Probolinggo (WartaBromo.com) — Aktivitas pelayaran di perairan sekitar Probolinggo perlu memperhatikan perkembangan cuaca dalam beberapa hari ke depan.
Di Selat Madura, tinggi gelombang diperkirakan mencapai 1,3 meter, disertai angin dengan kecepatan maksimum 28 knot atau sekitar 52 kilometer per jam.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Probolinggo bersama Pos TNI AL (Posal) Paiton dan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas IV Probolinggo.
Ketiga instansi itu mengingatkan nelayan, pemilik kapal, serta nakhoda untuk mempertimbangkan kondisi cuaca sebelum melakukan pelayaran. Kesiapan kapal dan perlengkapan keselamatan juga diminta diperiksa sebelum keberangkatan.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo R Oemar Sjarif mengatakan, informasi cuaca perlu menjadi dasar dalam menentukan aktivitas di laut.
“Utamakan keselamatan dan pantau perkembangan cuaca,” kata Oemar, Senin (28/9/2026).
Peringatan tersebut mengacu pada prakiraan cuaca maritim BMKG Stasiun Meteorologi Kelas I Maritim Tanjung Perak Surabaya.
Dalam prakiraan yang berlaku pada 29 September 2026 mulai pukul 07.00 WIB selama 24 jam, Selat Madura diprediksi mengalami cuaca cerah berawan. Angin dominan bertiup dari timur dengan kecepatan maksimum 28 knot atau 52 kilometer per jam.
Adapun tinggi gelombang diperkirakan berada pada kisaran 0,5-1,3 meter.
Kondisi berbeda terdapat di wilayah perairan selatan Jawa Timur. Tinggi gelombang diperkirakan mencapai 1,3-2,9 meter dengan kecepatan angin maksimum 27 knot atau sekitar 50 kilometer per jam.
Sementara itu, di Laut Jawa bagian timur, gelombang diperkirakan mencapai 0,8-1,6 meter. Kecepatan angin maksimum diperkirakan 30 knot atau sekitar 56 kilometer per jam.
Komandan Posal Paiton Kapten Laut (P) Jumadi mengatakan, informasi mengenai kondisi laut perlu diperbarui sebelum nelayan berangkat. Pemantauan juga perlu dilakukan selama kapal berada di perairan.
“Cek cuaca sebelum berangkat dan selama pelayaran,” ujar Jumadi.
Menurut dia, nelayan sebaiknya tidak memaksakan diri melaut apabila kondisi perairan tidak mendukung. Hujan lebat, angin kencang, dan petir menjadi kondisi yang perlu diwaspadai.
“Jika kondisi tidak kondusif, tunda keberangkatan,” katanya.
Selain cuaca, kondisi kapal dan peralatan keselamatan juga perlu mendapat perhatian. Mesin, badan kapal, alat navigasi, pelampung, serta jaket keselamatan perlu dipastikan dalam kondisi baik.
“Periksa kapal, mesin, dan perlengkapan keselamatan,” kata Jumadi.
Apabila terjadi perubahan cuaca yang signifikan ketika kapal sudah berada di laut, awak kapal diminta segera berkoordinasi dengan Syahbandar terdekat. Informasi mengenai kondisi tersebut juga perlu disampaikan kepada kapal lain di sekitar.
KSOP Kelas IV Probolinggo turut mengeluarkan imbauan keselamatan dan keamanan pelayaran. Peringatan itu ditujukan kepada pihak-pihak yang melakukan aktivitas pelayaran agar mengantisipasi perubahan kondisi cuaca.
Kepala KSOP Kelas IV Probolinggo I Gusti Agung Komang Arbawa mengatakan, perangkat navigasi kapal dapat digunakan untuk membantu memantau perkembangan cuaca di sekitar jalur pelayaran.
“Manfaatkan perangkat navigasi untuk memantau cuaca,” ujarnya.
Untuk kapal pengangkut penumpang, Arbawa juga mengingatkan operator agar memastikan jumlah penumpang tidak melampaui kapasitas kapal dan sesuai dengan daftar manifest.
“Pastikan penumpang sesuai kapasitas dan manifest,” katanya.
Prakiraan cuaca tersebut menjadi salah satu informasi yang perlu diperhatikan sebelum aktivitas pelayaran dilakukan.
Dengan memperbarui informasi cuaca, memeriksa kesiapan kapal, dan membawa perlengkapan keselamatan, risiko yang mungkin muncul akibat perubahan kondisi laut dapat diantisipasi sejak awal. (fat/saw)





















