02:45 - Senin, 20 November 2017
Minggu, 23 April 2017 | 11:21

Pil Kucing dan Isra’ Mi’raj

Seribu empat ratus lebih tahun yang lalu, memang sudah tergambar masa depan umat Kanjeng Nabi. Selain berbagai tamsil atau gambaran sepanjang perjalanan Isra’ Mi’raj, yang paling gamblang –salah satunya—minuman “jebakan” yang disuguhkan kepada Kanjeng Nabi menjelang beliau bermi’raj ke langit. Di Baitul Maqdis, Nabi disuguhi tiga macam minuman oleh malaikat. Segelas berisi minuman berwarna putih, segelas lagi berwarna keruh. Untungnya Kanjeng Nabi mendapat bocoran untuk memilih minuman yang berwarna putih. Makanya yang beliau pilih adalah susu. Seandainyaa baginda memilih minuman yang berwarna pekat, amat celakalah seluruh umat manusia ini.

“Untungnya dulu Kanjeng Nabi memilih susu saat disuguhi minuman menjelang bermikraj. Kalau beliau salah pilih homer saat itu, ndanio jadi apa kita ini.” Ujar Ustadz Karimun membuka obrolan.

“Memangnya kenapa kalau Kanjeng Nabi memilih homer, ustadz. Katanya beliau sudah dijamin sorga meski seandainya khilaf berbuat dosa?” tanya Cak Manap.

“Kita yang makin celaka. Wong Nabi milih susu saja anak-anak kita doyan pil kucing, apalagi kalau Nabi pilih khomer, bisa-bisa kita punah karena over dosis.” Timpal Gus Hafidz.

ekstasi minion

“Iya, ya?” Cak Manap godeg-godeg.

“Saya ngenes mikir anak-anak kita itu, cak” lanjut Gus Hafidz.

“Dan saya gregeten sama para pengedar yang tega menghancurkan umat hanya demi sesuap nasi. Mbok yo kerja yang lain saja?”

“Permasalahannya tak sesederhana itu, gus. Dajjal di luar sana yang paling nggeregetno sebenarnya. Kita ini mau dibikin sakit jiwa agar tak bisa apa-apa kalau mereka merampok. Proyek penghancuran itu sudah teragenda dengan matang, jangka panjang, melibatkan banyak pakar dan didanai besar-besaran. Makanya tak bisa tuntas” sergah Firman Murtado.

“Ya, benar, mas. Sayangnya kita belum juga sadar kalau itu rencana amat busuk.”

“Kita bayangkan saja, negara adidaya baru saingan Paman Sam di utara sana, berton-ton kalau menyelundupkan sabu-sabu. Targetnya ya, biar kita lekas binasa. Lha sekarang, mulai anak SD sampai DPR, mulai tukang angon bebek sampai artis sudah merata pakai narkoba, apa tidak gawat? Mau sembuh bagaimana penyakit bangsa ini kalau yang bikin undang-undang, pelaksana pemerintahan serta pengambil kebijakan sudah ndak waras akalnya karena narkoba? Apa ndak kiamat?” Firman Murtado ngeget.

“Aparat sarapan sabu, sopir nyusur ganja, birokrat kenduren heroin di hotel, artis kecanduan, mahasiwa over dosis, anak-anak sekolah nyemil pilkucing, apa lagi yang bisa diharapkan?” sambung Gus Hafidz.

“Bagaiamana tak mau korupsi wong biaya pengadaan sabu, sewa purel atau call girl dan ngontrak vila itu butuh biaya besar? Bagaimana bisa memutuskan kebijakan pro rakyat wong pas sidang sedang sakaw. Bagaimana mau tidak ngebut kalau sebelum berangkat para sopir sarapan ganja? Celakanya, anak-anak pun sudah mereka “suapi” dalam rangka melestarikan pasar. Jika masih SD sudah rajin ngemut pil kucing, SMP nanti sudah ngobong sabu. Kalau SMP nyabu, SMA sudah jadi tengkulak” geram Gus Hafidz.

“Bahkan sekarang mereka menyuapi balita agar pasar lebih panjang siklusnya” timpal Firman.

“Masa balita mau mengkonsumsi narkoba?” sanggah Mas Bambang.

“Lewat permen, mas” jawab Firman Murtado.

“Isu mas. Wong narkoba itu mahal kok mau ditaruh di permen yang hanya lima ribuan?” cibir Mas Bambang.

“Prinsip ekonomi, mas. Keluar modal sedikit buat permen campur narkoba. Saat para balita masuk SD nanti, sudah jadi pecandu berat dan menjadi pelanggan tetap.”

“Ck Ck, betul ya, saya tak pernah berpikir ke sana, mas” kilah Cak Manap geleng-geleng.

“Itu analisa sampeyan sendiri atau darimana?” Mas Bambang tak terima.

“Analisa saya sendiri.” kata Firman Murtado.

“Ndak valid, mas.”

“Ya memang, tapi logis, Mas Bambang. Kalau yang tak ada datanya dianggap ndak valid, sepi penjara” Firman Murtado mulai terpancing.

“Ndak masuk akal.”

“Para pecandu itu, awalnya juga dikasih gratis. Kalau sudah kecanduan dan ndak punya uang buat beli pil, keperawanan atau jasa kurir barternya.”

“Sampeyan kok tahu?” tanya Mas Bambang seraya tersenyum penuh arti.

“Ngalor-ngidul nyangkruk memberi saya banyak informasi.”

“Lha terus, kalau sudah gawat begini kita harus bagaimana?” potong Cak Manap melerai.

“Lha kita ini siapa? Mau bagaimana lagi wong tidak punya wewenang?” Mas Bambang menimpali.

“Laporkan!” tegas Firman Murtado.

“Kalau yang dilapori juga pemakai atau kongkalikong sama bandar?” sergah Mas Bambang pesimis.

“Tidak semuanya begitu.”

“Kebanyakan kan begitu? Lha kalau yang kita lapori juga ada main, malah kita yang celaka” kata Mas Bambang.

“Melapornya pakai anonim. Pakai SMS gelap atau kirim surat lewat pos”

“Yang paling efektif memang semua anggota masyarakat ikut aktif. Kalau ada gelagat tak beres gerebek. Kalau kita kompak, siapa yang berani macam-macam?” usul Ustadz Karimun.

“Lha kalau masyarakatnya pecandu semua, bagaimana?” kejar Mas Bambang. Semua tiba-tiba tak bisa bicara. Cep!

Penulis : Abdur Rozaq (wartabromo.com)

Komentar Anda

Komentar

Filed in

Cawet Wesi Anti Zina

Jatuh di Aspal Ndak Seenak Jatuh Cinta