Hilang Bertahun-tahun, Tradisi Muharaman Arak Jodang Kembali Digelar

720
Setelah diarak keliling kampung, jodang berisi hasil bumi dibawa ke balai desa untuk didoakan./WARTABROMO/Sundari A. W.

Krejengan (wartabromo) – Tahun baru Islam 1437 Hijriyah dirayakan ribuan warga Desa Krejengan Kecamatan Krejengan Kabupaten Probolinggo dengan menggelar tradisi sedekah desa, Rabu (14/10/2015) pagi. Sedekah desa sebagai wujud syukur warga atas hasil bumi yang telah diperoleh. Sembari berharap desa mereka lebih makmur memasuki tahun yang baru. Perebutan hasil bumi menjadi puncak acara ini.

Tradisi sedekah desa digelar warga Desa Krejengan yang mayoritas bermata pencaharian petani. Mereka berharap tahun depan dapat memanen hasil bumi lebih baik.

Acara ini dimulai dengan kirab kuda hias dan jodang berisi hasil bumi dari kediaman kepala desa setempat. Selanjutnya, jodang hasil bumi berupa sayur mayur, buah-buahan, lauk-pauk serta aneka jajanan pasar, dikirab berkeliling kampung. Sepanjang 2 kilometer, warga melakukan kirab dengan iringan musik rebana.

Sesampainya di kantor desa, jodang hasil bumi patungan warga dido’akan bersama dipimpin tokoh agama desa. Terdapat sedikitnya 1.700 warga yang ambil bagian dalam tradisi yang sempat vakum selama 6 tahun terakhir ini.

“Ini momen satu hijriyah, berdasarkan rapat kemarin disepakati selamatan desa bersamaan dengan peringatan tahun baru hijriyah. Tujuannya pertama rasa syukur kehadirat Allah SWT, kedua selamatan desa,” ujar Kepala Desa Krejengan Nurul Huda, kepada wartabromo.com.

Uniknya, selain jodang hasil bumi terdapat pula 700 bungkus kecil dupa diatas jodang. Dupa ini disesuaikan dengan jumlah kepala keluarga (KK), yang nantinya menjadi bahan rebutan warga. Dupa dimaksudkan sebagai simbol kebaikan, yang akan dibakar warga saat mereka memulai aktifitas pertanian.

Usai dilakukan do’a bersama, warga pun saling berebut dupa dan hasil bumi dalam jodang. Tak sampai 10 menit, dupa beserta aneka sedekah desa ludes diserbu warga. Bagi mereka, semakin banyak hasil bumi diperoleh, akan semakin baik karena makanan itu merupakan berkah desa.

“Banyak hasil bumi yang dibawa itu sumbangan warga, seperti polopendem dan juga hasil bumi diatas tanah, seperti buah. Murni, murni hasil sumbangan warga,” ungkap Supriyadi, salah satu warga Desa Krejengan. (saw/fyd)