Negeri Kebakaran, Birokrasi Jalan Pelan

18

Selepas Isya’, Gus Karimun mengundang kawan-kawannya ke warung kopi Cak Sueb. Bukan hanya kawan dekat seperti Mahmud Wicaksono, Cak Paijo LSM, Cak Soleh Las, Wak Takrip dan Cak Manap. Hampir semua jamiyyah warung kopi yang tidak ada udzur, diharap datang. Undangan disebar melalui group WA, sehingga banyak juga yang datang. Kurang lebih lima puluh orang, sehingga Cak Sueb dan Yu Markonah sedikit kewalahan mengaduk berbagai macam wedang.

Oleh : Abdurrozaq

Setelah dirasa semua datang, Gus Karimun memberi tahu maksudnya mengundang para penikmat kopi itu.

“Mohon maaf, para sedulur semua saya riwuki sebentar. Mungkin ada yang sedang istirahat, karena seharian mencari nafkah. Berjuang mencari makan buat anak istri kita, sekaligus agar bisa membayar pajak yang makin aneh-aneh dan naik.”

“Saya hanya minta tolong sebentar, kita tahlilan untuk para pahlawan lingkungan yang wafat saat memadamkan kebakaran hutan di sekitar gunung Bromo. Kita berbela sungkawa, yang sedalam-dalamnya. Semoga beliau berempat mendapat syahid. Sebab selain wafat akibat kebakaran, beliau berempat sangat mencintai setiap jengkal tanah pertiwi ini. Beliau bukan pegawai negara, namun lebih bertanggung jawab daripada mereka yang kita gaji dengan pajak.”

“Sebelum tahlilan kita mulai, apa sampeyan semua tidak keberatan?” Tawar Gus Karimun.

“Mboten, gus,” jawab beberapa orang, hampir serempak.

“Malah kalau bisa kita adakan lagi tahlilan di masjid, biar semua warga bisa ikut,” usul lainnya.

“Ngoten nggih?” Tanya Gus Karimun memastikan.

“Nggih.” Maka, dimulailah tahlilan, dipimpin oleh Wak Takrip.

Selepas tahlilan, seraya menyantap tumpeng yang disponsori Gus Karimun secara pribadi, tanpa proposal ke caleg dan partai mana pun, para jamiyyah warung kopi itu rasan-rasan ngalor-ngidul. Yang dirasani siapa lagi, kalau bukan penguasa.

“Lha iya, negara Cak Manap ini kok apes terus ya? Musim hujan, kebanjiran. Musim kemarau kebakaran. Bencana kok terus-terusan seperti ambisi politisi saja,” celetuk Cak Paijo LSM.

“Alamnya sudah tua, cak. Sudah rapuh. Jadi ya, sudah sakit-sakitan,” ujar Wak Takrip seraya menyantap ayam goreng.

“Yang menjadi pertanyaan itu, lambannya penguasa kita dalam menangani bencana. Kemarin sudah ada beberapa negara yang menawarkan bantuan untuk memadamkan kebakaran hutan. Eh, malah ruwet sama birokrasi. Api sudah melahap 637 ribu hektar lahan, sudah melalap Kalimantan, Sumatera, Sulawesi, Papua dan Jawa Timur, eh masih malu-malu menerima bantuan negara lain. Mungkin ingin terlihat gagah, bisa mengatasi bencana sendiri, malah kebakaran makin meluas,” racau Mahmud Wicaksono seraya mengunyah nasi tumpeng.

“Kok rutin ya, kira-kira terbakar sendiri, apa ada yang bakar, ya?” tanya Wak Takrip lugu.

“Saya juga berpikir begitu, wak,” jawab Mahmud Wicaksono. “Kalau terbakar sendiri, masa sampai ada hampir seribu titik api? Masa ada banaspati yang sengaja membakar hutan?”

“Banaspatinya ndas ireng, mas. Sejak dulu sudah ada banaspati, tapi kok kebakaran hutan tidak sesering sekarang?” Ujar Wak Takrip.

“Mungkin banaspatinya mau membuka lahan sawit atau membuka lahan tambang ilegal, Wak Takrip,” ujar Gus Karimun.

“Secara logika, sepanas apapun musim kemarau, kalau cuma pohon bergesekan takkan menimbulkan kebakaran,” kata Cak Soleh Las. Mungkin ada pendaki membuat api unggun dengan sembrono. Mungkin ada warga membakar rumput di lahan garapan. Dan yang paling mungkin, penguasaha atau penguasa sengaja membakar hutan untuk menambah lahan jarahan mereka.”

“Hus! Gak ilok cak! Jangan hanya menuduh penguasa. Mereka sudah sering dituduh yang bukan-bukan,” ujar Wak Takrip.

“Kalau melihat drama pemadamannya yang seperti setengah hati, patut dicurigai juga, wak,” timpal Cak Paijo LSM.

“Lho, para penguasa sudah menerjunkan 66 ribu petugas gabungan lho, Cak Paijo,” Lerai Gus Karimun.

“Untuk lahan seluas itu, jumlah petugasnya kurang, gus. Coba kalau seluruh orang berseragam keki yang suka ngopi saat jam kantor ikut diterjunkan, insya Allah bisa mengatasi,” kata Cak Paijo LSM.

“Ya belum tentu, Cak Paijo. Nanti kalau mereka yang disuruh memadamkan kebakaran, prosesnya malah makin lama karena menunggu surat tugas, anggaran tunjangan dan izin ini-itu. Di lapangan pun, bisa jadi hanya malang kerik karena tidak terbiasa kerja. Dan ujung-ujungnya, menyuruh para honorer.” Semua orang yang paham ucapan Mahmud Wicaksono, ngakak.

“Anehnya, bertahun-tahun menghadapi bencana rutin, para penguasa belum juga punya petunjuk teknis agar satset menangani bencana,” ujar Cak Manap.

“Ya pantas saja, lha wong menjabat bukan karena skill, tapi karena pernah jadi tim sukses,” ujar Mahmud Wicaksono, disambut ngakak orang seisi warung.

“Dulu katanya beli pesawat dan helikopter untuk menangani bencana. Ada bencana sungguhan cuma dipakir di hanggar, mbuh lah.”

“Wah, bisa-bisa pahala kita tahlilan tadi habis semua karena ngerasani penguasa,” ujar Wak Takrip.

“Penguasa memang harus dirasani, wak. Barangkali sampai ke telinga mereka. Ini kan juga usulan. Kalau diberi usulan tetap njegideg dan plonga-plongo saja, ya lekas-lekas angkat bendera putih,” sindir Mahmud Wicaksono.

  • Tulisan hanya fiksi belaka

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.