Dendy Arifianto, Berbagi Cerita Ketika Tiba-Tiba Hilang Penglihatan

5805

Apa jadinya jika kita tiba-tiba hilang penglihatan? Dendy Arifianto, sarjana hukum Universitas Brawijaya (UB) Malang bersedia berbagi pengalaman ketika ia tiba-tiba tak mampu melihat saat memasuki semester lima.

Laporan M. Asad Asnawi

NAMANYA Dendy Arifianto. Lahir pada 25 Mei 1991 di Kabupaten Pasuruan. Jika di hitung, saat ini, usianya 27 tahun. Lahir dengan penglihatan normal, lajang dari empat bersaudara ini mengalami kebutaan di usia 20 tahun. Atau tepat jelang pelaksanaan ujian tengah semester lima Fakultas Hukum Universitas Brawijaya (UB) tahun 2011 silam.

Saat itu, Dendy memang tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Brawijaya (UB) Malang. Karena gangguan penglihatan yang dialaminya itu, Dendy pun harus melewatkan waktu ujian untuk menjalani operasi.

Sayangnya, usaha untuk mengembalikan fungsi penglihatannya itu gagal. Tim dokter dari dr. Sutomo Surabaya menyebut Dendy mengalami ablasio retino (retina robek). Sejak saat itu, Dendy tak lagi bisa melihat.
Gejala gangguan penglihatan itu sejatinya sudah Dendy rasakan sejak masih duduk di bangku SMA (Sekolah Menengah Atas) Negeri 1 Purwosari, Kabupaten Pasuruan. Ketika itu ia tidak bisa melihat dengan normal. Tulisan di papan di ujung ruang kelas tak jelas dilihatnya. Tetapi, ia abai. Sebab, itu masih bisa ia atasi dengan mengenakan kacamata.

Tiga tahun berselang, Dendy pun lulus dan melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum, Universitas Brawijaya (UB), Malang. Di kampus biru ini, kelainan pada penglihatannya kembali ia rasakan ketika memasuki semester dua. Penglihatannya semakin kabur. Selain itu, semua objek yang dilihatnya berubah menjadi merah.

Kacamata yang dikenakan Dendy sejak di bangku SMA pun tak lagi membantu. Oleh pihak keluarga, ia kemudian kembali dibawa ke rumah sakit untuk operasi. Itu adalah tindakan medis pertama yang tak banyak membawa hasil.

Memasuki semester tiga, Dendy yang gemar membaca buku ini memutuskan cuti kuliah untuk konsentrasi pada pengobatan matanya. Tapi, tak jua banyak perubahan. Sampai pada semester IV, ia kembali ke bangku kuliah kendati dengan kondisi penglihatan yang tak sempurna. Tak bisa mengidentifikasi warna.

Puncaknya, pada semester lima. Beberapa hari menjelang UTS (Ujian Tengah Semester), kedua matanya tak lagi bisa menangkap objek di depannya. Ia pun tak lagi bisa membaca biarpun dari jarak dekat. Oleh keluarga, ia kembali dibawa ke rumah sakit tepat di hari pertama pelaksanaan UTS. Tapi, lagi-lagi tak banyak membawa hasil. Ablasio retina yang dialaminya, tak terobati.

Hari-hari setelah itu adalah fase terberat dalam perjalanan hidup Dendy. Betapa tidak, diusianya yang masih begitu muda, ia harus kehilangan penglihatan. Semangatnya untuk meraih gelar sarjana hukum hilang seketika. Tak ada hasrat dalam dirinya untuk kembali melanjutkan kuliah. Ia benar-benr berada di titik nadir.

Setahun lamanya ia biarkan waktu berjalan begitu saja tanpa harap. Hari-harinya ia habiskan dengan mengingat-ingat hal-hal terakhir yang dilihatnya sebelum ia hilang penglihatan. Suasana kamar, ruang tamu rumah, hingga lokasi kamar mandi.

Setiap detik, jam, ia lalui kepalanya dengan ingatan-ingatan orang-orang terdekatnya. Tak ada lagi rupa-rupa wajah dari mereka yang bisa dilihatnya lagi. Sosok kakaknya, wajah yang terakhir kali dilihatnya begitu lekat memenuhi rongga kepalanya. Hitam dan gelap. Hanya itu yang mampu ditangkap dua matanya.

Meski begitu, pelan-pelan, ia mencoba untuk tidak menyerah dengan keadaan. Saat-saat awal, Dendy banyak dibantu keluarganya untuk beraktivitas di rumah, ia sadar betul bahwa mereka tidak akan disampingnya terus menerus. Ia pun kembali mengingat-ingat, belajar menghafal kembali posisi rumah.
Ke kamar mandi, Dendy berusaha untuk berjalan sendiri sembari menghitung jumlah langkah kaki menuju ke sana. Yang paling susah adalah ketika ia harus keluar rumah. Sebab, ada beberapa bagian rumah yang lantainya memiliki beda ketinggian. Berulangkali kakinya harus tersandung saat berjalan.
Di sisi lain, di tengah usahanya untuk menyiasati keadaan, Dendy tetap rajin melakukan kontrol ke dokter spesialis mata, dr. Wimbo Sasono, Sp.M-KVR di Surabaya. Rutinitas itu dijalani guna mengontrol cairan yang kerap keluar dari sudut kelopak matanya.