Bambu Tingkatkan Kualitas Air Sungai

2026
mahrus puspo
Mahrus Solikin

Pasuruan (wartabromo) – Hampir di setiap aliran sungai, di pedesaan maupun pegunungan hingga perkotaan, dipastikan terdapat tanaman bambu serta pohon lainnya. Namun dalam perkembangannya, keberadaan tanaman bambu terus berkurang dan saat ini jumlahnya hanya bisa dihitung dengan jari.

Mahrus Solikhin, Pemerhati Lingkungan asal Puspo, Kabupaten Pasuruan, menyadari pentingnya keberadaan bambu di sepanjang aliran sungai tersebut. Akar-akar bambu yang banyak, selain bisa menambah volume air sungai juga bisa menyaring dan mengurai zat-zat tertentu berupa limbah industri maupun rumah tangga.

“Dulu kualitas air sungai sangat bagus. Airnya jernih, segar dan jumlahnya (volume atau debit air) banyak. Tetapi sekarang tanaman bambu makin jarang dijumpai. Sehingga kualitas air sungai menurun, tanpa ada tambahan dan tidak ada penyaring limbah” tutur Mahrus, Senin (21/9/2015).

Baca Juga :   Xenia Dihantam Kereta Api di Beji, Satu Orang Meninggal Dunia

Menurut Mahrus, karena pentingnya tanaman bambu dan pepohonan lainnya, saat ini dia tengah mulai menggalakkan kembali agar masyarakat bersedia menanamnya lagi. Terutama tanaman jenis bambu dan diapun saat ini tengah memperbanyak bibitnya.

Mahrus juga meyakini, dengan banyaknya kembali tanaman bambu di pinggiran sepanjang aliran sungai, akan bisa meningkatkan kembali kualitas air. Sehingga dampak pencemaran oleh limbah pabrik maupun rumah tangga, seperti terjadi di Sungai Wangi maupun sungai lainnya, sedikit teratasi.

“Pinggiran sungai itu termasuk daerah tangkapan air, adanya akar pohon bambu akan menghidupkan kembali sumber air di pinggiran sungai. Akar-akar bambu juga bisa jadi filter berbagai zat beracun. Sehingga kualitas air sungai bisa menjadi bagus kembali,” terang peraih penghargaan lingkungan hidup tingkat nasional ini.

Baca Juga :   Kejam! Kakek Bercucu Ini Perkosa Bocah SD

Lebih lanjut disampaikan, keinginannya untuk menggalakkan penanaman bambu di sepanjang aliran sungai, juga didasari keberadaan lahan. Kalau tanaman pepohonan, bisa mendatangkan keributan di antara warga di sekitar pinggiran sungai untuk mengaku memilikinya.

“Kalau bambu relatif warga tidak ingin berebut untuk memilikinya. Makanya penanaman pohon bambu harus digalakkan kembali, agar kualitas air sungai menjadi kembali bagus dan bisa dimanfaatkan lebih besar oleh masyarakat,” pungkas Mahrus. (hrj/hrj).