Hari Ini Suku Tengger Brang Kulon Rayakan Karo

1915
Suku Tengger saat merayakan upacara karo, Senin (27/8/2018).

Pasuruan (wartabromo.com) – Warga suku Tengger di Kabupaten Pasuruan merayakan Karo, Senin (27/08/2018). Warga Suku Tengger brang kulon ini gelar ritual Upacara sebagai bentuk rasa syukur.

Widyan Singgih, Tokoh Budaya Tengger mengatakan, gelaran ini diperingati saat memasuki bulan kedua kalender tengger atau dua bulan setelah upacara Yadnya Kasada. Upacara ini diperingati oleh ratusan warga suku Tengger di 11 desa di Kecamatan Tosari, Tutur dan Puspo.

Singgih mengungkapkan, Upacara Karo ini merupakan wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas diciptakannya Joko Seger dan Roro Anteng sebagai Leluhur Bromo dan 25 keturunannya. Oleh karena itu, seluruh warga, mulai dari anak-anak hingga sesepuh tak melewatkan tradisi karo sejak hari pertama hingga 10 hari ke depan.

Baca Juga :   Semarakkan Hartiknas, Seluruh Petugas Samsat Bangil Berbatik

“Upacara karo ini hukumnya wajib bagi masyarakat tengger. Makanya sekolah pun diliburkan untuk bisa menghormati acara ini,” ungkapnya.

Upacara Karo didahului dengan tradisi Mblara’I yang menampilkan Tari Sodor/ Sodoran. Tarian ini sudah mulai dibawakan sejak tahun 1790 oleh para sesepuh, dengan membawa tongkat bambu wuluh berjumlah 12 buah.

Angka 12 ini merupakan simbol 12 bulan yang ada dalam satu tahun. Dalam bambu yang dihias serabut kelapa dan janur tersebut, ada banyak benih palawija yang sengaja dipasang sebagai lambang bahwa adanya Tengger merupakan hasil perpaduan nama Roro Anteng dan Joko Seger sebagai leluhur Gunung Bromo dan memiliki 25 orang anak.

“Khusus untuk tahun ini, tari sodor tidak hanya oleh sesepuh saja, melainkan anak-anak muda yang sudah bisa menghayati tarian ini,” kata Singgih.

Baca Juga :   Membaca Kondisi Pendidikan di Pasuruan yang Masih Terpuruk

Setelah upacara pembukaan karo, prosesi selanjutnya dinamakan dengan upacara Santi, Slametan Banyu, Pembukaan Jimat Klontong hingga puncaknya upacara penutupan di Wonokitri yang disebut Bawahan.

Kata Singgih, untuk Upacara Santi, setiap dukun maupun pandita tengger dan kepala desa akan melaksanakan doa di hari pertama, barulah pada hari kedua akan berdoa dari rumah ke rumah warga.

“Setiap warga akan memasang takir atau sesembahan dari kue khas tengger seperti tetel, pasungan, lupis, jenang, dan kue lainnya. Ada 5 warna kue yang menandakan 5 penjuru mata angin. Barulah setelah itu dilanjutkan dengan andon mangan, yakni tradisi berkunjung dari satu rumah ke rumah warga dan makan bersama,” jelasnya.

Baca Juga :   USAID-IWINS Gelar Workshop dan Panggung Rakyat Arsani

Sementara itu, dalama upacara ini, masyarakat tengger juga mengangkat Pj Bupati Pasuruan, Abdul Hamid sebagai warga kehormatan dengan simbol penyematan ikat kepala.

“Kalau tidak dilestarikan, kesannya akan boring sehingga wisatawan juga tidak tertarik untuk datang kembali. Maka dari itu saya menghimbau kepada masyarakat sekitar untuk lebih kreatif dalam mengembangkan seni dan budaya yang sudah ada, meskipun tidak merubah keaslian atau tata cara budaya itu sendiri,” kata Abdul Hamid. (mil/may)