Santet Syar’i untuk Maling Emas

6

“Ya santet syar’i. Nanti malam, setelah tahajjud gedruk lemah tiga kali sambil mbastu para maling itu. Yang doyan makan uang haram, kita bastu kena kangker lambung. Yang doyan perempuan, kita santet kena raja singa. Yang pesta pora dengan keluarganya, kita santet pegatan dan anak-anaknya minggat.

Oleh : Abdurrozaq

Cak Manap mengge-mengge kekenyangan di atas lincak Warung Cak Sueb. Duduk doyong seraya menyandarkan tubuhnya pada tabing warung yang reyot. Ia memang baru saja menggasak sepincuk sego jagung buatan Yu Markonah, istri Cak Sueb. Sambel terasi asli Lekok, ikan asin asli Mayangan, tahu dan tempe klepek bumbu kuning. Nikmatnya mengalahkan malam pertama. Pantas jika Cak Manap sampai khilaf, menghabiskan nasi jagung porsi kuli itu. Padahal, Cak Manap kalau makan sedikit. Kebiasaan tirakat saat mondok dulu terbawa sampai kini. Keringatnya sampai gobyos seakan baru saja menyantap menu kafe yang baru saja digerebek di ibukota negaranya.

“Halah, makan gitu saja sudah kekenyangan. Di ibukota lho, orang makan batu bara dan 47 kilogram emas masih lapar,” ujar Cak Paijo LSM moyoki Cak Manap.

“Makan batu bara? Masa ada orang makan batu bara?” tanya Cak Manap heran.

“Iya, cak, ada. Di tv dan di HP kan sedang ramai ada orang mbadog batu bara dan batangan emas sebesar monumen bara api di Monas,” sahut Mahmud Wicaksono.

“Ojo ngawe-ngawe talah, mas,”

“Lho, di negara sampeyan ini apa yang tidak ada? Semua berita buruk pasti ada di negara sampeyan ini,” tegas Mahmud Wicaksono.

“Sik ta, piye ceritane iku?” Ujar Cak Manap penasaran.

“Yo mbuh. Di berita ramai ada rumah dan kafe digerebek, dan ditemukan—diduga—hasil colongan yang gak masuk akal. Bayangkan, yang dicolong 540 miliar cak,” jelas Cak Paijo LSM.

“Dancuk, tambah lama kok makin ngawur ya. Kita para jelata, besok bisa makan saja sudah alhamdulillah. Pajak dinaikkan, segala hal dipajaki, listrik naik, biaya sekolah naik, BBM naik, beras ganti harga, lha mereka sak enak e dewe nyolong uang negara, dancuk, dancuk!” Cak Manap muntap.

“Sik cak, ini masih dugaan. Jangan menghujat dulu, nanti sampeyan diborgol karena melanggar pasal ujaran kebencian dan tindakan tidak menyenangkan,” lerai Mahmud Wicaksono.

“Lha itulah liciknya orang pintar. Bisa bikin aturan untuk melindungi kejahatan mereka, menunda-menunda pengesahan aturan perampasan hasil maling. Sedangkan orang kecil seperti kita, maiduh sedikit saja sudah dituduh tidak cinta negara lah, memberontak, lah.”

“Itu korupsi apa sih kok sampai sebanyak itu?” Tanya Cak Sueb ikut nimbrung.

“Masih belum jelas, cak. Masih diduga. Katanya sih korupsi batu bara dan apa gitu. Kalau ndak salah pencucian uang atau gimana gitu,” ujar Mahmud Wicaksono.

“Uang kok dicuci, apa ndak sobek nanti? Eman,” timpal Wak Takrip lugu.

“Pencucian uang itu hanya paribasan, wak. Gampangnya, ada orang maling, agar hasil colongannya tidak mencurigakan, dikongkalikong sehingga seakan bukan hasil colongan. Entah, saya sendiri tak tahu bagaimana caranya. Tukang cukur seperti saya, mana ada kesempatan untuk nyolong dan mencuci uang,” ujar Mahmyud Wicaksono.

“Katanya pelakunya penegak hukum ya, mas?” Tanya Cak Anwar Ojol.

“Diduga begitu,” kata Mahmud Wicaksono.

“Sampeyan ini dari tadi kok diduga-diduga terus, sih?”

“Kalau malingnya orang punya jabatan, memang harus bilang diduga, cak. Sebab kalau mereka silat lidah, membalik fakta dan memainkan pasal, bisa jadi kita yang rasan-rasan ini yang diborgol. Makanya di medsos hati-hati lho, jangan menghujat penguasa negara, bisa diborgol sampeyan,”

“Dancuk temen pancene. Makanya ayo demo! Kalau perlu bikin kerusuhan!” Cak Anwar Ojol kembali muntap.

“Kalau demo itu yang rugi negara, cak. Investor bisa kabur dan asing makin punya alasan untuk menghancurkan ekonomi kita. Yang pas itu ya, kita datangi rumah pelaku, lalu kita jotosi sampai bongko,” ujar Mahmud Wicaksono hilang kendali.

“Sik ta, apa benar geger korupsi kali ini pakai adu domba antar aparat? Yang satu mau menggeledah, yang mau digeledah minta dijaga aparat?” Tanya Cak Anwar Ojol mengintrogasi.

“Wes tah, sampeyan cari sendiri beritanya di HP. Saya ngeri kalau bicara soal ini. Anakku sik cilik cak, nanti dituduh menghina aparat negara, gelangan borgol saya,” kata Mahmud Wicaksono.

“Uwedan, emas hasil colongannya lebih berat emas di puncak Monas. Kalau pelakunya tidak dipenggal atau diserahkan kepada rakyat untuk dijotosi, lama-lama saya kok pingin pindah ke Yaman saja,” gumam Cak Anwar Ojol sangat kecewa.

“Kita tunggu saja drama berjilid-jilid di televisi dan Youtube. Ratusan kali sidang, perang bacot antar kubu, pengamat-pengamat abal-abal akan diundang stasiun televisi atau kanal Youtube, pra peradilan, perang antar pengacara, drama terduga menghilang, drama petak umpet antara tersangka dan petugas, tersangka pura-pura sakit, para pengacara mendapat job. Lalu lima belas tahun kemudian, para pelaku dihukum dua tahun penjara. Setelah dapat remisi, abolisi, amnesti, tinggal menjalani drama pura-pura dipenjara selama dua bulan. Keluar dari –pura-pura—penjara uang masih banyak dan bisa beli pulau entah di mana. Masih bisa pesan LC, bisa pesta sabu dan hohohihe dengan cewek rentalan. Lak dancuk?”

“Kadang, saya berhayal bisa menghilang atau gimana gitu. Saya cari rumah para koruptor, lalu saya encel-encel sampai jadi abon,” kata Cak Anwar Ojol.

“Halah pret! Pas ketemu koruptor, diduduhi segepok uang dolar Singapura ijo mripate sampeyan. Jangankan mengencel-encel, malah sebaliknya, sampeyan akan demo membela para koruptor seperti dulu.”

“Disantet saja,” ujar Wak Takrip santai.

“Ya syirik, wak,” ujar Mahmud Wicaksono.

“Ya santet syar’i. Nanti malam, setelah tahajjud gedruk lemah tiga kali sambil mbastu para maling itu. Yang doyan makan uang haram, kita bastu kena kangker lambung. Yang doyan perempuan, kita santet kena raja singa. Yang pesta pora dengan keluarganya, kita santet pegatan dan anak-anaknya minggat. Yang maling tapi membela diri, kita bastu kena stroke puluhan tahun,”

“Saya minta wiridnya, wak. Nanti malam akan saya lakoni,” ujar Mahmud Wicaksono semangat.

“Saya juga, wak,” ujar Cak Manap. Akhirnya, seisi warung ramai-ramai minta wirid santet syar’i untuk mengerjai para maling di ibukota negara Cak Manap sana.

*Hanya fiksi belaka, kesamaan peristiwa dan lainnya hanya rekayasa

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.