Energi Baik, Gas Bumi Makin Dilirik

1074

Awal November lalu, WartaBromo sempat berbincang dengan A. Samsul, manager engineering PT MJB, Purwosari, Pasuruan. Menurutnya, ada banyak keuntungan yang didapat dari menggunakan gas PGN. “Yang paling terasa ya biaya produksi. Dengan gas, biaya bahan bakar bisa ditekan 49 persen dibanding solar,” jelasnya.

Jauh sebelumnya, pihaknya juga memakai CNG (compressed natural gas) sebagai bahan bakar. Dengan gas cair ini, ada penghematan sekitar 20 persen. Nah, pada April 2018 lalu, pihaknya beralih ke gas pipa PGN. Hasilnya, ia bisa menghemat biaya bahan bakar hingga hampir 50 persen.

Seberapa hemat antara menggunakan solar dan gas ini, Samsul memberikan gambaran yang lebih detail. Dikatakannya, saat ini, harga solar industri berkisar di angka Rp 9 ribu setiap liternya. Nah, untuk satu liter solar, kalori yang dikeluarkan sebanding dengan 0,9 meter kubik gas.

Dengan harga setiap meter kubik gas indusri sekitar Rp 4 ribu, itu berartu cost yang dikeluarkan untuk membeli bahan bakar bisa lebih ditekan. “Artinya kan tidak sampai satu meter kubik kalau pakai gas. Kalau per kubiknya Rp 4 ribu, berarti kan tidak sampai segitu,” jelas Samsul.

Selain lebih ekonomis, penggunaan gas pipa PGN juga dinilai lebih efektif. Sebab, pihaknya tidak perlu repot dengan jadwal pengiriman. “Tiap bulan kan tinggal catat di meterannya,” terang Samsul. Setiap bulan, ia rerata pemakaian gas antara 30-40 ribu meter kubik.

Sekretaris Perusahaan PGN, Rahmat Hutama melalui rilisnya mengatakan, pemenuhan energi baik dan murah kepada perusahaan merupakan bagian dari dukungannya terhadap keberlangsungan industri tanah air. Dan itu yang coba dilakukan dengan menjamin ketersedian pasokan anergi melalui pembangunan infrastruktur jaringan gas yang terus dilakukan.

“Sebagai bagian dari dukungan itu, PGN terus berkomitmen terhadap penyediaan energi yang baik, murah dan ramah lingkungan,” kata Rahmat. Ketersediaan pasokan itu, lanjut Rahmat, sekaligus menjadi garansi sustainable kegiatan usaha yang dimaksud. Sebab, dengan harga yang lebih murah ketimbang penggunaan bahan bakar konvensional lainnya, biaya produksi juga lebih ditekan.

Di sisi lain, dengan tambahan tiga industri itu, jumlah pelanggan industri (PI) gas di Pasuruan saat ini mencapai 107 pelanggan. Dari ratusan perusahaan ini, total gas bumi yang disalurkan PGN di Pasuruan mencapai 25.378.032 meter kubik.

Dikatakan Rahmat, peluang bergabungnya pelaku industri sebagai pengguna gas cukup terbuka. Dengan dukungan jaringan infrastruktur yang memadai, ia optimistis ke depan, industri yang beralih ke gas bumi akan terus bertambah.

Sebagai gambaran, saat ini, PGN menjadi satu-satunya perusahaan gas yang memiliki jaringan distribusi terpanjang di Indonesia. Dengan panjang pipa yang mancapai 7.453 kilometer, PGN menguasai sekitar 80 persen panjang pipa hilir gas bumi secara nasional.

Dikutip dari laman PGN, setidaknya ada lima langkah yang bisa dilakukan untuk menjadi pelanggan. Upaya itu bisa diawali dengan mengisi formulir permohonan yang bisa didapat dari kantor PGN terdekat. Formulir bisa juga didapat dengan men-downloadnya dari laman website milik PGN.

Setelah formulir diserahkan, pihak PGN akan menghubungi calon pelanggan untuk melakukan verifikasi, mengumpulkan data, serta mendiskusikan rencana kebutuhan gasnya. Setelah seluruh berkas persyaratan terpenuhi, dilanjutkan dengan penandatanganan perjanjian jual beli gas antara calon pelanggan dan PGN.

PGN selanjutnya akan menyiapkan infrastruktur gas mulai dari jaringan pipa induk, sampai dengan stasiun pengukur gas di lokasi pelanggan. Sedangkan calon pelanggan melakukan pembangunan pipa instalasi dalam serta persiapan peralatan yang akan menggunakan gas. Setelah semua tahapan dilewati, barulah gas dialirkan.

Sementara itu, hingga saat ini, PGN sudah mengalirkan gas ke lebih dari 1.730 pelanggan industri dan pembangkit listrik, 1.964 pelanggan komersial seperti hotel, restoran, juga usaha kecil dan menengah. Selain itu, PGN juga telah mengalirkan gas ke pelanggan rumah tangga yang tersebar di 19 kota di 12 provinsi di Indonesia. Hingga akhir tahun ini, jumlah pelanggan rumah tangga diperkirakan mencapai 300 ribu rumah.

Di Jawa Timur, jumlah pelanggan termasuk yang paling banyak secara nasional, selain Jakarta, Banten dan Jawa Barat. Mencapai 53.956 pelanggan. Rinciannya, Surabaya sebanyak 42.699 pelanggan. Terdiri dari 42.351 pelanggan rumah tangga, 132 pelanggan kecil, serta 216 pelanggan industri.