Cakupan Imunisasi Difteri Kota Blitar Terbaik, Ini Resepnya

837

Blitar (wartabromo.com) – Capaian Outbreak Response Immunization (ORI) Difteri Kota Blitar menjadi yang tertinggi di Jawa Timur. Per 6 Desember, cakupannya sudah 82,92%.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Blitar, dr. Muhammad Muchlis mengatakan, tingginya capaian ini tak lepas dari komitmen bersama warga Kota Blitar.

Ia mengungkapkan, ketika mendapat edaran bahwa Jawa Timur berstatus KLB Difteri beberapa waktu lalu, pihaknya langsung merespon dengan melaksanakan rapat koordinasi.

Apalagi, di Kota Blitar ada 6 warga yang dicurigai suspect difteri. “Sebab penyakit ini menular dan mematikan,” ujar Muchlis, di sela-sela monitoring imunisasi difteri di SMAN 4 Kota Blitar, Jumat (7/12/2018) kemarin.

Saat itu, pihaknya segera menyusun prosedur penanganan dan pencegahan. Yakni imunisasi difteri pada anak usia 1 hingga 19 tahun dengan target ORI sekitar 50 ribu lebih. Berbekal program pencegahan dan penanganan, Dinkes kemudian melibatkan semua pihak. Mulai dari instansi pendidikan, kesehatan, kader posyandu, hingga aparat penegak hukum. Termasuk kepala daerah, sebagai pemegang komando pemerintahan tertinggi di wilayah tersebut.

“Kami data semua potensi yang ada, baik Dinkes dan OPD lainnya, serta eksternal Pemkot, seperti rumah sakit swasta, maupun TNI-Polri. Kami koordinasikan agar punya satu pemahaman untuk menyusun rencana pelaksanaan, monitoring dan evaluasinya. Namun untuk menggerakkan itu semua, tentu kami tidak mampu. Sehingga dibutuhkan penggerak utama, yakni Wali Kota. Jadi keberhasilan ORI Difteri di Kota Blitar bukan Dinkes ansiech, tapi keberhasilan bersama,” tuturnya.

Muchlis mengatakan dalam pelaksanaannya, paramedis dari 10 rumah sakit dan klinik tidak mendapat instensif. Dimana setiap pelaksaan imunisasi, ada 1 dokter dan 4 perawat yang diterjunkan. Padahal jasa medis imunisasi di rumah sakit dan klinik kesehatan swasta di kota Blitar sebesar Rp50 ribu, tidak termasuk vaksinnya. “Tapi alhamdulillah semuanya secara gotong royong terlibat dalam menyukseskan imunisasi difteri,” kata pria kelahiran Malang ini.

Salah satu dokter Rumah Sakit Swasta Budi Rahayu Kota Blitar, dr Kartika menyebut, walaupun tidak dibayar, pihaknya merasa punya tanggung jawab untuk menjamin kesehatan warga.

“Sebagai tenaga kesehatan, kami terpanggil untuk melaksanakan tugas ini. Karena prinsipnya, lebih baik mencegah dari pada mengobati. Kalau sampai ada yang sakit, kan akhirnya kami juga yang harus menanganinya,” ungkapnya.

Sebagai informasi, wilayah Jawa timur, ditetapkan sebagai wilayah KLB Difteri. Dengan total 16 korban meninggal, dari 400 kasus yang ditemukan sepanjang 2017 – 2018. Kota Probolinggo berada di urutan terbawah, capaian imunisasi difteri 2019. Per tanggal 6 Desember 2018, kota penghasil mangga ini masih mencapai 40,85 persen.

Untuk itulah, UNICEF, mengajak serta jurnalis Probolinggo, mengunjungi kawasan dengan capaian tertinggi. Dengan harapan, mampu memberikan efek positif pada daerahnya. Terutama dalam membantu mensukseskan imunisasi difteri.

“Peran serta jurnalis tidak bisa dikesampingkan dalam menyukseskan suatu program. Lewat kritik sosial di media, diharap mampu melecut pemerintah daerah untuk melalukan langkah luar biasa dalam pelaksanaan ORI Difteri,” kata Kepala Perwakilan UNICEF Pulau Jawa Arie Rukmantara. (saw/saw)