PLTS Terpasang di 4 Stasiun Daop 9, KAI Klaim Hemat Listrik hingga 22 Persen

14

Probolinggo (WartaBromo.com) – Atap sejumlah stasiun kereta api di wilayah Daerah Operasi (Daop) 9 Jember kini tidak hanya berfungsi sebagai pelindung dari panas dan hujan. Sebagian atap dimanfaatkan untuk menangkap energi matahari melalui Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI telah memasang PLTS di empat stasiun, yakni Stasiun Probolinggo, Jember, Ketapang, dan Banyuwangi.

Total kapasitas energi surya yang terpasang di empat stasiun tersebut mencapai 39 kilowatt peak (kWp).
PLTS Stasiun Probolinggo, Jember, dan Ketapang mulai beroperasi pada Desember 2023. Kapasitas masing-masing mencapai 6 kWp, 15 kWp, dan 7 kWp.

Sementara PLTS Stasiun Banyuwangi dipasang pada Maret 2025 dengan kapasitas 11 kWp.

Sistem yang digunakan merupakan on-grid, sehingga listrik yang dihasilkan panel surya dapat terhubung dengan jaringan listrik PLN. Energi tersebut digunakan untuk menunjang berbagai aktivitas di stasiun, terutama pada area pelayanan penumpang.

Mulai dari penerangan ruang tunggu, loket, hingga area publik dan ruang kerja petugas, kebutuhan listrik sebagian ditopang oleh energi yang berasal dari panel surya.

Pemanfaatan energi matahari itu juga berdampak terhadap konsumsi listrik di masing-masing stasiun.

KAI mencatat penghematan konsumsi listrik sebesar 22 persen di Stasiun Jember. Sementara penghematan di Stasiun Probolinggo mencapai 14 persen, Banyuwangi 13 persen, dan Ketapang 10 persen.

Manager Hukum dan Humas Daop 9 Jember Cahyo Widiantoro mengatakan penggunaan PLTS merupakan bagian dari strategi KAI mengoptimalkan sumber energi yang tersedia sekaligus meningkatkan efisiensi operasional stasiun.

“Energi matahari yang tersedia kami manfaatkan untuk mendukung kebutuhan listrik stasiun. Jadi, PLTS tidak sekadar menjadi fasilitas tambahan, tetapi bagian dari upaya efisiensi energi dalam operasional pelayanan,” kata Cahyo.

Menurut dia, penghematan energi di lingkungan stasiun tidak hanya dilakukan melalui pemasangan panel surya.

KAI juga mengganti penggunaan lampu konvensional dengan lampu LED yang lebih hemat energi. Selain itu, sistem penerangan di sejumlah area dikendalikan menggunakan timer agar pemakaian listrik menyesuaikan waktu dan kebutuhan operasional.

“Efisiensi dilakukan dari berbagai sisi. Penggunaan LED dan pengaturan penerangan secara otomatis kami terapkan agar konsumsi listrik lebih terukur, tanpa mengurangi kenyamanan maupun pelayanan kepada penumpang,” ujarnya.

KAI Daop 9 Jember juga membuka peluang memperluas pemanfaatan PLTS pada bangunan milik perusahaan. Prioritas diarahkan pada bangunan yang memiliki aktivitas tinggi dan membutuhkan konsumsi listrik cukup besar pada siang hari.

Selain panel surya di atap bangunan, pengembangan energi terbarukan juga diarahkan pada penggunaan lampu Penerangan Jalan Umum (PJU) berbasis solar panel.

Pengelolaan energi juga mulai diarahkan dengan dukungan teknologi digital. KAI Daop 9 Jember berencana mengembangkan sistem berbasis Internet of Things (IoT) serta Integrated Building Management System (IBMS).

Teknologi tersebut memungkinkan penggunaan energi dipantau dan dikendalikan secara lebih terukur. Data pemakaian energi dapat menjadi dasar untuk menemukan titik-titik yang masih memungkinkan dilakukan penghematan.

Bagi KAI, efisiensi energi di stasiun merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem transportasi yang lebih berkelanjutan.

Konsep tersebut tidak hanya diterapkan pada perjalanan kereta api, tetapi juga pada fasilitas yang menjadi bagian dari perjalanan penumpang.

“Transportasi berkelanjutan juga mencakup pengelolaan fasilitas pendukungnya. Karena itu, pemanfaatan energi surya, penghematan listrik, dan teknologi pengelolaan energi akan terus dikembangkan untuk mewujudkan stasiun yang lebih efisien dan ramah lingkungan,” tutur Cahyo. (lai/saw)

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.