Laporan : Akhmad Romadoni
Hanya sekitar 20 hari waktu yang dimiliki Kecamatan Winongan untuk mempersiapkan diri mengikuti Pasuruan Carnival 2026. Di tengah waktu yang terbatas, mereka harus menyiapkan puluhan peserta, properti, kostum hingga konsep pertunjukan.
Namun, keterbatasan itu justru melahirkan sebuah pertunjukan yang membawa cerita dari masa lalu.
Winongan memilih mengangkat tema “Insiden Tanam Paksa Pabrik Gula Winongan”. Sejarah tentang kehidupan warga pribumi pada masa kolonial Belanda itu ditampilkan melalui teatrikal, musik, narasi dan berbagai properti dalam rangkaian Hari Jadi ke-1097 Kabupaten Pasuruan.
Hasilnya, Kecamatan Winongan keluar sebagai juara pertama Pasuruan Carnival 2026.
Kecamatan Kraton berada di posisi kedua dengan tema Legenda Sungai Welang, sedangkan Kecamatan Lekok meraih juara ketiga melalui tema “Surya Lekok, dari Luka Menjadi Mahardika”.
Di balik keberhasilan Winongan tersebut, ada sosok Lukman Hakim, Kepala Desa Prodo, Kecamatan Winongan, yang ikut menggerakkan persiapan hingga pelaksanaan karnaval.
Menariknya, Lukman sempat ragu ketika diminta mewakili Kecamatan Winongan.
Pasalnya, pelaksanaan Pasuruan Carnival bertepatan dengan haul besar di wilayah Winongan. Mayoritas warga Desa Prodo hingga masyarakat di beberapa desa di Kecamatan Winongan juga terlibat dalam kegiatan tersebut.
“Saya awalnya menyampaikan kepada Pak Camat, saya tidak bisa. Warga benturan dengan adanya haul,” kata Lukman saat ditemui wartabromo.com, Rabu (23/9/2026).
Warga Prodo setiap tahun dipercaya membantu pelaksanaan haul, termasuk menyiapkan konsumsi. Bahkan, menurut Lukman, warga mendapat bagian menyiapkan puluhan kambing untuk kegiatan tersebut.
Kondisi itu membuat keterlibatan warga Prodo dalam karnaval sempat diragukan.
Namun, jalan keluar kemudian ditemukan melalui musyawarah di tingkat kecamatan.
Muncul usulan melibatkan anak-anak Paskibra dan Karang Taruna. Keduanya kemudian menyatakan siap mengikuti kegiatan tersebut.
Satu syarat disampaikan kepada Lukman. Prodo diminta menjadi penggerak utama dalam konsep yang akan dibawa.
Lukman pun menyanggupi, tetapi dengan prinsip bahwa persiapan dilakukan secara bersama-sama.
“Saya bilang, saya tidak sendirian. Kita itu tidak ada guru, kita belajar bersama. Mana yang baik kita ambil, mana yang enak kita ambil. Kita kolaborasi,” ujarnya.
Sebelum persiapan dimulai, Lukman bahkan berulang kali memastikan kesanggupan para peserta.
Lima kali pertanyaan yang sama ia lontarkan. Sanggup atau tidak?
Jawabannya tetap sama, sanggup.
Hingga akhirnya Lukman menyampaikan satu hal terakhir, yakni tidak ada bayaran bagi mereka yang terlibat.
Jawabannya justru membuatnya semakin yakin.
“Siap, Pak. Saya senang, Pak,” begitu jawaban yang diterimanya.
Dari sana, persiapan dimulai.
Jumlah peserta disesuaikan dengan ketentuan, sekitar 75 orang termasuk ofisial. Sekitar 70 orang menjadi peserta utama, sedangkan lima lainnya bertugas sebagai pendukung, termasuk pengawalan dan sound system.
Waktu persiapan hanya sekitar 20 hari.
Dalam waktu tersebut, mereka harus menentukan konsep, membuat properti, menyiapkan kostum hingga menyusun alur pertunjukan.
Setelah melalui musyawarah, mereka sepakat tidak sekadar membuat defile dengan kostum. Winongan memilih menggunakan konsep live dan teatrikal.
Pilihan tema pun kemudian menjadi bagian penting dari persiapan.
Sebenarnya, ada sejumlah potensi cerita dari Winongan yang bisa diangkat. Mulai Banyu Biru, sumber Umbulan, wisata religi Mbah Semendi hingga tradisi Terbang Jidor.
Namun, pilihan akhirnya mengerucut pada keberadaan situs pabrik gula di Desa Bandaran.
Dari sana, mereka menggali berbagai informasi mengenai sejarah pabrik gula tersebut.
Lukman menyebut, berdasarkan informasi yang diperolehnya, keberadaan pabrik gula di Bandaran berkaitan dengan masa tanam paksa pada sekitar 1825 hingga 1830-an, saat wilayah tersebut masih berada dalam masa kolonial Belanda.
Ia juga menyebut terdapat cerita mengenai perpindahan pabrik gula tersebut ke wilayah Kedawung.
Namun, Lukman mengakui informasi mengenai sejarah tersebut masih berdasarkan cerita dan informasi yang diperolehnya.
“Terkait benar dan tidaknya, saya tidak paham. Saya cuma dapat informasi seperti itu,” katanya.
Menurut Lukman, sejumlah jejak keberadaan pabrik gula tersebut masih dapat ditemukan di Desa Bandaran. Di antaranya sisa bangunan dan sejumlah tanah yang disebut masih berkaitan dengan jalur lori pengangkut hasil tebu.
Jejak sejarah itu kemudian mereka hidupkan kembali melalui teatrikal.
Dalam pertunjukan, warga pribumi digambarkan mengalami tekanan dan penyiksaan dalam praktik tanam paksa. Narasi disisipkan di tengah adegan untuk memperkuat cerita.
Bagi Lukman, teatrikal tersebut bukan sekadar pertunjukan.
Ada pesan yang ingin disampaikan kepada masyarakat, terutama generasi muda.
“Saya tidak mau tampil asal tampil. Saya berharap kita memberikan tontonan yang ada sejarahnya, tontonan yang bermakna. Tidak hanya sekadar tampil,” tuturnya.
Menurutnya, sejarah lokal penting untuk terus diperkenalkan agar tidak hilang dari ingatan generasi berikutnya.
“Mumpung ada kesempatan, ayo kita tampil. Apalagi ini mengangkat sejarah yang mungkin generasi sekarang sudah mulai buta dengan sejarah. Kita coba angkat supaya bisa mengenang,” ujarnya.
Setelah seluruh persiapan dilakukan, rombongan Winongan akhirnya tampil dalam Pasuruan Carnival 2026.
Pengumuman juara menjadi puncak dari seluruh proses tersebut.
Winongan dinyatakan sebagai juara pertama.
Lukman mengaku tidak menyangka bisa meraih posisi tersebut. Terlebih, ia menilai seluruh peserta memiliki konsep dan penampilan yang bagus.
“Tidak menyangka juara satu. Lawannya bagus-bagus. Dapat kabar juara satu, ya bersyukur dari hasil totalitas tim,” katanya.
Bagi Lukman, kemenangan tersebut bukan semata soal hadiah.
Ia mengaku sudah terbiasa mengikuti kegiatan kebudayaan dan perayaan di Kecamatan Winongan. Dalam sejumlah kegiatan PHBN, kelompok yang dipimpinnya bahkan beberapa kali meraih juara.
Baginya, yang lebih penting adalah pengalaman dan pesan yang bisa diberikan kepada masyarakat melalui setiap pertunjukan.
“Saya tidak berharap berapa besar hadiahnya. Memang dari dulu seperti itu. Yang penting memeriahkan, memberikan pendidikan kepada anak-anak,” ujarnya.
Pasuruan Carnival 2026 pun akhirnya menjadi lebih dari sekadar panggung kreativitas antar-kecamatan.
Bagi Winongan, karnaval tersebut menjadi ruang untuk membawa kembali cerita masa lalu ke tengah masyarakat.
Sejarah tentang tanam paksa yang selama ini hanya tersimpan dalam cerita dan jejak situs lama, kali ini dihidupkan melalui kostum, musik, narasi dan teatrikal. (don)





















