Demam Berdarah Darah

1044

Makhluk senewen bernama Firman Murtado, satu langkah lagi bisa-bisa dicabut kewarganegaraannya oleh pemerintah. Dibuang ke Antartika agar tidak menyuburkan bibit-bibit makar. Ada saja yang ia bikin perkara dalam rangka merongrong kewibaan pemerintah baik pusat maupun daerah. Sudah tahu demokrasi dicekik sedikit demi sedikit dalam rangka menjaga stabilitas negara, postingan-postingannya di sosial media malah tambah ngawur. Sudah berbagai program diluncurkan pemerintah dalam rangka mensejahterakan rakyat, masih banyak yang ia tuntut. Keponakannya sudah digratiskan sekolah, keluarganya digratiskan berobat jika sakit, pemerintah sampai pasang paving di dekat kandang ayamnya, tak peduli harus hutang sama bank dunia, tetap saja ia ngelunjak kepada pemerintah yang sudah bekerja sangat keras itu.

Derajat senewenitas Firman Murtado semakin menjadi, naik ribuan persen ketika istrinya diopname gara-gara demam berdarah. Sarjana lontang-lantung itu rupanya meluapkan kemarahannya terhadap nasib kepada pegawai rumah sakit yang sudah bekerja sangat profesional dan sesuai dharma bhakti. Hanya karena kesalahan kecil istrinya sedikit terlambat dirawat—dan itu sudah sesuai dengan budaya kerja asli bangsa—ia mencak-mencak.

Baca Juga :   Coffee On The Street, Cara Baru Bupati Probolinggo Menyapa Rakyat

“Jangan karena kami pakai BPJS, istri saya diterlantarkan, ya?” katanya di hadapan para perawat yang selalu rapi, anggun dan sudah terbiasa tak panik menangani kasus gawat darurat.

“Saya mediakan nanti!” Banyak juga orang yang menganggap wartawan sebagai tempat madul.

“Maaf, pak. Bapak harus memaklumi, pasien memang sedang membludak. Banyak orang sakit, pak.” Kata seorang perawat laki-laki.

“Jumlah kalian kan banyak? Kenapa tidak bagi tugas? Saya tidak menderita gangguan mata, saya lihat di ruang jaga banyak orang tapi semuanya sibuk ngerumpi atau membisu dengan gadgetnya.”

“Pegawai yang di ruang jaga sedang istirahat, pak. Bukan dalam jam kerja.”

“Ingat, mas, anda sudah disumpah untuk melayani tanpa memandang apa pasien pakai BPJS atau membayar. Kami membayar pajak, dan tagihan BPJS pada hakikatnya kami tanggung sendiri.”

Baca Juga :   Pengemudi Ngantuk Usai Minum Obat, Innova Tabrak Pohon dan Terguling

“Betul, bapak tidak salah. Tapi mohon memaklumi sedikit, musim hujan begini DBD memang sering menjangkit.”

“Itulah bodohnya, kenapa tidak ada tindakan preventif. Kenapa tidak digalakkan fogging?”

“Program fogging harus menunggu antrian persetujuan dinas terkait, pak.”

“Jadi menunggu banyak korban baru ditanda tangani? Menunggu banyak yang meninggal baru program dijalankan? Memangnya di kantor mengerjakan apa saja, sih? Bagaimana tidak telat-telat begini wong jam sembilan pagi sudah keluyuran ke warung kopi atau swalayan?”

“Maaf, tindakan preventif sebenarnya tugas kita semua, pak.” Kata perawat laki-laki itu tak terpancing omongan Firman Murtado.

“Ya salah pemerintah, bangun gorong-gorong terus, ahirnya mampet dan menjadi sarang jentik. Sudah biaya pembuatannya utang sama luar negeri, manfaatnya tak jelas, malah menjadi sumber penyakit.”

Baca Juga :   Festival Durian Kakap 2017 Siap Digelar Tanpa Durian Gratis

“Maaf, itu tugas dinas lain, bukan tanggungjawab kami.”

“Sekarang menjadi urusan dinas sampeyan. Sebab yang menelantarkan istri saya orang-orang di dinas sampeyan.”

“Bapak, sekali lagi mohon maaf, bukan diterlantarkan, pak. Masih mengurus pasien lain yang datang lebih awal, pak.”

“Mas, ini darurat lho! Ini urusan nyawa, lho mas! Trombosit istri saya terus menurun.”

“Betul, pak. Mohon biarkan kami bekerja dengan tenang.”

“Tenang apa lamban?” perawat laki-laki itu hanya tersenyum. Sementara para perawat perempuan bubar dan menyilangkan jari telunjuk di keningnya, memberi isyarat soal Firman.

“Tenang apa lamban?” ulang Firman.