Beras Apek untuk Rakyat

9

Semiskin-miskinnya orang tua Mahmud Wicaksono dulu, tak pernah memberinya makan dengan beras pakan ayam seperti itu. Memang pernah ibunya menanak nasi kaku bahkan nasi jagung, tapi setidaknya baunya wangi dan rasanya gurih.

Oleh: Abdurrozaq

Awalnya, Mahmud Wicaksono jengkel karena tak pernah mendapatkan bansos. Jangankan BLT, beras raskin pun tak dapat. Padahal ia pengangguran terselubung. Padahal penghasilannya tak jelas. Apalagi, ia sangat mencintai negara sekaligus taat kepada penguasa, meski penguasa berbuat seenaknya kepada para jelata seperti dirinya. Sebobrok apapun mental bangsa dan penguasanya, ia patuh bulat-bulat. Karena memang demikianlah perintah agamanya. Pokoknya right or wrong my country. Tukang cukur itu penganut paham ultra nasionalisme. Apabila ada orang mengatas namakan agama atau budaya coba-coba mengganggu negaranya, akan ia lawan. Di media sosial, ia adalah buzzer negara tanpa bayaran. Begitu ada postingan orang SDM rendah yang merongrong persatuan bangsa, akan ia maki-maki dengan bahasa kebun binatang.

Maka, sedikit pantas kalau ia jengkel saat tahu desilnya golongan lima, dan ia terblokir dari daftar penerima bansos apapun. Padahal, famili ketua RT dan lurah yang punya tiga motor dan kalung emasnya setara rantai kapal, rutin dapat berbagai bansos. Lebih jengkel lagi, saat para tetangganya di panggil ke kantor kelurahan untuk menerima bantuan beras, Mahmud Wicaksono tidak dapat undangan. Untungnya, Cak Paijo LSM yang tahu bagaimana melaratnya Mahmud Wicaksono, memberinya beberapa kilo beras saat mendapat bansos. Bergembiralah sarjana tukang cukur itu.

Beras ditanak istrinya dengan penuh suka cita. Alhamdulillah, setidaknya dua tiga hari ke depan stok beras aman. Mahmud Wicaksono memang lumayan pandai bersyukur jika sedang waras. Jangankan bisa menyimpan harta hingga tujuh turunan seperti para maling uang negara. Bisa menanak nasi hari ini saja, sudah alhamdulillah.

Nasi mengepul di atas piring. Ikan asin, sambal terasi Lekok, lamtoro dan terong pecel begitu menggugah seleranya. Memang benar kata Kanjeng Nabi, makan saat perut lapar, akan membuat makanan apapun terasa nikmat. Namun pada suapan pertama, Mahmud Wicaksono mengendus-ngendus nasi seperti pejabat mengendus potensi uang proyek yang bisa dimaling.

“Baunya kok begini?” Tanya Mahmud Wicaksono kepada istrinya.

“Namanya juga raskin, beras untuk orang miskin. Ya baunya apek,” jawab istrnya ketus.

“Jancuk, pakan ayam diberikan kepada rakyat. Bukannya aku menghina berasnya, tapi yang memberikan bantuan yang gak pokro.” Mahmud Wicaksono mengunyah nasi berbau apek, sepoh dan membuat selera makannya turun itu dengan malas. Tak lama kemudian, ia membawa piringnya menuju pintu dapur. Dipanggilnya ayam tetangga. Diberikan nasi dari beras bantuan itu. Namun gregeti. Ayam-ayam itupun mematuknya beberapa biji, lalu pergi. Mungkin juga misuh-misuh seperti Mahmud Wicaksono.

“Buang semua nasinya, dik,” perintah Mahmud Wicaksono kepada istrinya.

“Gayamu, mas. Lha nanti malam kita makan apa?” Protes istrinya.

“Sana utang beras dulu sama Yu Markonah. Sudah hidup ini kecut, masih disuruh makan beras apek. Ini penghinaan namanya.”

Mahmud Wicaksono pergi ke lapak cukur rambutnya dengan perut sedikit keroncongan. Mahmud Wicaksono memang terbiasa begitu. Ya setengan tirakat, ya memang sering tak punya beras di rumahnya.

Setelah ngutang kopi dan beberapa batang rokok eceran, Mahmud Wicaksono duduk di lincak warung Cak Sueb yang bersebelahan dengan lapak reot cukur rambutnya. Ia merenung, katanya negara Cak Manap ini sudah swasembada pangan, tapi kenapa beras pakan ayam diberikan kepada rakyat? Lha beras yang wangi dan pulen ke mana? Apa hanya ada di tembolok para penguasa? Apa di tembolok para oligarki yang tak pernah kenyang? Masa Pak Menteri menyebar berita bohong soal swasembada pangan? Konon andai perang dunia ketiga pun, stok pangan negara Cak Manap ini aman. Hutan sampai diberangus demi program swasembada pangan, hutan adat dibabat demi perluasan lahan pertanian, tapi kemana beras itu? Apa tembolok para penguasa, maling, oligarki dan antek asing memang sekemaruk itu?

Semiskin-miskinnya orang tua Mahmud Wicaksono dulu, tak pernah memberinya makan dengan beras pakan ayam seperti itu. Memang pernah ibunya menanak nasi kaku bahkan nasi jagung, tapi setidaknya baunya wangi dan rasanya gurih. Lha beras pakan ayam bantuan penguasa ini, baunya apek, rasanya sepoh, dilidah terasa seperti kerikil. Masa masih hidup dunia sudah disuguhi makanan semacam buah zaqqum saja?

Sekilas ia mempertanyakan kembali rasa nasionalismenya yang begitu membara. Apa ia bertepuk sebelah tangan? Ia mencintai negara, tapi negara tak mencintainya? Untungnya Mahmud Wicaksono sadar jika negara berbeda dengan penyelenggaranya. Ibu Pertiwi takkan pernah menghianati cinta anak-anaknya. Hanya para perompak Ibu Pertiwi saja yang merampok semuanya. Mahmud Wicaksono berpikir, andai kudeta tidak haram, akan ia sembelih para maling uang negara, para penguasa dan siapa pun yang membuat rakyat sengsara. Termasuk para perancang kudeta atas nama agama, ras atau suku.

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.