Upacara Karo ‘Cikal Bakal Manusia’ Suku Tengger

1081

images_2Tosari (wartabromo) – Suku tengger Bromo kembali melaksanakan upacara Karo yakni upacara hari raya terbesar masyarakat Tengger yang konon masih memiliki darah keturunan dengan kerajaan Majapahit, Minggu (20/10/2013).

Upacara Ritual Adat Karo dipimpin oleh beberapa orang yang dijuluki Ratu yang ditunjuk oleh kaum tengger. Bagi masyarakat Tengger julukan Ratu tidak berkonotasi perempuan sehingga ratu bisa saja berkelamin laki-laki.

Ritual karo sendiri dimulai dengan cerita pertemuan kedua orang Ratu dalam sebuah tempat yang akan dipakai sebagai tempat berlangsungnya upacara. Pertemuan tersebut menjadi tanda dimulainya Upacara Sodoran yakni salah satu bagian dari rangkaian Karo.

Perjumpaan tersebut melambangkan bersatunya roh leluhur atau cikal bakal manusia, yakni laki-laki dan perempuan.

Di Pasuruan, pelaksanaan resepsi upacara adat karo dilaksanakan secara rutin di Balai Desa/Kecamatan Tosari, termasuk tahun ini.

Jika para undangan dan tamu dipastikan telah hadir maka upacara karo dibuka dengan pembacaan mantera yang dilakukan oleh kedua Ratu setelah itu barulah diadakan upacara memandikan Jimat Kelontongan diiringi dengan tarian sodor.

Jimat kelontongan merupakan sekumpulan benda keramat. Sedangkan tarian sodor adalah sebuah tarian yang dilakukan oleh 4 orang secara bergiliran (dari semula hanya satu penari kemudian secara simultan bertambah hingga kemudian genap menjadi 4 penari dan saling berpasangan satu sama lain) yang melambangkan pertambahan generasi masyarakat Karo dari waktu ke waktu.

Usai upacara tari sodoran lalu dilanjutkan dengan upacara tumpeng gede untuk mengungkapkan perasaan syukur mereka dangan hasil panen yang melimpah dan dianugerahi tanah yang subur.

Tumpeng-tumpeng tersebut dikumpulkan dari warga, lalu dimantrakan oleh dukun adat desa setempat dan dibagi-bagikan kepada warga untuk digunakan sebagai Sesandingan. Ritual Sesandingan inilah yang diyakini masyarakat Tengger sebagai Puncak Karo.

Keesokan harinya, warga menggelar upacara Sesandingan di rumah masing-masing yang bertujuan untuk memberikan makanan atau dedaharan kepada leluhur mereka. Para dukun adat desa berkeliling mendatangi rumah warganya satu persatu untuk memimpin upacara sesandingan.

Pada hari keempat dan kelima masyarakat Tengger berkeliling kampung untuk bersilaturahmi dengan sanak kerabat mereka layaknya hari lebaran pada umat islam dilanjutkan kegiatan nyadran ke kuburan untuk nyekar kepada makam leluhur dan anggota keluarga mereka yang telah meninggal.

Makam pertama yang didatangi adalah makam kramat Sang Eyang Guru. Dukun adat melemparkan uang logam dan ayam yang telah dimanterakan sebelumnya, untuk diperebutkan anak-anak dan remaja yang hadir.

Pada hari ketujuh, dilakukan ritual ujung yakni merupakan ungkapan rasa syukur mereka karena telah berhasil dan lancar melaksanakan upacara Karo. Para pemain saling pukul dan begitu permainan usai tak ada dendam sama sekali di hati mereka meski badan perih karena pukulan rotan.

Rangkaian upacara Karo ditutup dengan mendatangi rumah dukun adat sambil membawa kemenyan untuk dimantrakan oleh sang dukun. Kemenyan itu sendiri akan dipakai oleh keluarga masing-masing dalam upacara memulangkan arwah leluhur. Dengan ritual pemulangan roh leluhur atau biasa dikenal dengan istilah Mulehi Ping Pitu tersebut, maka rangkaian upacara Karo pun berakhir. (*)