Republik Lidah Beracun

877

Apa gerangan tiba-tiba Gus Hafidz ngopi di warung Cak Manap? Ini tak biasa. Gus Hafidz tak seperti Ustadz Karimun yang bisa kelomproan si sembarang tempat. Gus Hafidz bukan jaga imej, tapi jadwalnya memang sangat padat, termasuk untuk menangisi umat ini. Belum selesai Cak Manap mengaduk kopi pesanannya, Gus Hafidz langsung nanar.

“Indonesia, tinggal tekan satu tombol saja buyar.” Ujar Gus Hafidz gemetar. Seisi warung terdiam. Sebab kalau Gus Hafidz sampai turun gunung ke warung kopi, berarti pesan yang ia sampaikan sudah urgen. Tak cukup disampaikan saat pengajian rutin karena tak semua umat suka ke pengajian. Turun ke warung kopi artinya, semua lapisan umat harus tahu jika bangsa ini siaga satu.

“Ini memang sudah lama direncanakan, sekaranglah moment emas untuk mengadu domba kita, gelut sak koncoan, lalu mega bencana akan melanda kita.” Cak Manap sampai tak jadi ngudek kopi.

“Siapa yang paling bersalah, Gus?” Arif berani nyeletuk.

“Kita. Karena kita menderita kelainan lidah. Kita memiliki lidah beracun.” Arif yang koplak ingin tertawa tapi ditahan.

“Masa ada di antara kita ada yang memiliki lidah beracun?” Mas Bambang nggak mudeng.

“Itu majas, mas. Sindirian.” Firman Murtado agak muntap. Ia memang sentimen sama orang-orang yang punya NIP.

“Kaum lidah beracun itu adalah kaum yang suka panjang omong atau tukang pitenah. Ia bisa pemilik stasiun televisi, redaktur koran, wartawan bahkan semua orang bisa menjadi berlidah racun pada zaman seperti ini.” Kata Gus Hafidz ahirnya menjelaskan.

“Sosial media, adalah aplikasi pitenah paling efektif karena semua orang, baik yang sekolah maupun tidak, yang punya kepentingan atau tak tahu menahu sama sekali, bisa berceloteh tiap saat. Ini jeleknya demokrasi. Ini efek negatif kebebasan pers. Ini bencana yang ditimbulkan oleh musyrik abad 21 dengan menyembah HAM. Bangsa kita belum terbiasa dianugerahi kebebasan. Bangsa seperti kita, idealnya dipimpin oleh diktator karena selalu salah penegertian dengan yang namanya kebebeasan.” Dipikir-pikir, ada benarnya juga omongan Gus Hafidz, batin Firman Muratdo.

“Kata siapa dipimpin diktator tidak enak? Wong Inggris saja makmur dipimpin ratu. Belanda maju, Korea jadi macan dan tertib. Di sana, orang nonton film berlendir saja dihukum tiga tahun penjara. Kita yang katanya agamis, malah makin hobi bikin video berlendir amatir.”

“Gara-gara kita mau dibohongi kalau menganut agama HAM itu mulya, guru banyak dijotosi muridnya. Maling tak boleh dijotosi, koruptor tak boleh di-suudhoni, dan sekarang  setiap orang boleh memposting pitenah di akun sosial media untuk membantu agenda para maling tak kasat mata.”

“Kadang saya mikir, sebaiknya kita putus kontrak dengan situs-situs sosial media bahkan dengan jaringan internet.” Gus Hafidz menerawang pohon kersen di samping warung.

“Tapi kita butuh informasi dan ilmu dari internet, gus.” Sanggah Firman Murtado.

“Hhh, informasi? Ilmu?” Gus Hafidz mencibir.

“Berapa persen kita membuka situs ilmiah? Lalu kalau sudah terlanjur nyasar buka situs ilmiah, berapa persen jaminan kebenaran informasinya? Setiap setan kober bisa membikin situs, lho mas? Setiap Jin Ifrit bisa menyaru malaikat, membikin situs suci yang kesemua fakta serta informasinya diselewengkan.”

“Ya, sebenarnya tidak semua yang berasal dan berhubungan dengan dunia lelembut alias dunia maya itu buruk. Kita saja yang mendapat kutukan, bermutasi menjadi manusia berlidah beracun.” Timpal Arif.

“Bukan mutasi, ini sudah cetakan asli ras kita.” Gus Hafidz tak terima.

“Untungnya, pada zaman perang kemerdekaan dulu sosial media belum ada. Kalau sudah ada, pasti kita takkan merdeka. Sebab takkan ada perang gerilya. Anjuran Resolusi Jihad hanya disukai, dibagikan dan yang paling banyak adalah komentar. Kita kan negeri seribu komentator? Bahkan beberapa stasiun televisi memilih sebagai penyelenggara siaran komentar dan obong-obong.”

Firman Murtado mulai heran dengan gelagat Gus Hafidz. Ini bukan Gus Hafidz! Batin Firman. Tak biasa kiai muda itu ceplos-ceplos begini. Ini siapa sebenarnya? Jin, malaikat, atau jangan-jangan Nabi Hidir?

“Kalau kaum lidah beracun itu semisal tukang becak, agaknya sedikit pantas. Tapi ini  kebanyakan malah orang-orang yang ijazahnya tinggi, kok. Apa kita ini terlalu banyak nganggur sehingga agenda utek-utek gadget bisa berlangsung kapan saja? Apa kita ini kemaruk, kepingin didengar, diakui kritis dan militant? Kalau NKRI buyar baru mikir nanti.” Firman Murtado makin yakin ada yang tak beres.