Hari Raya Karo Suku Tengger, Tradisi Sakral yang Dijaga Suku Tengger

17

Pasuruan (WartaBromo.com) – Hari Raya Karo merupakan upacara adat terbesar masyarakat Suku Tengger yang digelar sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus ungkapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tradisi ini juga menjadi simbol persaudaraan dan kerukunan warga Tengger.

Hari Raya Karo diperingati setiap tanggal 15 bulan Karo, yakni bulan kedua dalam penanggalan Saka yang digunakan masyarakat Tengger. Karena mengacu pada kalender adat, waktu pelaksanaannya berbeda setiap tahun dalam kalender Masehi.

Pada 2026, pembukaan Hari Raya Karo di wilayah Brang Kulon, Kabupaten Pasuruan, berlangsung pada 28–29 Juli 2026 di Balai Desa Tosari.

Bagi masyarakat Tengger, Hari Raya Karo bukan sekadar perayaan budaya. Tradisi ini merupakan ritual spiritual yang memiliki makna mendalam sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur yang diyakini telah mewariskan nilai kehidupan, adat istiadat, serta ajaran untuk menjaga keharmonisan hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Perayaan ini juga menjadi wujud rasa syukur atas kehidupan, keselamatan, dan rezeki yang diterima masyarakat selama setahun. Melalui berbagai ritual adat, warga Tengger memanjatkan doa agar diberikan keberkahan, ketenteraman, serta kesejahteraan.

Selain memiliki nilai spiritual, Hari Raya Karo menjadi momentum memperkuat kebersamaan masyarakat. Seluruh warga Tengger, tanpa memandang agama yang dianut, terlibat dalam rangkaian upacara adat.

Kehadiran umat Hindu, Islam, dan Kristen dalam berbagai prosesi menjadi cerminan kuatnya nilai toleransi yang telah lama hidup di kawasan Tengger.

Salah satu prosesi penting dalam Hari Raya Karo adalah pembacaan puja mantra mekakat oleh dukun pandita sebagai penanda dimulainya upacara. Ritual kemudian dilanjutkan dengan doa bersama lintas agama dan pementasan Tari Sodoran, tarian sakral yang melambangkan asal-usul kehidupan manusia, kesuburan, serta keharmonisan hidup.

Setelah prosesi utama selesai, masyarakat Tengger melanjutkan tradisi anjang-anjang, yakni saling mengunjungi rumah keluarga, kerabat, dan tetangga untuk mempererat silaturahmi serta menjaga hubungan kekeluargaan.

Hingga kini, Hari Raya Karo tetap dilestarikan sebagai warisan budaya masyarakat Tengger. Selain memiliki nilai spiritual yang tinggi, tradisi ini juga menjadi salah satu daya tarik wisata budaya di kawasan Bromo. (Jun)

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.