Probolinggo (WartaBromo.com) – Wali Kota Probolinggo dr. Aminuddin mengatakan keberagaman budaya merupakan bagian penting dalam membangun kolaborasi di tengah masyarakat yang heterogen. Pesan itu ditampilkan melalui Pawai Budaya Hari Jadi ke-667 Kota Probolinggo dengan tema “Pesona Harmoni Nusantara”, Minggu (13/9/2026).
Musik tradisional mengalun sepanjang jalur pawai. Ratusan penampil bergerak membawa busana, properti, dan ragam kesenian daerah. Sementara warga memenuhi sisi jalan untuk menyaksikan sekaligus mengabadikan penampilan menggunakan telepon seluler.
“Dengan konsep ini kami ingin beradaptasi dengan situasi, budaya, dan masyarakat yang ada agar lahir inovasi dan kolaborasi di Kota Probolinggo,” ujar.
Menurut dia, keberagaman tersebut juga tercermin dalam budaya Pandhalungan yang menjadi salah satu karakter budaya masyarakat Probolinggo. Perpaduan berbagai latar budaya itu, kata Aminuddin, menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang selaras dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika.
“Budaya Pandhalungan merupakan contoh harmonisasi budaya,” kata dokter Amin, sapaan akrabnya.

Jaran Bodag Buka Pawai
Pawai budaya dibuka dengan penampilan Jaran Bodag, kesenian khas Kota Probolinggo yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Probolinggo mengerahkan sekitar 100 penari untuk membawakan kesenian tersebut.
Penampilan Jaran Bodag menjadi salah satu perhatian utama warga yang memadati jalur pawai. Gerak para penari berpadu dengan musik tradisional, membawa kesenian lokal ke ruang publik dalam perayaan hari jadi kota.
Ketua Dewan Kesenian Kota Probolinggo (DKKPro) Peni Priyono mengatakan persiapan penampilan tersebut dilakukan dalam waktu relatif singkat.
“Kami hanya memiliki waktu tiga hari untuk persiapan, penyesuaian, dan mematangkannya. Kami ingin menampilkan kesenian asli Kota Probolinggo yang melambangkan kerja keras,” ujar Peni.

Kisah Nusantara di Jalanan Kota
Selain kesenian lokal, pawai menghadirkan berbagai ekspresi budaya dari sejumlah daerah. Busana tradisional, tarian, musik, hingga cerita sejarah dikemas dalam penampilan masing-masing peserta.
Sekretariat DPRD Kota Probolinggo menampilkan Tari Sekar Arum yang mengangkat kisah Nyai Sekar Arum, perempuan bangsawan asal Blambangan, Banyuwangi, yang dikenal memiliki kemampuan menari dan menyanyi sebagai pesinden.
Kisah tersebut menggambarkan perjalanan Nyai Sekar Arum bersama kelompok seni hingga tiba di wilayah Banger, yang kemudian berkembang menjadi Probolinggo.
Sementara itu, unsur budaya Banyuwangi hadir melalui kolaborasi Sekretariat Daerah, Satpol PP, dan DPMPTSP Kota Probolinggo.
Pertunjukan yang mereka bawakan berjudul “Adipati Minak Jinggo Membangun Tlatah Budaya Nusantara di Kota Probolinggo”.
Pertunjukan itu mengangkat sosok Prabu Minak Jinggo, raja Blambangan, sekaligus menggambarkan perkembangan kawasan utara Probolinggo sebagai wilayah yang subur dan memiliki keragaman budaya.
“Kami melakukan persiapan sekitar dua minggu. Latihan juga sering dilakukan sampai larut malam,” kata Sabar, pegiat budaya Banyuwangi yang mendampingi.

Warga Padati Jalur Pawai
Pawai budaya turut menarik perhatian warga dari dalam maupun luar Kota Probolinggo. Siti Romlah, warga Kelurahan Jrebeng Kidul, Kecamatan Wonoasih, datang sekitar pukul 11.10 WIB untuk menyaksikan rangkaian pertunjukan.
Wanita muda berhijab itu, tidak datang sendirian, melainkan bersama keluarga. Rak hanya menonton, tetapi ia juga merekam sejumlah penampilan dan menyiarkannya melalui media sosial.
“Meski jumlah peserta tidak terlalu banyak, ragam budaya yang ditampilkan tetap menunjukkan kekayaan budaya yang ada,” ujar Romlah.
Hal serupa disampaikan Amina Sundari, warga Kecamatan Besuk, Kabupaten Probolinggo. Ia sengaja datang ke Kota Probolinggo untuk melihat langsung pawai budaya tersebut.
“Bagus dan seru. Kita juga bisa mengetahui filosofi dari kebudayaan yang ditampilkan,” katanya.
Bagi Pemerintah Kota Probolinggo, pawai budaya menjadi bagian dari rangkaian Hari Jadi ke-667 sekaligus ruang untuk memperkenalkan beragam kesenian kepada masyarakat dan generasi muda.
Dokter Amin mengatakan keberlanjutan budaya di Kota Probolinggo terlihat dari proses pewarisan kesenian kepada generasi berikutnya.
“Transfer budaya kepada kaum muda berlangsung dinamis,” ujar Wali Kota Aminuddin.
Melalui tema “Pesona Harmoni Nusantara”, pawai tahun ini mempertemukan kesenian lokal dengan berbagai ekspresi budaya Nusantara dalam satu perayaan Hari Jadi ke-667 Kota Probolinggo. (adv/saw)






















