Perjuangan Nada, Balita 3 Tahun di Probolinggo Lawan Penyakit Langka, Butuh Transplantasi Hati

78

Besuk (WartaBromo.com) — Di sebuah rumah sederhana di Kecamatan Besuk, Kabupaten Probolinggo, seorang balita bernama Nada Putri Masruri (3) tengah berjuang melawan penyakit langka yang perlahan merusak fungsi hatinya. Harapan satu-satunya kini tertuju pada transplantasi hati yang membutuhkan biaya besar.

Hari-hari keluarga kecil ini tak lagi berjalan seperti biasa. Waktu terasa begitu berharga, seiring kondisi Nada yang terus membutuhkan penanganan medis intensif.

Putri dari pasangan M. As’ad dan Siti Aisyah, warga Desa Sumberan itu, awalnya tumbuh seperti bayi pada umumnya.

Namun, sejak usia sekitar satu setengah bulan, orang tuanya mulai menyadari adanya kejanggalan. Bagian putih matanya menguning, disertai perubahan warna tinja yang pucat.

Pemeriksaan medis menunjukkan kadar bilirubin yang tinggi. Setelah menjalani serangkaian tes lanjutan, Nada didiagnosis mengidap Atresia Bilier, kelainan pada saluran empedu yang menghambat aliran empedu dan dapat merusak hati secara progresif.

Selain itu, ia juga diketahui memiliki kelainan jantung bawaan jenis ASD secundum.

Pada usia 95 hari, Nada sempat menjalani operasi Kasai, prosedur yang umumnya menjadi penanganan awal bagi penderita atresia bilier. Namun, hasilnya belum sesuai harapan. Kondisinya tidak menunjukkan perbaikan signifikan.

Sejak saat itu, Nada harus bolak-balik menjalani perawatan. Ia kerap mengalami infeksi berulang, mulai dari demam, diare, hingga gangguan pernapasan.

Dalam kondisi tertentu, ia bahkan mengalami muntah darah dan buang air besar berdarah, tanda kerusakan hati yang semakin berat.

Di rumah, aktivitas sehari-hari pun tidak mudah. Rasa gatal akibat penumpukan bilirubin membuatnya sering menggaruk tubuh hingga luka. Perutnya membesar akibat pembengkakan organ dalam, sementara perkembangan fisiknya juga terhambat.

“Dia anak yang kuat. Kalau harus tindakan medis, seperti mengerti. Tetap menangis, tapi tidak pernah rewel berlebihan,” ujar Siti Aisyah, ibunda Nada.

Saat ini, transplantasi hati menjadi satu-satunya harapan medis untuk menyelamatkan hidup Nada. Namun, prosedur tersebut membutuhkan biaya yang tidak sedikit, mencapai ratusan juta rupiah.

Keterbatasan ekonomi menjadi tantangan besar. Sang ayah bekerja sebagai tenaga honorer dengan penghasilan sekitar Rp1 juta per bulan. Sementara ibunya yang berprofesi sebagai guru taman kanak-kanak memperoleh penghasilan sekitar Rp300 ribu per bulan.

Berbagai upaya telah dilakukan, mulai dari menjual aset hingga meminjam kepada kerabat. Namun, dana yang terkumpul masih jauh dari kebutuhan.

Selain biaya operasi, kebutuhan harian Nada juga cukup tinggi. Ia harus mengonsumsi susu khusus serta menjalani kontrol rutin ke rumah sakit di Surabaya.

Di tengah kondisi tersebut, keluarga tetap berusaha menjaga harapan. Bagi mereka, setiap hari adalah kesempatan untuk memperpanjang waktu dan memperjuangkan kesembuhan.

Keluarga membuka ruang bantuan bagi masyarakat yang ingin ikut membantu pengobatan Nada. Dukungan dapat disalurkan melalui laman donasi yang telah disediakan.

Lebih dari sekadar bantuan materi, doa dan dukungan moral menjadi kekuatan bagi keluarga untuk terus bertahan.

Bagi orang tua Nada, setiap uluran tangan bukan hanya soal bantuan, melainkan harapan agar putrinya mendapatkan kesempatan untuk hidup lebih lama dan tumbuh seperti anak-anak lainnya. (saw)

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.