Saat Takbir Diredam Demi Nyepi, Kisah Toleransi Hangat dari Lereng Tengger

16

Sukapura (WartaBromo.com) – Menjelang kalimat takbir menggema di berbagai penjuru menyambut Hari Raya Idulfitri, pemandangan berbeda justru terlihat di lereng Bromo, tepatnya di Desa Wonokerto, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.

Di wilayah yang menjadi rumah bagi komunitas Muslim Tengger ini, takbir dikumandangkan dalam suasana hening.

Keheningan tersebut bukan tanpa alasan. Umat Muslim setempat memilih menahan lantunan takbir secara terbuka.

Sebagai bentuk penghormatan terhadap umat Hindu Tengger yang tengah menjalani prosesi tapa brata penyepian dalam rangka Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948.

Suasana Desa Wonokerto pun tampak tenang dan khidmat. Alih-alih riuh suara pengeras masjid, takbir hanya terdengar lirih dari dalam, nyaris tanpa gema keluar. Di sisi lain, masyarakat bersama aparat desa, termasuk jagabaya, berjaga di sejumlah titik perbatasan.

Langkah ini dilakukan untuk memastikan prosesi Nyepi berlangsung tanpa gangguan. Penyesuaian juga dilakukan pada titik penyekatan.

Jika sebelumnya berada di halaman masjid, kini lokasi tersebut dipindahkan hingga ke depan area Hotel Yoschis, guna memberi ruang bagi warga Muslim mempersiapkan kebutuhan Lebaran.

Kepala Desa Wonokerto, Heri Dri, menyebut kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga keseimbangan antarumat beragama di wilayahnya.

Di lereng Tengger, nilai-nilai toleransi bukan sekadar slogan. Sejak dini, masyarakat telah diajarkan pentingnya saling menghormati, hidup berdampingan, dan menjaga harmoni dalam keberagaman. Meski umat Muslim tergolong minoritas, kerukunan tetap menjadi fondasi utama kehidupan sosial.

“Alhamdulillah, toleransi beragama di sini sangat kuat. Masyarakat saling menghormati, bahkan anak-anak di sekolah pun sudah memahami perbedaan satu sama lain,” ujar Ustad Muhibbin, pengasuh Kampung Quran Bromo.

Momentum berdekatan antara Nyepi dan Idulfitri tahun ini pun menjadi cermin nyata kuatnya toleransi di kawasan Tengger. Dua perayaan besar dari keyakinan berbeda berjalan berdampingan, tanpa saling mengganggu.

Masing-masing umat memberikan ruang, agar ibadah dapat dijalankan dengan khusyuk sesuai ajaran yang diyakini. (lai/saw)

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.