PVMBG Tambah Sensor Getaran di Bromo

359
Petugas memasang Gurap di sekitar Pos Pantau Gunung Bromo. Foto: Sundari A. W (wartabromo)

Sukapura (wartabromo) – PVMBG menambah sensor pendeteksi getaran Gunung Bromo di belakang pos pengamatan Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo. Alat tersebut berfungsi menyingkronkan data getaran vulkanik dari sensor yang ditanam di kaki Gunung Bromo.

“Alat ini bernama Gurap, terdiri dari rangkaian sensor, aki baterai, solar cell, GPS. Alat ini ditanam pada kedalaman sekitar 1 meter dari permukaan tanah dan mengandalkan solar cell sebagai pemasok listriknya,” kata satu salah petugas PVMBG  Khairul Huda, Sabtu (12/12/2015).

Dengan alat tersebut, kata Huda, diharapkan data yang didapatkan lebih valid. “Sensor ini sangat peka terhadap getaran. Berfungsi sebagai pembanding antara sensor yang ada di kaki gunung. Ya untuk memperoleh data seakurat mungkin,” ujarnya.

Kepala Bidang Pengamatan dan Penyelidikan Gunung Api PVMBG Gede Suantika, mengatakan sejauh ini erupsi Gunung Bromo masih tergolong minor. Erupsi yang masih sebatas abu, air, gas dan silika ini, belum terlalu membahayakan. Sejauh warga dan wisatawan mematuhi aturan jarak aman yang ditetapkan, yakni 2,5 kilometer sesuai rekomendasi PVMBG.

“Erupsi Bromo ini masih minor, belum membahayakan. Karenanya kami antipasi dengan penambahan alat baru serta tambahan personil, karena erupsi saat ini mirip dengan erupsi pada 2010 lalu,” kata Gede Suantika.

Pantauan PVMBG, Sabtu poagi, gempa tremor menerus dalam kawah antara 3 mili meter hingga 20 mili meter, dominan 5 mili meter. Sementara, abu vulkanik terpantau membubung tinggi antara 300-400 meter. (saw/fyd)