Tradisi Karapan Sapi Brujul di Probolinggo

2005

Probolinggo (wartabromo.com) – Karapan sapi brujul di Kota Probolinggo merupakan tradisi, salah satu warisan nenek moyang. Sebelumnya, karapan sapi brujul ini untuk sukacita warga hingga kini berkembang menjadi ajang perlombaan.

Karapan sapi brujul digelar oleh para petani, menjelang musim tanam padi. Air memenuhi sawah, lalu dibajak. Kala itu, pembajak sawah masih menggunakan tenaga manusia dan sapi. Untuk mengusir kejenuhan, para petani ini kemudian berlomba di areal sawah yang berlumpur itu.

Lambat laun, kebiasaan tersebut menjadi hobi baru bagi para petani. Hingga kemudian dikenal luas oleh masyarakat. “Dahulu ketika zaman ayah saya masih bertani, tidak ada hadiahnya seperti sekarang. Murni untuk bersenang-senang saja. Saya pun sangat menyukainya,” kata salah satu warga, Supiyana Djusid (55), Minggu (2/9/2018).

Baca Juga :   Hari Ini, Tim Gabungan Lakukan Pencarian Remaja Asal Rembang yang Hilang Terseret Arus

Menurut nenek tiga cucu ini, keluarganya merupakan keluarga petani. Tradisi balap sapi brujul, sudah ada sejak puluhan tahun silam. Hingga saat ini, Supiyana sangat familiar dengan balap sapi brujul. Walau saat ini sudah tidak bertani, Supiyana tetap mengikuti balap sapi brujul. Ada enam sapi miliknya, yang turut dilombakan.

“Namun sudah kalah pada saat babak penyisihan. Tapi senang,” ujarnya.

Karapan sapi Brujul di Kota Probolinggo, menarik simpati warga se Indonesia. Terutama, bagi mereka yang berdomisili di sekitar Pulau Jawa dan Bali. Momen itupun, tak dilewatkan oleh puluhan fotografer nasional.

Percikan lumpur dan ekspresi joki sapi brujul, menjadi momen tersendiri yang diburu para fotografer. Sebab untuk mendapatkannya, diperlukan teknik memotret yang tepat. Mulai dari kecepatan rana, ISO dan lebar bukaan lensa.

Baca Juga :   Empat Tokoh Luar Suku Tengger Dikukuhkan Jadi Sesepuh

Selain itu, laju sapi brujul yang tak bisa diprediksi, membuat fotografer harus berhati-hati saat membidik target.

“Dua tahun lalu saya juga motret balapan sapi di lahan basah seperti ini. Tapi lokasinya sangat jauh, ada di Padang. Kalau di Kota Probolinggo ada, maka lebih dekat dan lebih terjangkau,” kata salah satu fotografer, Misbahul Munir.

Gelaran balap sapi brujul kali ini masuk dalam rangkaian Seminggu di Probolinggo (Semipro) 2018. “Kami sudah berupaya mengajukan agar balap sapi brujul ini bisa menjadi wisata budaya khas Kota Probolinggo. Yang nantinya akan menjadi wisata andalan bagi kota ini,” terang Kabid Detinasi wisata dan Ekonomi Kreatif Disbudpar, Pramito Legowo.

Baca Juga :   Polisi Gagal Tutup Padepokan Dimas Kanjeng, Ini Alasan Kapolda Jatim

Sebagai informasi, balap sapi brujul di Kota Probolinggo ini, diikuti oleh sekitar 60 peserta. Peserta tak hanya dari sekitar Kota Kabupaten Probolinggo saja. Warga dari Kabupaten Jember, Pasuruan dan Lumajang pun, ada yang ikut serta. Balap sapi brujul ini, digelar dua hari, tanggal 1 hingga 2 September 2018. (saw/**)