Tidak Makan Gaji Buta, Syubhat Mughalladzah

2314

Pagi, seperti biasa Firman Murtado mendapat khotbah rutin dari istrinya. Itulah salah satu multivitamin untuk ia semakin agresif dalam berbagai hal kurang waras. Kedua mertuanya sudah lama melakukan embargo ekonomi, politis, budaya serta berbagai hal. Hanya tinggal menunggu waktu saja untuk memakzulkannya sebagai menantu.

Pagi ini, Endang Kapitalistawati, istri Firman, sekali lagi mengajaknya berunding, eh ribut. Dan Firman Murtado yang nyinyir, ternyata sungguh “bertakwa” kepada istrinya itu. Firman Murtado boleh garang di warung kopi. Jangankan Wak Camat, presiden pun ia paiduh. Tapi di depan istrinya, ia tak punya keberanian sedikit pun. Orang-orang besar memang kadang konon bertekuk lutut di hadapan perempuan. Napoleon Benaparte “sujud” kepada Eva Beharnauis. Ken Arok takluk oleh betis Kendedes. Pak Karno yang sama bedil tak pernah takut, ternyata anteng oleh mbok rondo Jepang. Apalagi manusia senewen macam Firman Murtado, hmm, dilibas seperti tisu pastinya. Perempuan memang konon memiliki bakat alam untuk menginvasi mental laki-laki lebih gawat dari yang diduga orang.

“Mas, logistik darurat. Susu si tole hampir habis, popoknya juga.” Kata Endang Kapitalistawati, tanpa tedeng aling-aling. Saat Firman hendak menyeruput kopi paginya.

“Waduh, aku ndak punya uang sama sekali, dik.”

“Ya mbuh. Makanya kerja yang genah talah, mas.” Firman Murtado terdiam beberapa saat. Skak mat! Kalau kerja, Firman Murtado sudah panas gawe sebenarnya. Hanya manusia ini saja yang beberapa profesi ia lakoni semua. Pagi menjadi pekerja sosial di PT. Masa Depan Suram. Sore sampai malam buka cukur rambut. Larut malam, nulis-nulis pitenah untuk dikirim ke koran online. Kadang menerima jasa suwuk panggilan kalau ada orang kesurupan. Kalau ada event organizer pitenah, ia siap dipanggil sebagai provokator. Tapi karena hampir semua profesi itu tidak ada hubungannya dengan APBN, ya begitulah rejekinya. Tak pasti seperti sikap para politisi.

“Jangan ngelamun, mas. Ini piye solusine?” kata Endang Kapitalistawati.

“Susunya pakai ASI saja dulu. Selain hemat, biar si tole lebih cerdas, manusiawi dan dekat dengan sampeyan secara psikologis. Kalau diberi susu pabrik nanti mentalnya seperti mesin atau seperti sapi.”

“Dak usum, mas. apalagi nanti tole muntah karena bau rokok.”

“Kok bau rokok?”

“Halah, pura-pura nggak paham. Terus, popoknya bagaimana?”

“Prei dulu, lah. Toh kita murah air. Kalau pipis kan tinggal bilas.”

“Nggak efisien, mas. Nanti waktuku bersosmed ria tersita.”

“Hmmm”

“Sik talah, mas. Sampeyan ini kan sarjana, katanya aktifis juga. Kok ya nggak lincah seperti orang-orang? Mbok ya ikut proyekan, daftar jadi pegawai negara atau paling tidak ikut melamar kerja musiman seperti tukang ngawasi pemilu, tukang ngorek-ngorek alokasi dana desa atau ikut daftar jadi tukang suluh agama. Sarjana kok hanya jadi tukang cukur. Harusnya dulu sampeyan dulu nggak usah kuliah. Uangnya dibuat modal buka kios rokok atau beli kompresor, buka tambal ban.”

“Itu artinya Indonesia ini sangat maju, dik. Wong tukang cukur saja sarjana.”

“Wes, nggak usah guyon. Ngelu ndasku.”

“Begini..” kata Firman Murtado dengan suara sok wibawa.

“Kenapa aku nggak pernah ikut daftar jadi pegawai negara? Kenapa aku kok nggak ikut daftar jadi pegawai musiman seperti jadi tukang suluh agama, tukang ngawasi pemilu atau tukang eker-eker alokasi dana desa, padahal aku punya banyak teman untuk kongkalikong diterima, itu karena aku kasihan sama sampeyan.”

“Kasihan gimana?”

“Ya kasihan sampeyan sama tole kalau saya kasih makan uang syubhat alias remeng-remeng. Aku nggak mau kita makan dari gaji rabun, eh gaji buta, dik. Kerja nggak jelas kok dikasih gaji.”

“Lho, gaji nggak jelas gimana, wong kontraknya begitu?”

“Kalau kita bandingkan dengan saudara-saudara tukang becak, tukang odong-odong, penjual dawet, tukang kunci atau tukang las, pekerjaan-pekerjaan seperti yang sampeyan sebut tadi kurang baik. Dan, kalau kita belum bisa ngasih apa-apa sama Indonesia, minimal jangan membuat utang negara makin bwaanyuak. Menurut Gus Hafidz, menerima gaji dari hanya leyeh-leyeh itu kurang baik. Efeknya panjang dan harus meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia.”