Peluru Nyasar dari Rusia

8

Dulunya, pernah berkali-kali diadakan urun rembug, tapi solusi belum ditemukan. Fenomena peluru nyasar akhirnya tenggelam, terlupakan dan rakyat seakan terbiasa. Mereka sudah terbiasa, eh terpaksa menjadi pemberani dan penyabar.

Oleh : AbdurRozaq

Salah satu kelebihan rakyat negara Cak Manap, adalah pemberani dan penyabar. Bukti mereka pemberani, sudah diakui dunia. Ada bom, ditonton. Ransum –seringkali—beracun, dimakan. Hutang negara sudah banyak, hutang lagi demi biaya program janji kampanye. Sound beresiko membuat telinga corok’en alias budek, dikerumuni bahkan joget-joget di dekatnya. Sudah banyak yang dipenjara akibat posting hoax, malah jadi konten kreator hoax demi uang receh. Sudah banyak yang dipanggil Tuhan akibat balap liar dan miras oplosan, malah makin digemari. Tak ada rakyat negara manapun yang lebih nekat daripada rakyat negara Cak Manap.

Kesabaran rakyat negara Cak Manap, juga sudah diakui dunia. ditipu penguasa berkali-kali, tetap percaya. Dibodohi buzzer penguasa sekaligus buzzer oligarki dan asing, makin percaya. Pajak dinaikkan tapi dimaling, sudah dianggap takdir. Maling uang negara senyum-senyum di televisi, tetap sabar. Diadu domba dan dibodohi konten kreator laknatullah, dianggap bukan masalah. Hidup melarat di negara super kaya dan kekayaannya dimaling terang-terangan, hanya bisa mengadu kepada Gus Allah. Tak ada yang berinisiatif memburu para maling elit seperti memburu begal motor, misalnya. Mereka sangat nerimo ing pandum. Ridho lillahi ta’ala jika kaum jelata memang sudah ditakdirkan sebagai mainan para elit politik. Ridho diadu domba oleh yang menang dan kalah pemilu di media sosial dan berita media mainstream. Bahkan, rakyat negara Cak Manap ini terbukti pemberani dan penyabar ketika beberapa waktu lalu ada peluru nyasar yang hampir mengenai bocah berusia tiga tahun.

Di warung Cak Sueb, Mahmud Wicaksono hanya geleng-geleng kepala saat menonton video viral di HP,dengan wifi colongan. Ada peluru nyasar, demikian isi video itu. Warga yang sudah puluhan tahun protes namun tak didengar, eh diintimidasi, akhirnya mensabotase jalan raya propinsi. Ya mau bagaimana lagi, hanya itu yang mereka bisa. Mengadu ke sana, diiyakan tapi belum ada solusi. Bikin video viral, takut diborgol. Akhirnya mereka yang geram, melampiaskan kegeramannya kepada sesama jelata, dengan cara memblokir jalan raya dan mengakibatkan ribuan orang terjebak macet.

“Ada peluru nyasar,” kata seseorang di video itu dengan logat khas.

“Ada tiga peluru, menembus tembok dan genteng rumah kami,” kata lainnya.

“Hampir mengenai anak saya yang masih berusia tiga tahun,” ujar seorang laki-laki yang nampak pasrah dan waswas.

“Kok bisa?” Tanya seseorang yang nampak mewawancarai ala wartawan.

“Ya tidak tahu, kami sudah lama bermukim di sini, tanah kami sudah ada sertifikatnya, tapi kok ada peluru nyasar ke sini, ya?” ujar seseorang dalam video, keheranan.

“Sebaiknya kalian pindah saja, cari lokasi yang lebih aman,”

“Sekarang tanah sangat mahal, pak. Kami bekerja hanya cukup untuk dimakan. Mana mungkin bisa membeli tanah dan membangun rumah di tempat lain,”

“Kalian mengalah saja, ini demi kepentingan yang lebih besar,” ujar seseorang yang nampaknya sedang merekam video dengan HP.

Bertahun-tahun, peluru nyasar itu memang sudah jadi fenomena musiman. Di sana, rakyat sudah dilatih mentalnya agar siap jika perang dunia ketiga kelak terjadi. Pernah seorang kakek hampir terkena peluru saat minum kopi dan ngudut. Pernah ada ibu-ibu menyapu halaman, tiba-tiba ada peluru melesat di dekatnya hingga mengenai pohon nangka. Bahkan anak berusia tiga tahun yang sedang bermain, hampir terkena peluru.

Dulunya, pernah berkali-kali diadakan urun rembug, tapi solusi belum ditemukan. Fenomena peluru nyasar akhirnya tenggelam, terlupakan dan rakyat seakan terbiasa. Mereka sudah terbiasa, eh terpaksa menjadi pemberani dan penyabar.

Para tokoh lokal yang bersuara, entah kenapa sekarang sudah tak lagi terdengar. Mungkin sudah berdamai dengan dirinya sendiri dan menganggap ini semua sudah takdir. Bisa juga, sudah diajak makan malam di sebuah restoran, lalu pulang dan berjabat tangan. Yang jelas tidak ada kabar semacam tekanan agar mereka diam. Setidaknya begitu yang ditulis media lokal. Para pendemo, tentu saja tak berani bergerak karena tak ada yang mendanai. Setidaknya begitu menurut angan-angan Mahmud Wicaksono.

Menurut analisa Cak Paijo LSM, besar kemungkinan peluru itu milik tentara Rusia.

“Kemungkinan besar, itu peluru balistik antar benua milik tentara Rusia,” ujarnya suatu kali di warung Cak Sueb. Semua orang ngakak tak percaya.

“Halah telek, cak, Mana ada pelor balistik. Kalau rudal balistik sih saya percaya,” ujar Cak Soleh Las yang lumayan rajin menonton Youtube.

“Lho, senjata Rusia itu aneh-aneh, cak. Wong bikin rudal balistik saja bisa, apalagi cuma pelor balistik,” jawab Cak Paijo LSM tak terima analisanya dibantah.

“Kejauhan kalau dari Rusia, mungkin punya Iran,” timpal Mahmud Wicaksono ikut ngelantur.

“Tidak mungkin, sebab itu berkali-kali terjadi sebelum Iran dikeroyok Amerika dan Israel.”

“Wis talah, itu pasti peluru balistik dari Rusia, sebab tidak mungkin ada yang tega mencelakakan kaum jelata,” pungkas Cak Paijo LSM.

*Tulisan ini hanya fiksi semata, kemiripan peristiwa, karakter cerita dan waktu, hanya kebetulan semata.

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.