Mengenal Bandhungan, Kesenian Khas Pasuruan yang Kini di Ambang Kepunahan

39

Bandhungan di Desa Sibon bukan sekadar pertunjukan musik. Di dalamnya terdapat sejumlah babak yang menghadirkan tari, humor, dan lakon dengan muatan sosial.

Oleh : Raga Rahmat

Di balik tabuhan kendang, terbang, dan lantunan sinden, tersimpan jejak kesenian tradisional Pasuruan yang kini kian jarang terdengar. Namanya Terbang Bandhung, atau dikenal pula sebagai Bandhungan. Kesenian ini pernah tumbuh dari Kelurahan Wirogunan, Kota Pasuruan, hingga menjangkau pelosok Kabupaten Pasuruan, termasuk Desa Sibon, Kecamatan Pasrepan.

Lebih dari sekadar hiburan rakyat, Terbang Bandhung menyimpan perpaduan musik, tari, humor, kritik sosial, hingga cerita tentang persaingan antarkelompok yang dibalut kepercayaan turun-temurun. Namun, kesenian yang dahulu hadir dalam hajatan warga dan pesta rakyat itu kini menghadapi ancaman kepunahan seiring berkurangnya pelaku dan penerusnya.

Jejak Terbang Bandhung memperlihatkan bagaimana pertemuan pengaruh Islam, tradisi Jawa, dan kebudayaan masyarakat pesisir membentuk kekayaan kesenian lokal Pasuruan.

Dalam buku Terbang Bandung Dalam Sebuah Renungan karya Suparmin (1998), Terbang Bandhung digambarkan sebagai pertunjukan yang dapat mempertemukan kelompok-kelompok kesenian untuk beradu kemampuan.

Almarhum Machfud, dalam wawancara pada 2023, menyebut Kelurahan Wirogunan sebagai salah satu titik awal berkembangnya kesenian ini sebelum dikenal di sejumlah wilayah lain, seperti Pasrepan, Kalipang, dan Winongan.

Kesaksian tersebut menempatkan Wirogunan sebagai salah satu pusat penting dalam sejarah lisan Terbang Bandhung. Pada pertengahan abad ke-20, kesenian ini juga dikenal masyarakat dengan sebutan Bandhungan.

Dari pusat kota, kesenian tersebut tumbuh di lingkungan pedesaan. Di Desa Sibon, Kecamatan Pasrepan, Bandhungan pernah menjadi bagian dari hiburan pesta rakyat maupun hajatan warga.

Kehadirannya menunjukkan bahwa kesenian tradisional ini bukan hanya milik masyarakat perkotaan. Ia juga menjadi bagian dari kehidupan sosial warga desa, diwariskan melalui para pemain, keluarga pelaku, dan masyarakat yang mengenal pertunjukannya.

Ada Gending Ewe-Ewe dan Sembilan Instrumen Musik

Salah satu ciri khas Terbang Bandhung adalah lantunan sinden yang dikenal dengan sebutan ewe-ewe.

Menurut M. Hikam Fadli, seniman muda yang meneliti kesenian tersebut, ewe-ewe merupakan gending tunggal yang dibawakan sinden dengan iringan alat musik ritmis, seperti kendang dan rebana.

Bahasa dalam lantunannya memadukan unsur Arab, Madura, dan Jawa. Perpaduan itu menjadi salah satu penanda pertemuan budaya yang membentuk kesenian tradisional di kawasan Pasuruan dan wilayah sekitarnya, termasuk Probolinggo serta Lumajang.

Sementara itu, berdasarkan penuturan Ridho, keturunan pelaku Bandhungan di Desa Sibon, kesenian tersebut diperkirakan menggunakan sembilan instrumen musik.

Perangkat itu terdiri atas dua kendang, yakni kendang lanang dan wadon; tiga terbang; dua gringsing atau ecek-ecek; serta satu terbang byang yang juga dikenal sebagai jidor.

Perpaduan instrumen tersebut membentuk irama pengiring pertunjukan. Di tengah tabuhan musik, sinden melantunkan tembang yang menjadi bagian penting dari identitas Bandhungan.

Kesenian ini biasa dipentaskan dalam berbagai acara masyarakat, mulai dari khitanan, pernikahan, hingga kegiatan bersih desa. Pertunjukan menjadi ruang berkumpul sekaligus hiburan yang dinikmati bersama.

Dari Tandak Tojuk hingga Sindiran soal Poligami

Bandhungan di Desa Sibon bukan sekadar pertunjukan musik. Di dalamnya terdapat sejumlah babak yang menghadirkan tari, humor, dan lakon dengan muatan sosial.

Menurut Ridho, pertunjukan diawali dengan bagian Asar, yakni penampilan pemain laki-laki yang membawakan Tandak Tojuk atau Rudat Lungguh.

Setelah itu, pertunjukan berlanjut ke Bapangan, sebuah gerak tari yang menyerupai tari remo khas Jawa Timuran. Bagian ini melibatkan sekitar tiga hingga empat penari yang dalam sumber penuturan disebut sebagai penari waria.

Suasana kemudian bergeser melalui Dagelan, bagian yang menghadirkan lelucon bernuansa satir. Humor menjadi salah satu cara pertunjukan menghibur penonton sekaligus menyampaikan sindiran terhadap kehidupan sosial.

Ada pula bagian pel-pelan dengan kostum yang disebut sebagai kostum “Londo” atau Belanda. Sementara itu, lakon Maru-Maruan menghadirkan cerita tanpa dialog yang mengangkat persoalan poligami.

Lakon tersebut menjadi bentuk sindiran sosial yang disampaikan melalui gerak dan adegan, bukan percakapan.

Ragam babak itu memperlihatkan bahwa Bandhungan memiliki unsur pertunjukan yang berlapis. Musik menjadi pengiring, tari menghadirkan gerak, sedangkan dagelan dan lakon menyampaikan humor serta gambaran persoalan masyarakat pada masanya.

Di sinilah Bandhungan lebih dari sekadar kesenian bunyi. Ia merekam cara masyarakat menikmati hiburan sekaligus menyampaikan kritik sosial melalui panggung tradisional.

Berontak dan Si Kumbang, Dua Kendang dengan Cerita yang Terhubung

Di antara berbagai cerita yang diwariskan para pelaku Terbang Bandhung, kisah tentang dua kendang kembar bernama Berontak dan Si Kumbang menjadi salah satu yang menarik.

Menurut penuturan almarhum Machfud pada 2023, kelompok Terbang Bandhung di Wirogunan memiliki kendang kembar bernama Berontak. Kendang tersebut dikisahkan dibuat dari batang pohon besar yang tersambar petir.

Dalam ingatan para pelaku, Berontak dikenal sebagai kendang yang tidak pernah kalah ketika kelompoknya beradu dengan kelompok kesenian lain.

Cerita tentang kendang itu juga disertai berbagai kisah yang dianggap mistis. Di antaranya, cerita mengenai tangan kelompok lawan yang mengeluarkan darah hingga alat musik yang rusak saat pertunjukan berlangsung.

Kisah serupa hidup di Desa Sibon. Berdasarkan keterangan keluarga Ridho, kelompok di desa tersebut memiliki kendang bernama Si Kumbang, yang juga dipercaya berasal dari pohon nangka tersambar petir.

Bahkan, dalam cerita yang diwariskan keluarga pelaku, kayu untuk membuat Si Kumbang disebut berasal dari pohon yang sama dengan bahan kendang Berontak di Wirogunan.

Kedua kendang itu dipercaya memiliki keistimewaan masing-masing. Berontak diyakini menunjukkan kekuatannya setelah azan Isya, sedangkan Si Kumbang disebut lebih dominan ketika tengah malam.

Cerita tersebut merupakan bagian dari kepercayaan yang menyertai perjalanan Bandhungan. Kebenaran kisah-kisah mistis itu tidak dapat dipastikan hanya melalui penuturan yang diwariskan, tetapi keberadaannya memperlihatkan bagaimana hubungan antarkelompok kesenian juga terpelihara melalui cerita tentang instrumen mereka.

Berontak dan Si Kumbang akhirnya bukan hanya nama dua kendang. Keduanya menjadi penghubung ingatan antara Wirogunan dan Sibon, antara pusat kota dan pelosok desa, serta antara kesenian yang pernah hidup dengan generasi yang kini berusaha mengenalinya kembali.

Warisan yang Terancam Tinggal Cerita

Kini, keberadaan Terbang Bandhung atau Bandhungan menghadapi tantangan besar. Kesenian yang pernah menjadi bagian dari hiburan dan kehidupan sosial masyarakat itu semakin jarang terdengar, sementara jumlah pelaku dan penerusnya terus berkurang.

Sebagian jejaknya masih tersimpan dalam buku, kesaksian para pelaku, dan ingatan keluarga yang pernah terlibat langsung dalam pertunjukan. Namun, tanpa dokumentasi yang memadai, detail tentang musik, urutan babak, instrumen, hingga cerita di baliknya berisiko hilang bersama generasi yang mewarisinya.

Upaya pelestarian karena itu tidak cukup berhenti pada penyebutan kesenian tradisional sebagai kekayaan budaya daerah. Diperlukan langkah konkret untuk merekam kesaksian para pelaku, mendokumentasikan gending dan pola tabuhan, mencatat urutan pertunjukan, serta mengumpulkan informasi mengenai instrumen yang digunakan.

Ruang belajar bagi generasi muda juga penting dibuka agar kesenian ini tidak hanya dikenal melalui tulisan, tetapi dapat dipelajari dan dipentaskan kembali.

Penelusuran dari Wirogunan hingga Sibon menunjukkan bahwa Terbang Bandhung memiliki cerita yang lebih luas daripada sekadar pertunjukan tradisional. Di dalamnya terdapat jejak pertemuan budaya, kehidupan sosial masyarakat, kritik melalui humor, serta hubungan antarkelompok yang terhubung oleh musik dan tradisi.

Ironis jika kekayaan yang telah tumbuh lama di tengah masyarakat justru terlupakan ketika daerah berupaya memperkuat identitas budayanya.

Sebab, ketika Terbang Bandhung benar-benar kehilangan para pemainnya, yang tersisa mungkin hanya nama dalam buku dan kisah tentang Berontak serta Si Kumbang. Generasi berikutnya masih bisa membaca bahwa kesenian itu pernah ada, tetapi belum tentu dapat mendengar kembali tabuhan kendang dan lantunan ewe-ewe yang dahulu menghidupkan panggung-panggung rakyat Pasuruan.

Jangan sampai upaya menyelamatkan Bandhungan baru dimulai ketika tidak ada lagi orang yang mampu memainkannya. (red)

Website with WhatsApp Message
Follow Official WhatsApp Channel WARTABROMO untuk mendapatkan update terkini berita di sekitar anda. Klik disini.