Laporan : Akhmad Romadoni
Derak kruk besi terdengar beradu dengan deru kendaraan di pinggir jalan raya Pasuruan. Di bawah terik matahari sore, sekelompok pria berkumpul untuk melakukan aktivitas yang mungkin dianggap tak biasa oleh sebagian orang: bermain sepak bola.
Sebagian dari mereka kehilangan satu kaki. Ada pula yang kehilangan lengan akibat kecelakaan. Namun, kondisi fisik tersebut tak menyurutkan semangat mereka untuk kembali merasakan keseruan mengolah si kulit bundar.
Mereka adalah anggota Bina Juang Sport Club, komunitas sepak bola amputasi di Pasuruan. Bagi mereka, lapangan bukan sekadar tempat berolahraga. Lebih dari itu, lapangan hijau menjadi ruang untuk memulihkan kepercayaan diri, menghilangkan rasa minder, sekaligus belajar berdamai dengan keadaan.
Di tempat inilah mereka menemukan kembali sesuatu yang sempat hilang setelah musibah merenggut sebagian anggota tubuh: semangat untuk menjalani kehidupan.
Berawal dari Empati dan Pengalaman Pribadi
Di balik terbentuknya Bina Juang Sport Club, ada sosok Febrian Eko Surdiantoro atau akrab disapa Mas Febri. Pria yang berprofesi sebagai pendidik sekaligus pelatih ini merupakan salah satu perintis dan pendiri komunitas tersebut.
Gagasan membentuk wadah sepak bola amputasi itu berangkat dari pengalaman pribadinya. Febri merupakan pencinta sepak bola. Namun, cedera serius yang dialaminya membuat impian untuk terus bermain harus terhenti.
Ia mengalami cedera ligamen lutut, yakni anterior cruciate ligament (ACL) dan posterior cruciate ligament (PCL). Kondisi tersebut membuat dokter menyarankannya untuk memilih cabang olahraga lain.
Pengalaman itu membuat Febri memahami bagaimana rasanya kehilangan kesempatan untuk melakukan aktivitas yang dicintai.
“Saya ini orang bola, basic saya pendidik dan pelatih. Ketika dokter menyuruh saya memilih cabang olahraga lain karena cedera ACL dan PCL, saya paham betul bagaimana rasanya ketika impian bertanding itu terhenti,” kenangnya.
Keinginan membentuk komunitas semakin kuat ketika Febri kerap melihat seorang tetangganya yang memiliki keterbatasan fisik datang ke lapangan hanya untuk menyaksikan orang lain bermain sepak bola.
Dari situ muncul gagasan untuk mengumpulkan teman-teman disabilitas dan menyediakan wadah agar mereka juga bisa merasakan pengalaman bermain sepak bola.
Nama Bina Juang pun dipilih dengan filosofi tersendiri. Bina dimaknai sebagai pembina, sedangkan juang merujuk pada para anggota yang dianggap sebagai pejuang.
“Kami berusaha menjadi pembina yang menjadi jalan bagi para pejuang. Anak-anak didik dan teman-teman yang bergabung adalah pejuang. Di sini tidak ada yang mengandalkan satu atau dua orang, kita semua saling mendukung dalam satu kesatuan,” tegasnya.
Perjalanan Bina Juang dimulai pada 2025. Saat itu, latihan perdana hanya diikuti dua orang. Namun, perlahan komunitas ini berkembang. Memasuki akhir 2026, jumlah anggotanya bertambah menjadi belasan orang hingga memungkinkan mereka berlatih menggunakan format pertandingan 7 lawan 7.
Anggotanya berasal dari sejumlah wilayah di Kabupaten Pasuruan, mulai Lekok, Grati, Winongan, Gondangwetan, Wonorejo, Kraton hingga Beji. Bahkan, komunitas ini juga menjadi tempat berlatih bagi pemain dari daerah sekitar, seperti Sidoarjo dan Probolinggo.
Untuk mengembangkan komunitas, Febri tak segan mencari referensi dari daerah yang lebih dahulu memiliki tim sepak bola amputasi. Ia belajar dari Bogor dan Jakarta, serta sejumlah daerah di Jawa Timur, seperti Jember yang menjadi salah satu gudang pemain Timnas Amputasi, Persas Surabaya, dan Persama Malang.
Kehadiran Bina Juang juga mendapat sambutan positif dari pengurus Persatuan Sepak Bola Amputasi Indonesia (PSAI) Jawa Timur.
Robi, Kehilangan Kedua Tangan dan Menemukan Semangat Baru
Di antara belasan anggota Bina Juang, ada kisah Ahmad Ghoirobi atau Mas Robi. Pemuda berusia 20 tahun asal Desa Plososari, Kecamatan Grati, ini menjadi salah satu anggota yang masih menjalani proses pemulihan mental setelah mengalami kecelakaan kerja.
Robi baru dua tahun lulus dari SMK dan bekerja di sebuah pabrik di Gresik. Namun, kehidupannya berubah drastis setelah mengalami kecelakaan kerja pada 4 Agustus lalu. Musibah tersebut mengakibatkan kedua tangannya harus diamputasi hingga bagian atas.
Kondisi itu bukan hanya mengubah aktivitas fisiknya, tetapi juga berdampak pada kondisi psikologisnya.
Febri menyebut, pemulihan mental menjadi salah satu tantangan terbesar yang harus dihadapi Robi. Apalagi, usianya masih sangat muda dan memiliki masa depan yang panjang.
“Paling sulit itu pengobatan mentalnya,” ujar Febri saat menceritakan awal pertemuannya dengan Robi secara tidak sengaja di jalan.
Menurut Febri, Robi masih harus menjalani terapi rutin di rumah sakit di Surabaya untuk mengatasi trauma sekaligus memulihkan kondisi mentalnya.
Bergabung dengan Bina Juang kemudian menjadi salah satu titik balik bagi Robi. Bertemu dengan orang-orang yang memiliki pengalaman serupa membuatnya merasa tidak lagi sendirian menghadapi keadaan.
“Awalnya ya pasti ada rasa minder, trauma, dan sempat drop mentalnya. Tapi setelah datang ke sini dan kumpul sama teman-teman yang bernasib sama, rasanya jadi beda. Kita saling menguatkan, jadi tidak merasa sendirian lagi. Senang banget bisa berolahraga lagi dan pelan-pelan mengobati rasa trauma,” tutur Robi.
Di Bina Juang, Robi tak hanya mendapatkan kesempatan berolahraga. Ia juga menemukan lingkungan yang membuatnya lebih mudah menerima keadaan dan membangun kembali kepercayaan dirinya.
Dukungan sesama anggota yang pernah mengalami musibah serupa menjadi kekuatan tersendiri dalam proses pemulihannya.
Sodikin, Tak Pernah Minder Meski Disabilitas Sejak Lahir
Kisah berbeda datang dari Sodikin Akbar, warga Desa Semedusari, Kecamatan Lekok. Jika Robi masih berjuang memulihkan trauma akibat kecelakaan, Sodikin justru telah terbiasa menjalani kehidupan dengan kondisi disabilitas sejak lahir.
Keterbatasan fisik tak pernah membuatnya meninggalkan olahraga. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, ia sudah aktif bermain berbagai cabang olahraga bersama teman-temannya yang non-disabilitas.
Mulai sepak bola, bola voli, sepak takraw hingga bulu tangkis pernah dicobanya.
Bahkan, ketika bermain sepak bola, Sodikin mengaku tak selalu menggunakan kruk atau alat bantu. Ia bermain sebagaimana teman-temannya yang lain.
“Dulu kalau main bola ya seperti orang biasa, tidak pakai kruk atau alat bantu. Kalau orang lain melihat ya kelihatan cacat, tapi kalau menurut saya, dianggap orang biasa saja. Saya tidak malu, malah senang banget bisa main bareng,” kata Sodikin dengan wajah berseri.
Bergabung dengan Bina Juang menjadi pengalaman baru baginya. Untuk pertama kalinya, ia bisa menyalurkan kegemarannya dalam sepak bola amputasi melalui komunitas yang lebih terorganisasi.
“Saya senang, banyak teman baru. Dan sekarang sudah dibantu dengan alat ini,” jelasnya.
Kehadiran Sodikin juga menjadi inspirasi bagi anggota lain, terutama mereka yang baru mengalami kecelakaan dan masih berusaha menerima kondisi fisiknya.
Berlatih Gratis, Berjuang dengan Dana Pribadi
Membangun tim sepak bola amputasi bukan perkara mudah. Selain keterbatasan fasilitas, para pelatih yang seluruhnya merupakan non-disabilitas juga harus mempelajari teknik dan karakteristik permainan sepak bola amputasi.
Febri bersama tim pelatih belajar melalui internet dan media sosial. Mereka juga mencoba mempraktikkan gerakan menggunakan kruk agar bisa memahami keterbatasan, kemampuan, serta pola pergerakan para pemain.
Pada awal pembentukan, pengadaan kruk dan peralatan latihan bahkan menggunakan dana pribadi Febri.
Ia mengaku tak ingin membebani para anggota dengan biaya apa pun. Sebab, untuk datang ke tempat latihan saja, menurutnya, sudah menjadi bentuk semangat yang patut diapresiasi.
“Awalnya dari saya pribadi. Tidak mungkin teman-teman dengan keadaan seperti ini kita bebani suruh beli alat. Mau datang ke tempat latihan saja itu sudah sangat bagus. Makanya di Bina Juang ini 100% free, gratis tanpa pungutan biaya apa pun,” tegas Febri.
Perjuangan mengumpulkan anggota juga tak selalu berjalan mulus. Febri mengaku beberapa kali mengalami penolakan ketika mendatangi rumah warga penyandang disabilitas untuk mengajak bergabung.
Sebagian keluarga maupun calon pemain masih merasa malu dan memilih menutup diri dari lingkungan luar.
Padahal, menurutnya, salah satu tujuan utama Bina Juang adalah menyediakan ruang agar penyandang disabilitas bisa kembali bersosialisasi, berolahraga, dan membangun kepercayaan diri.
Kini, seiring bertambahnya anggota, Bina Juang mulai mendapat dukungan peralatan latihan dari PSAI Jawa Timur. Meski demikian, kebutuhan fasilitas masih menjadi pekerjaan rumah.
Mereka berharap ada dukungan dari pemerintah maupun para pemangku kepentingan, terutama untuk pengadaan alat bantu atau kruk yang sesuai standar pertandingan internasional seperti yang digunakan pemain Timnas Sepak Bola Amputasi Indonesia.
Berharap Lahir Pemain Timnas dari Pasuruan
Bagi Bina Juang, perjalanan komunitas ini bukan semata-mata tentang membentuk tim sepak bola. Ada misi lebih besar yang ingin diwujudkan, yakni membantu para penyandang disabilitas kembali percaya diri dan tidak kehilangan kesempatan untuk berkarya.
Robi pun mengajak para penyintas kecelakaan maupun penyandang disabilitas yang masih merasa minder agar tidak terus mengurung diri.
“Buat teman-teman di luar sana yang masih trauma atau belum berdamai dengan keadaan, jangan malu dan jangan minder. Ayo kumpul dan bergabung di Bina Juang, kita semangat bareng-bareng di sini,” pesannya.
Febri juga berharap semakin banyak pihak yang tergerak untuk memberikan ruang dan dukungan kepada penyandang disabilitas.
Ia menegaskan, Bina Juang hadir bukan untuk menunjukkan siapa yang paling mampu, melainkan menjadi tempat bagi siapa saja yang ingin kembali bangkit melalui olahraga.
“Kami hadir di sini bukan untuk menunjukkan siapa yang paling mampu, karena keilmuan dan fasilitas kami pun terbatas. Kami hanya ingin memberikan wadah. Untuk teman-teman disabilitas yang masih belum berdamai, ayo, banyak orang baik di luar sana yang peduli. Kami di Bina Juang siap memfasilitasi semuanya,” ujarnya.
Ia juga merasa terbantu dengan penyediaan lapangan untuk para pejuang sepak bola disablitas tersebut. “Iya itu juga, lapangan ini mendalan winongan, ini gratis kita bisa latiha disini sama-sama,” tegasnya.
Ke depan, ia berharap Bina Juang bisa berkembang dan melahirkan pemain-pemain sepak bola amputasi yang mampu menembus Timnas Indonesia.
“Harapan kami, suatu hari nanti lahir pemain-pemain Timnas Sepak Bola Amputasi Indonesia dari Kabupaten Pasuruan dan sekitarnya. Tidak ada alasan untuk berhenti berkarya dan berprestasi,” pungkasnya.
Di lapangan itu, setiap ayunan kruk dan sentuhan bola menjadi bukti bahwa kehilangan anggota tubuh bukan berarti kehilangan kesempatan untuk bermimpi. Sebab, kaki boleh diamputasi, tetapi semangat untuk terus berjuang dan meraih prestasi tak seharusnya ikut terhenti.
“Jadi tidak ada alasan untuk berhenti, berkarya dan berprestasi,” tutup Febri. (don)





















