu per setel, sehingga total biaya yang harus dibayarkan orang tua mencapai Rp680 ribu.
Besarnya biaya tersebut membuat para wali murid berharap seragam yang diterima sesuai dengan hasil pengukuran awal. Mereka menilai, ketidaksesuaian ukuran justru menambah beban karena harus kembali mengeluarkan biaya untuk mempermak seluruh seragam.
Menanggapi keluhan itu, Kepala MIN 2 Kota Pasuruan, Imam Mashudi, menegaskan bahwa pengadaan seragam dan atribut sekolah bukan dilakukan oleh pihak madrasah, melainkan dikoordinasikan oleh Komite Madrasah.
“Maaf bapak, lembaga tidak mengadakan pengadaan seragam dan atribut sekolah. Semua dikoordinir oleh Komite. Keluhan beberapa wali murid juga sudah diselesaikan oleh Komite,” kata Imam Mashudi, Senin (13/7/2026).
Sementara itu, berdasarkan surat yang disampaikan kepada wali murid kelas 1, Komite Madrasah menyampaikan permohonan maaf atas ketidakpuasan terhadap pengadaan seragam.
Komite juga menyatakan siap mengganti bawahan seragam yang menjadi keluhan agar sesuai dengan ukuran siswa. Wali murid diminta mengisi formulir ukuran terbaru sebagai dasar proses penggantian.
Meski demikian, sejumlah wali murid berharap penggantian tidak hanya dilakukan pada bawahan seragam, tetapi juga baju muslim yang menjadi keluhan terbanyak. Mereka berharap seluruh seragam yang ukurannya tidak sesuai dapat diganti sehingga siswa dapat mengenakannya dengan nyaman tanpa harus mengeluarkan biaya tambahan untuk permak. (don)





















