Puasa Kaum Sosmediyah

725

Puasa kali ini, dilaksanakan dengan sangat hidmad oleh Firman Murtadlo. Hampir tak ada penyakit-penyakit batin pembatal pahala puasa yang ia langgar, karena sampai saat ini ia jarang bertemu dengan manusia. Sholat lima waktu ia kerjakan sendiri di rumah. Tarawih –kadang—ia kerjakan sendiri sekalian sholat malam. Tadarrus ia tidak berani. Tadarrus pakai pengeras, sudah lama ia jadikan salah satu pantangan hidup. Bukan ia tak pandai mengaji, hanya karena ia tak mau tergoda sum’ah, penyakit batin ingin didengar orang. Menurut Firman, baca Al Qur’an tak perlu diperdengarkan ke seantero kampung apalagi sampai mengganggu jandoman atau acara nonton bola para tetangga. Maka ia memilih tadarrus paling afdhal, tiap hari bisa lima kali khatam, yaitu membaca Al ikhlas tiga kali dalam sholat.

Kenapa tarawih ia kerjakan sendiri, karena tak ada seorang imam tarawih pun yang tidak ugal-ugalan seperti sopir bus Samber Nyowo. Begitu adzan isya’ berkumandang, ia tutup rapat kelambu rumahnya, ngendon di dalam seraya menyalakan laptop –kreditan—berselancar di dunia maya. Tarawih selesai ia buka kembali lapak potong rambutnya. Tadarrus dimulai, ia kembali berselancar hingga dini hari. Kalau sempat ia tarawih sendiri, kalau malas ia hanya sholat isya’ sendirian. Bukankah tarawih hanya sunnah?

Firman ingin berpuasa total tahun ini. Berkali-kali gagal mendapat Idul Fitri, tahun ini ia ingin mendapatkannya. Mumpung PT. Masa Depan Surau tempatnya bekerja libur total karena ini ahir tahun ajaran baru, Firman ingin fokus. Fokus ngelowo alias puasa dengan pola hidup ala kelelawar. Malam ia jadikan siang—untuk jalan-jalan di dunia maya—siang hari –agar tak banyak fitnah—ia tidur hingga dhuhur.

Firman mafhum, zaman telah begitu porak poranda. Seseorang yang berpuasa namun masih bertemu dengan banyak manusia, bisa dipastikan akan gagal. Lebaran sudah berlangsung bagi sebagian orang. Sejak hari kedua Ramadhan orang sudah bebas sedal-sedul rokokan tanpa sungkan.

Di dunia yang telah begitu liberal begini, memang tak ada yang bisa diandalkan untuk melindungi iman. Siapa pun yang sok alim “membela” Tuhan, akan dituding sebagai separatis yang harus diusir dari tanah airnya sendiri karena dianggap radikal. Pemimpin daerah yang sok alim melarang orang tidak berpuasa, akan berhadapan dengan banyak pihak, bahkan pengusa pusat. Maka menurut Firman, apabila ia berpuasa dalam keadaan terjaga, tiap hari pahala puasnya akan hangus karena marah terhadap berbagai hal.

Firman juga memilih tidur sepanjang hari agar tak mendengar omelan istrinya tentang harga sembako yang terus naik, sementara ia tak berani menaikkan ongkos cukur rambut di lapaknya. Firman memilih tidur sepanjang hari agar tak mendengar berita pembegalan motor, penjambretan dan pelecehan agama yang setiap jam disiarkan oleh berbagai media. Ia juga lebih memilih tidur daripada pening memikirkan bagaimana cara cerdas mendapatkan uang pinjaman dalam rangka mempersiapkan pesta lebaran. Ia bukan pegawai negara, jadi meski sudah puluhan tahun mencerdaskan bangsa, takkan mendapat THR berupa apapun.

Firman tidur sepanjang hari juga dalam rangka memelihara matanya dari bodi-bodi semlohai perempuan sekarang. Menjaga matanya dari iklan dan berita –selalu buruk –di televisi.

Zaman sekarang, puasa dalam keadaan terjaga ibarat berdzikir di lokalisasi. Berat dan takkan mungkin selamat.

Begitulah gambaran singkat puasa senewen ala Firman Murtadlo yang dicurigai banyak orang kewarasan akalnya itu. Puasa ala anak-anak play group itu dianggapnya sebagai puasa paling aman dan tentu saja—untuk sementara—paling nyaman.

Akan tetapi, ada satu hal yang Firman lewatkan, dan hal itu sangat fatal jika ditinjau dari segi syariat. Apa kesalahan Firman yang sedang menjalankan puasa pati geni itu? Ia masih belum bisa melepaskan diri dari nafsu untuk berceloteh di media sosial.

Bertemu dengan manusia, mendengar rasan-rasan atau memelototi bodi sintal perempuan ia jarang. Hanya saja, ia sering keceplosan mengkhotbahi para netizen di dunia maya.

Firman marah karena bapak-bapak begal diselamatkan dari kerumunan massa ketika “diamankan”. Firman marah karena berita pembegalan makin ngetrend menjelang lebaran. Firman marah karena penguasa daerah yang sekarang sungkan untuk menerbitkan perda warung berkerudung. Firman marah soal tukang parkir yang sering salah hitung uang kembalian, soal bocah-bocah mengasah keahlian balapan motor sepanjang waktu, bocah-bocah ngabuburit yang enggan pulang hingga seminggu. Soal operasi pasar abang-abang lambe, sidak makanan beracun musiman, soal pembenahan jalur mudik alon-alon sukur kelakon, soal maraknya praktik keahlian gendam, soal pelecehan agama yang kian marak dan belum bisa ditangani serius, soal bocah-bocah yang gaduh setiap malam Minggu, soal THR, soal sungai yang dijadikan tempat sampah, soal atheis-atheis lokal yang kian berani urun rembug perbaikan wahyu serta apa saja.