
Sukapura (wartabromo) – Meski libur tahun baru dikawasan wisata Gunung Bromo di Kabupaten Probolinggo, tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya, namun pesona matahari terbit tetap menjadi buruan wisatawan. Sunrise Bromo dipadu hujan abu vulkanis memikat pengunjung ,yang pada Jumat pagi (1/1/2016), terlihat lebih ramai dibandingkan sehari sebelumnya.
Ditengah hujan abu vulkanis, wisata Gunung Bromo tetap memancarkan pesona alam mempesona. Seperti yang terlihat di Bukit Seruni Poin atau Bukit Penanjakan Dua. Ratusan wisatawan memadati bukit berketinggian diatas 2.500 mdpl ini, menunggu sunrise atau matahari terbit muncul disela-sela perbukitan lereng Gunung Bromo.
Pelan tapi pasti, sang surya terus beranjak naik memancarkan keindahan alamnya. Momen ini pun tidak disia-siakan pengunjung yang langsung saja mengabadikan gambar dan berselfi ria hingga berfoto bersama.
Dari bukit berjarak sekitar 5 kilometer dari kawah aktif Bromo ini, pengunjung tidak hanya merasakan eksotika sunrise. Namun, juga leluasa menikmati hamparan lereng Bromo, pemukiman warga Suku Tengger, Lautan Pasir, dan tak terkecuali Gunung Bromo serta Gunung Batok.
Menurut Aminudin, salah satu wisatawan asal Palembang, destinasi wisata alam serupa tidak akan ditemui didaerah lain. Meski sempat ragu terdampak abu vulkanis, namun ia dan rekan-rekannya, membulatkan tekad tetap berkunjung dan menginap demi menikmati sunrise Bromo.
“Sangat bagus sunrisenya. Awalnya kami ragu untuk datang ke Bromo ini, setelah melihat tayangan di televisi,” ujar Aminuddin.
Kepadatan pengunjung sedikit melegakan pelaku wisata dibukit yang terletak disisi utara kawah Bromo ini. Padahal, sehari sebelumnya jumlah kunjungan sepi akibat erupsi. Di bukit Seruni Poin, hujan abu relatif ringan karena arah asap saat ini mengarah ke wilayah tenggara dan timur.
“Cukup lumayan, ketimbang sehari sebelumnya,” ujar tukang parkir Seruni Poin Sujono.
Sementara pihak Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) selaku pengelola wisata, belum dapat menghitung jumlah wisatawan. Karena penutupan lautan pasir membuat destinasi wisata terpecah ke sejumlah titik, tanpa melalui pintu tiket resmi di Cemoro Lawang. (saw/fyd)