Pak Wali Terpilih, Ayo Ngopi

859

Sayyidina Umar bin Khattab RA, menangis kepada istri beliau seusai dilantik menjadi khalifah (presiden) kala itu. Beliau merasa telah ditimpa bencana besar berupa pelimpahan tugas mahaberat menggantikanSayyidina Abu Bakar As Shiddiq menjadi tumpuan umat, yang itu artinya menggantikan tugas KanjengNabi yang sudah mangkat. Menjadi presiden atau khalifah, artinya adalah harus menanggung keberlangsungan nasib anak-anak yatim se negara Madinah. Menjaga dan memelihara janda-janda ( terutama yang tua, sebab janda muda sudah otomatis ada yang menanggungnya). Menjaga supremasi hukum. Berkewajiban membubarkan kemaksiatan. Mengawasi kenakalan anak-anak muda. Memperhatikan kesejahteraan guru-guru. Harus berani memecat pegawai pemerintah yang jangankan korupsi, memperlambat pelayanan terhadap publik saja harus dipecat. Mengawasi pegawai-pegawai pemerintah yang merasa harus dilayani rakyat (padahal pegawai negara adalah buruh rakyat, karena mereka dibayar dari pajak rakyat). Harus rajin sidak ke pasar burung, pasar akik, swalayan atau arena sabung ayam untuk menangkap basah para pegawai negara yang suka kelayapan pada jam kerja, dengan menunggang onta berpelat merah.

Sayyidina Umar bin Khattab dan semua khalifah khulafaur rasyidin, terpilih secara aklamasi sebagai presiden. Zaman itu tentu saja sudah ada mahluk bernama money politic,atau setidaknya kurma dan gandum politik, tapi apa yang akan beliau gunakan untuk berbuat “dermawan” seperti itu. Beliau sudah bangkrut begitu hijrah ke Madinah, dan “kekayaan” yang beliau himpun selama di Madinah, telah beliau habiskan dalam lelang tender kavling sorga Firdaus dengan para sahabat lain. Saking melaratnya beliau, suatu kali beliau terlambat datang untuk berkhotbah. Sebelum khotbah, beliau meminta maaf kepada para jamaah shalat Jumat atas keterlambatannya karena menunggu gamis –satu-satunya—beliau yang belum kering dicuci.

Terpilihnya beliau—dan para khulafaur rasyidin—secara aklamasi, adalah indikasi jika masyarakat negara Madinah begitu waras. Mereka bukanlah orang-orang berada. Kaum muslimin pada masa itu belum mencapai kejayaan finansial karena itu baru terjadi pada masa pemerintahan Bani Abbasiyyah. Namun sportifitas dalam berpolitik begitu sehat sehingga calon yang tidak membagi-bagikan uang –bahkan tidak mendaftar ke KPU, dipaksa rakyat untuk menjadi presiden—terpilih. Ini memang kisah dari masa lalu. Dan sangat mustahil terjadi di zaman kita ini. Namun, menjelang pilkada(L) begini rasanya patut kita jadikan renungan.

Nah, pada zaman kita ini semuanya serba terbalik. Orang begitu berani mencalonkan diri sebagai penanggung nasib umat. Bahkan secara terang-terangan menafsui posisi tersebut. Sampai ngiler-ngiler dan ngelindur-ngelindur. Secara akal waras itu memang manusiawi. Kebutuhan dasar manusia atas makan minum, jika telah terpenuhi akan meningkat pada level kebutuhan yang lebih tinggi, yaitu pengakuan eksistensi. Dan eksistensi diri bisa terpenuhi, salah satunya dengan menjadi penguasa.

Nabi pernah memberi arahan menyangkut suksesi politik semacam ini. “ Jangan memberikan jabatan kepada orang yang memintanya” kata beliau. Bahkan beliau pernah memberiwarning “ Apabila suatu urusan diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya, maka tunggulah saatnya (kehancuran). Para ulama berbeda pendapat tentang kata “saat”. Ada yang menafsirkan sebagai kiamat, sebab kata sa’at dalam bahasa Arab berarti kiamat. Ada juga yang menafsirkansaat sebagai suatu moment.

Selama ini kita telah melakukan kesalahan sejarah di berbagai bidang, termasuk bidang politik. Kesalahan kita di bidang politik adalah selalu memilih orang yang meminta jabatan dan orang tidak ahli di bidangnya (kepemimpinan). Maka jika sampai saat ini kita sebagai juragan (bukankah dalam demokrasi rakyat adalah pemegang kedaulatan tertinggi?) belum puas dengan pelayanan pegawai kita yang bernama walikota, gubennur dan presiden, itu karena kita salah pilih orang.

Kita orang kecil, diasadari atau tidak pernah bermimpi memiliki pemimpin sebaik para khulafaur rasyidin. Paling tidak proses pemilihannya mendekati proses pemilihan beliau- beliau. Apa bisa?. Bisa!. Kuncinya ada pada diri kita masing-masing. Pemerintah sudah beriktikad baik dengan membentuk KPU, PANWASLU, JPPR, PPL, PPK dan entah apa lagi untuk menggagalkan niat busuk politisi busuk. Namun sayang sungguh sayang, rakyat belum sepenuhnya mendukung. Malah, rakyat proaktif menjadi penerima uang haram sogokan pemilu dengan mengucap Alhamdulillah segala. Padahal, uang sogokan untuk mencoblos itu lebih haram dari uang hasil mendapat togel karena efek pengerusakannya hingga mencapai skala kabupaten, kotamadya, propinsi bahkan nasional.