Dendy Arifianto Berbagi Cerita Ketika Tiba-Tiba Hilang Penglihatan (2-Habis)

0
201

Sempat drop karena hilang penglihatan, Dendy akhirnya kembali menemukan semangatnya untuk kembali ke bangku kuliah. Ia pun berhasil lulus dengan indeks prestasi mengagumkan.

Laporan M. Asad Asnawi

Berkat pendampingan dari PSLD, Dendy akhirnya bisa melanjutkan kuliahnya. Pada akhir Desember 2016 lalu, Dendy bahkan lulus dengan nilai Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) yang cukup mengagumkan. Yakni, 3,53.

“Ini jadi bukti bahwa kami juga masih bisa bersaing dengan mahasiswa lainnya,” seloroh Dendy bangga.

Keberadaan PSLD sendiri merupakan fasilitas yang diberikan kampus kepada mahasiswa penyandang disabilitas. Selain Dendy, ada banyak penyandang disabilitas yang juga mendapat pendampingan dari lembaga ini. Kini, setelah lulus kuliah, Dendy pun banyak meluangkan waktunya dengan menjadi fasilitator atau motivator kaum difabel.

Baca juga Dendy Arifianto, Berbagi Cerita Ketika Tiba-Tiba Hilang Penglihatan

Selain itu, ia juga aktif dalam program “Ayo Inklusif” yang digagas Saujana. Juga menulis artikel dan tercatat sebagai pengurus Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni) Pasuruan. Satu karyanya berjudul “Menjelajah Belantara Baluran” bahkan pernah dimuat di salah satu media cetak nasioal.

Dendy menjelaskan, ada banyak persoalan yang menyangkut kaum difabel. Yang paling jamak, adalah perlakuan diskriminatif. Dikatakan Dendy, negara memang telah membuka ruang yang begitu besar bagi para difabel untuk agar mendapat perlakuan sama dengan kelompok masyarakat lain. Akan tetapi, nyatanya, praktik diskrimasi masih banyak dijumpai disana-sini.

Pengalaman ketika ia melakukan pendampingan terhadap siswa yang ditolak masuk sekolah SMA negeri di Malang lantaran berstatus tunanetra adalah contohnya. Beruntung, berkat pendampingan yang dilakukannya, ia akhirnya bisa diterima.

“Pemerintah memang sudah membuka ruang dengan hadirnya sekolah-sekolah inklusi agar tidak ada diskrimasi terhadap para difabel. Tapi nyatanya, tidak semua sekolah mau menjalankan itu. Bahkan sekolah berstatus sekolah inklusi sekalipun,” jelas Dendy.

Artinya, lanjut Dendy, semangat agar tidak ada diskriminasi terhadap difabel oleh pemerintah belum diikuti penuh oleh perangat yang dibawah. Hal itu pula yang secara tidak langsung menjadikan kaum difabel memilih menepi.

“Belum lagi soal pekerjaan. Berapa banyak perusahaan yang memberi kesempatan kaum difabel untuk bekerja?” kata Dendy.

Dendy menuturkan, kemajuan teknologi saat ini sejatinya banyak membantu para difabel. Termasuk penyandang tuna netra. Sayangnya, di kalangan masyarakat, masih terdapat anggapan bahwa teknologi hanya dapat diakses secara visual. Dengan begitu, mereka yang tidak mampu melihat secara visual, tidak bisa mengaksesnya.

Bagi Dendy, pemahaman tersebut keliru. Bagaimana ia ketika belajar menggunakan gawai dan laptop adalah bukti bahwa para tuna netra seperti dirinya pun, masih bisa memanfaatkan teknologi.

“Tidak ada perbedaan kalau untuk penggunaan teknologi seperti gawai maupun laptop. Mereka yang normal, memakaiya dengan melihat. Orang-orang seperti kami, bisa dengan menggunakan suara,” jelasnya.

Meski terkesan agak ribet, bagi orang seperti Dendy, hal itu sudah biasa. Dengan cara itu pula ia bisa mengerjakan tugas kuliah hingga akhirnya lulus Desember 2016 silam. Bukan itu saja. Dendy juga tidak merasa kesulitan ketika harus mengakses internet, menulis artikel. Bahkan, salah satu artikelnya yang berjudul Menjelajah Belantara Baluran pernah terbit di salah satu media cetak.
Keberhasilan Dendy keluar dari jarum kehidupan banyak mendapat apresiasi. Selain didapuk sebagai pengurus Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni) Cabang Pasuruan, Dendy juga kerap diundang sejumlah forum kegiatan. Sekadang menjadi motivator bagi penyandang disabilitas lain, atau menjadi narasumber.

Akhir April lalu, dirinya diundang ke Jember guna menjadi pembicara pada pertemuan para disabilitas di sana. Lalu, pada awal Mei, ia terbang ke Bandung untuk menghadiri kegiatan yang disponsori oleh USAID.

Menurut Dendy, perkembangan teknologi digital saat ini banyak membantunya. Bahkan, diakuinya, sebagian besar aktivitas harian yang dilakukannya, tak bisa lepas dari teknologi. Utamanya teknologi pembaca layar. Seperti chat via handphone, hingga mengetik di komputer atau laptop.

Dijelaskan oleh Dendy, banyak aplikasi digital yang saat ini bisa dimanfaatkan para tunanetra agar tetap bisa mengembangkan diri. Sebut saja urusan baca buku. Jika tidak bisa menemukan buku bacaan dalam versi suara, saat ini sudah ada aplikasi yang bisa dipakai untuk membaca buku versi cetak.

Caranya gampang. Yakni, dengan memotret teks buku versi cetak yang ingin dibaca. Selanjutnya, hasil jepretan yang tertangkap oleh kamera smartphone tersebut akan terbaca oleh program. Jika pun ada syarat lain, adalah dukungan koneksi internet yang baik. Sebab, jika tidak, proses pembacaan teks oleh software akan memakan waktu yang relatif lama.

Dikatakan Dendy, hingga kini assistance technology for the blind itu terus berkembang. Harapannya dengan adanya teknologi tersebut bisa menjadikan tunanetra melewati segala keterbatasan visual yang dialaminya.

“Pada dasarnya, hakikat teknologi kan itu, memudahkan manusia untuk melangkah lebih efesien dan efektif dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Karena itu, melihat perkembangan teknologi yang semakin canggih, bukan tidak mungkin, dalam sepuluh atau dua puluh tahun ke depan, para difabel tidak akan merasa menjadi difabel. Sebab, sudah ada teknologi yang memudahkan mereka.

Meski begitu, diakui oleh Dendy, lingkungan yang belum mendukung acapkali justru menjadi kendala bagi para difabel untuk berkembang. Misalnya saja soal urusan pekerjaan. Tidak banyak penyedia kerja yang memberikan kuota khusus kepada kaum difabel. Padahal, melalui Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas, pemerintah mewajibkan kuota 1 persen untuk swasta dan 2 persen untuk lembaga/intansi pemerintah, bagi kaum difabel ini.
Inilah yang menurut Dendy masih menjadi persoalan.

Secara umum, masyarakat masih melihat bahwa kaum difabel merupakan kelompok marjinal yang laik untuk dikasihani. Bukan pada wilayah bagaimana memberi kesempatan untuk menunjukkan kemampuan yang dimilikinya.

“Ini masih terus coba kami perjuangankan,” jelas Dendy.

Saat ini Dendy sedang fokus mencari beasiswa S2. Satu program beasiswa dari salah satu kementerian sudah lolos di lalui di tahap pertama. Sekarang Dendy masih menunggu proses selanjutnya.

Dendy sendiri bukanlah satu-satunya orang yang hilang penglihatan tiba-tiba. Berdasar informasi yang didapat WartaBromo dari berbagai sumber, kasus ablasio retina di Indonesia cukup tinggi. Dalam setahun, rata-rata kasus ablasio retina mencapai 150 ribu kasus. Setiap penderita biasanya akan merasakan banyak banyangan pada bidang penglihatan. Selain itu, cahaya yang masuk serasa berkedip-kedip. (*)