Pasuruan (WartaBromo.com) – Pernyataan pengusaha sound horeg Setyo Budi Mularso dalam sebuah acara diskusi di stasiun televisi nasional menuai kekecewaan dari Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Pasuruan.
Ketua PC GP Ansor Kabupaten Pasuruan, Abdul Karim, menilai pernyataan yang dilontarkan Setyo Budi Mularso terhadap Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur tersebut tidak pantas disampaikan, terlebih dalam forum yang disiarkan secara nasional.
“Kami sangat kecewa dengan pernyataan yang disampaikan. Berbeda pandangan silakan, tetapi jangan sampai kita kehilangan adab,” kata Abdul Karim.
Menurutnya, perbedaan pendapat mengenai sound horeg maupun persoalan keagamaan merupakan hal yang dapat didiskusikan secara terbuka. Namun, penyampaian pendapat tetap harus memperhatikan etika dan menghormati lembaga maupun pihak lain yang memiliki pandangan berbeda.
Abdul Karim juga menyayangkan pernyataan tersebut disampaikan melalui media televisi yang jangkauannya luas. Menurutnya, pernyataan yang disampaikan di ruang publik, terlebih televisi nasional, berpotensi memicu kegaduhan yang lebih besar di tengah masyarakat.
“Apalagi ini tayang di tvOne secara nasional. Seharusnya bisa lebih menjaga ucapan. Kita boleh berbeda pandangan, tetapi adab harus tetap dikedepankan,” ujarnya.
PC GP Ansor Kabupaten Pasuruan, lanjut Abdul Karim, meminta Setyo Budi Mularso mengambil langkah untuk menyelesaikan persoalan tersebut secara baik-baik.
Ia berharap bos sound horeg tersebut sowan langsung ke MUI Jawa Timur untuk meminta maaf sekaligus bertabayun. Menurutnya, pertemuan secara langsung dapat menjadi ruang untuk menjelaskan persoalan sekaligus meredakan polemik yang berkembang.
“Kami meminta yang bersangkutan sowan ke MUI Jawa Timur, meminta maaf dan bertabayun. Kalau ada perbedaan pandangan, mari dibicarakan dengan baik,” tegas Abdul Karim.
Ia menambahkan, persoalan sound horeg seharusnya tidak berkembang menjadi pertentangan antarkelompok. Menurutnya, semua pihak memiliki ruang untuk menyampaikan pendapat, namun tetap dalam koridor saling menghormati.
“Jangan sampai persoalan ini justru memecah masyarakat. Mari kita kedepankan tabayun, musyawarah dan adab,” pungkasnya. (red)






















