Laporan : Akhmad Romadoni
Berawal dari berjualan tas anyaman milik pemasok, Ayu kini mengembangkan usaha kerajinan sendiri dengan melibatkan puluhan perempuan di sekitarnya. Dari rumahnya di Dusun Terate, Desa Karang Sentul, Kecamatan Gondangwetan, Kabupaten Pasuruan, tas-tas buatan tangan itu dipasarkan hingga ke luar negeri, termasuk Malaysia dan Turki.
Di balik tas dengan beragam model dan warna tersebut, ada tangan-tangan perempuan yang mengerjakannya di sela aktivitas rumah tangga. Sebagian menganyam pada siang hari, sementara lainnya memanfaatkan waktu luang pada malam hari untuk menambah penghasilan keluarga.
Ayu, pemilik usaha tas anyaman Ionshop Pasuruan, memulai usahanya pada 2021, menjelang berakhirnya pandemi Covid-19. Saat itu, dia menjual kembali tas dari pemasok. Peluang mulai terbuka ketika permintaan suvenir dan hampers meningkat, terutama menjelang peringatan Maulid Nabi.
“Dulu itu jualan tas anyaman ambil ke suplier. Lambat laun orderan semakin banyak, akhirnya saya harus mencari pengrajin di sekitarnya,” ujar Ayu.
Awalnya, Ayu hanya dibantu beberapa orang, termasuk anggota keluarga. Dia menangani pemasaran melalui marketplace, siaran langsung atau live streaming, hingga pengemasan pesanan. Sementara itu, empat perajin mengerjakan tas sesuai pesanan yang masuk.
Seiring waktu, permintaan terus berkembang. Ayu pun mengajak lebih banyak perempuan di lingkungan sekitar untuk belajar menganyam. Mereka tidak harus memiliki keterampilan sejak awal karena proses pengerjaan dipelajari secara bertahap.
“Saya dekati ibu-ibu. Saya tanya, mau bikin tas anyaman tidak? Awalnya ada yang bilang ruwet, tetapi saya bilang nanti diajari sampai bisa,” tuturnya.
Kini, sekitar 50 hingga 55 perempuan terlibat dalam produksi tas tersebut. Mereka berasal dari sejumlah wilayah, di antaranya Klinter, Sambicilik, Ngayam, Tembok, hingga Pasrepan.
Salah satu perajin yang merasakan peluang dari usaha tersebut adalah Sulistiyana. Dia mengerjakan tas anyaman dari rumah dengan menyesuaikan waktu dan kemampuannya.
“Dulu diajari sama ayu. Tapi kok susah, akhirnya sama suami di rumah,” kata Sulistiyana.
Dalam sehari, ia mampu menghasilkan sekitar 10 tas berukuran kecil. Sementara untuk tas berukuran besar, produksinya rata-rata lima buah sehari. Jumlah itu bergantung pada bahan dan tingkat kesulitan model yang dikerjakan.
“Kalau saya sehari bisa bikin 10 pcs kalau kecil. Kalau besar lima pcs,” kata Sulistiana.
Menurutnya, ukuran tas tidak selalu menentukan mudah atau sulitnya pengerjaan. Jenis bahan yang digunakan juga berpengaruh terhadap proses menganyam.
“Tingkat kesulitannya dari bahan. Kalau kecil susah,” imbuhnya.
Setiap tas memiliki upah pengerjaan berbeda. Untuk model tertentu berukuran kecil, perajin mendapat upah sekitar Rp 1.500 per buah, sedangkan tas berukuran lebih besar sekitar Rp 2.000. Upah dapat meningkat apabila perajin mampu memenuhi target produksi yang ditetapkan.
“Setor 3 hari sekali. Gajian 3 hari sekali itu,” jelasnya.
Bagi para perempuan yang mengerjakannya dari rumah, pekerjaan tersebut menjadi pilihan untuk memperoleh penghasilan tanpa harus meninggalkan aktivitas sehari-hari.
Ayu mengaku, para perajin bahkan kerap merasa kehilangan kesibukan ketika bahan untuk dikerjakan sedang berkurang. Bagi mereka, menganyam bukan sekadar aktivitas pengisi waktu luang, tetapi juga sumber pemasukan tambahan.
“Kalau tidak ada tas anyaman, ibu-ibu kadang mengeluh. Mereka bilang, ‘Duh, ngeluh aku kalau tidak menganyam,’” ujar Ayu menirukan keluhan para perajin.
Namun, jumlah pekerjaan yang dibagikan tetap mengikuti permintaan pasar. Ketika pesanan menurun, bahan yang diberikan kepada perajin juga dikurangi. Sebaliknya, menjelang Maulid Nabi dan Lebaran, permintaan dapat meningkat hingga membuat para perajin kewalahan menyelesaikan pesanan.
Tas yang diproduksi Ionshop memiliki beragam bentuk, ukuran, dan bahan. Ada tas bertali panjang, tas bertali pendek, tas untuk suvenir hajatan, hingga model yang mengikuti permintaan konsumen.
Bahan yang digunakan antara lain plastik, bahan anyaman, bambu, serta bahan lain untuk model tertentu. Harganya bervariasi, mulai dari ribuan rupiah hingga puluhan ribu rupiah per buah.
Tas berbahan bambu dijual mulai Rp 3.000, sedangkan sejumlah model tas anyaman dibanderol sekitar Rp 5.000. Untuk model berbahan jali atau tas mutiara dengan tali panjang, harganya dapat mencapai Rp 50.000 hingga Rp 60.000, bergantung pada modelnya.
Ayu juga mulai mengembangkan model sendiri ketika produk dari pemasok tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan usahanya. Dia kemudian membeli bahan dalam bentuk gulungan untuk diolah menjadi tas sesuai rancangan yang dikembangkan bersama para perajin.
Proses tersebut tidak selalu mudah. Pada awalnya, dia harus mempelajari bentuk dasar tas, mulai dari bagian alas hingga anyaman yang membentuk badan tas. Dari percobaan itu, beragam model mulai diproduksi untuk memenuhi permintaan pembeli.
“Karena saya memang suka barang-barang unik, akhirnya mencoba bikin tas anyaman. Ternyata bisa, sampai sekarang terus membuat model-model terbaru,” katanya.
Perkembangan usaha Ayu terlihat dari meningkatnya jumlah pesanan dan luasnya jangkauan pemasaran. Selain pembeli dari Pasuruan dan sejumlah daerah lain di Indonesia, tas produksinya juga diminati konsumen dari luar negeri, termasuk Malaysia dan Turki.
Pelanggan dari Bali menjadi salah satu pasar yang rutin memesan dalam jumlah besar. Dalam sebulan, satu pelanggan dapat memesan ribuan tas, bergantung pada kebutuhan.
Ayu menyebut omzet penjualan usahanya bisa mencapai sekitar Rp 1 juta sehari. Angka tersebut merupakan omzet kotor, belum dikurangi biaya bahan baku, upah perajin, pengemasan, dan kebutuhan operasional lainnya.
“Kalau lagi rame bisa satu juta sehari,” paparnya.
Di balik pesanan dalam jumlah besar, pengemasan menjadi salah satu tantangan yang harus diperhatikan. Tas yang telah dibuat dengan rapi berisiko berubah bentuk atau peyok selama perjalanan, terutama ketika dikirim melalui jasa ekspedisi.
“Malaysia pernah, Turki juga. Kalau Turki itu kualitasnya harus benar-benar bagus, sekecil apapun kesalahan,” ungkapnya.
Ayu mengaku pernah menerima pesanan hingga 500 tas dari pembeli luar negeri. Namun, permintaan tersebut juga disertai perhatian terhadap kondisi barang agar tetap sesuai dengan contoh yang disepakati.
Kini, sebagian pembeli memilih datang langsung ke tempat produksi untuk mengambil pesanan sekaligus melihat model lainnya. Cara itu menjadi alternatif untuk mengurangi kekhawatiran terhadap kondisi tas selama pengiriman.
Bagi Ayu, perkembangan usaha tersebut bukan semata-mata tentang bertambahnya jumlah pesanan. Usaha yang dirintis sejak 2021 itu juga memberinya kesempatan membuka peluang kerja bagi perempuan di sekitarnya.
Dia berharap tas anyaman produksinya semakin dikenal dan permintaan pasar tetap terjaga, sehingga para perajin bisa terus bekerja.
“Pesan saya untuk semua UMKM, tetap semangat. Usaha itu kadang naik turun, jadi ditelateni saja. Yang penting berkah dan barokah,” ujarnya.
Di rumahnya, Ayu tetap mengurus pemasaran dan pengemasan, sementara para perajin melanjutkan anyaman dari rumah masing-masing. Dari pekerjaan yang tampak sederhana itu, mereka berusaha menjaga roda usaha tetap berjalan dan penghasilan keluarga terus bertambah.





















