Bordir Selogudig Wetan, Buatan Kampung Berkualitas Ekspor

0
225
Lilik saat menunjukkan hasil bordirnya. Foto : Sundari AW
Sudah lama Desa Selogudig Wetan, Kecamatan Pajarakan, Kabupaten Probolinggo, dikenal sebagai sentra bordir. Eksistensi yang diikuti dengan kualitas, membuat produknya mampu menembus pasar Bali bahkan luar negeri.

Laporan Sundari Adi Wardhana

SENTRA bordir di Desa Selogudig Wetan berada di Dusun Asam dan Dusun Talang. Sekitar 400 KK, utamanya para ibu rumah tangga yang menekuni home industry ini. Ada 6 pengepul dan 2 pengusaha yang eksis menjalankan roda kerajinan bordir ini. Salah satunya adalah Lilik Supriatin, yang mengibarkan bendera Lily Bordir.

“Setahu saya, bordir disini sudah ada sejak tahun 75-an. Salah satunya adalah ibu saya, yang terus bertahan hingga saat ini. Mereka para perajin itu, mengerjakannya di sela-sela aktivitas rumah tangga. Membordir kain sesuai pola dilakukan di rumah masing-masing, baru untuk tahap akhirnya dilakukan disini. Jadi tidak memberatkan mereka,” ujar Lilik.

Lilik menuturkan khusus usaha miliknya, saat ini mampu menghabiskan 8 koli kain. Kalau diestimasi dalam bentuk kain bordir, sekitar 2.500 piece tiap bulannya. Sekitar 80 persen produksinya di serap oleh pangsa pasardi Bali. Sedangkan sisanya, diserap pasar Jawa Timur, seperti Surabaya, Malang, dan sekitarnya. Omsetnya antara Rp30 hingga Rp105 juta per bulan.

“Untuk yang ke Bali itu, berupa bordir setengah jadi. Sebab disana difinishing lagi dan diekspor ke luar negeri. Sementara untuk yang lokal, biasanya yang sudah jadi. Seperti kebaya, mukena, daster dan lain sebagainya. Sebenarnya kualitas kita itu sudah kualitas ekspor, namun kita tangan kedua tidak langsung ekspor. Karena memang kita tidak punya channel kesana, sehingga yang lebih dikenal adalah bordir Bali,” tutur istri Muhamad Dhuha ini.

Proses pembuatan Bordir Selogudig Wetan.

Pemilik gelar sarjana Pendidikan Agama Islam ini, menuturkan kelebihan bordir Selogudig Wetan adalah pada karawangan. Dimana untuk melubangi kain, perajin tidak menggunakan solder (pemanas besi), melainkan menggunakan mesin juki.

“Nah ini yang tidak dimiliki oleh pembordir dari daerah lain. Sehingga ini, yang menjadi keunggulan kita. Sebab hasilnya, lebih halus, dan ini kelebihan kita,” ungkapnya.

Lilik, menuturkan regenerasi tenaga kerja tidak berjalan dengan baik. Sebab, kebanyakan remaja putri di desanya, sejak beberapa tahun terakhir lebih memilih untuk bekerja di luar desa. Yaitu dengan bekerja di pertokoan atau pabrik di Kraksaan. Mereka tidak tertarik untuk menjadi perajin, padahal dulu anak gadis di desa Selogudig Wetan, sangat antusias untuk menjadi perajin.

“Mungkin karena lebih keren kedengarannya, padahal, belum tentu dengan bekerja di pertokoan atau di pabrik penghasilannya lebih baik dari upah membordir. Karena itu, saya ingin membeli mesin bordir otomatis, agar tidak keteteran ketika mendapat pesanan banyak,” kata wanita yang mempunyai 2 anak ini.

Saat ini, Lilik sendiri digandeng oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Probolinggo untuk menjadi narasumber atau pelatih bordir bagi warga. Selain itu, Lily Bordir juga mempekerjakan warga dari desa lain di Kecamatan Pajarakan, Kecamatan Tiris, Kecamatan Krejengan, bahkan di Kota Probolinggo dan Pasuruan.

“Yang menjadi kendala adalah saat mati lampu. Karena itu sangat mengganggu proses produksi,” kata Kepala BUMdes Layar Harapan ini.

Camat Pajarakan Sukarno, mengatakan pihaknya sering mengajak Lily Bordir untuk melatih warga lain di sekitar wilayahnya. Selain untuk menularkan keterampilan, juga untuk regenerasi.

“Kami juga memfasilitasi promosi melalui berbagai lini. Seperti even pameran, sonding ke perbankan, juga ke dinas terkait,” ujarnya. (*)