Ini Pendapat Warga Kota Probolinggo Tentang Imunisasi Difteri

0
180

Probolinggo (wartabromo.com) – Bahaya penyebaran bakteri Difteri sangat mengancam anak-anak, terutama anak usia dini. Namun masih banyak para orang tua di Kota Probolinggo, yang belum menyadari bahaya Difteri. Kota Probolinggo berada diurutan terbawah untuk cakupan imunisasi yang menyasar anak berusia 1-19 tahun.

Sosialisasi bahaya penyakit difteri tak sepenuhnya diterima warga Kota Probolinggo. Hal itu cukup mempengaruhi angka capaian Outbreak Response Immunization (ORI) Difteri yang rendah. Padahal hingga 6 Desember, cakupan imunisasi difteri di seluruh Jawa Timur sudah mencapai 76,35%. Sementara cakupan imunisasi difteri di Kota Probolinggo yang baru menyentuh angka 37,82%. Terburuk dari 38 kota/kabupaten se Jawa Timur.

Ketidaktahuan akan bahaya difteri itu, diungkapkan oleh Fitriani (33), warga Kelurahan Jati, Kecamatan Mayangan. Ia mengaku tidak tahu betapa bahayanya penularan penyakit difteri. Sehingga putranya yang bernama M.Riski (4), hanya menjalani satu kali imunisasi.

“Karena menurut saya itu tidak begitu penting. Ya menurut saya selama anak itu diberi asupan gizi yang baik dan tambahan vitamin itu merupakan pencegahan yang lebih baik dari segala macam virus dan penyakit,” katanya, Sabtu (8/12/2018).

Fitriani juga mengaku belum pernah mendapat penyuluhan dan pendataan dari pejabat terkait dan Dinkes Kota Probolinggo. Oleh karena itulah, ia tidak mengetahui pentingnya imunisasi difteri tersebut.

“Saya tidak tahu apa itu penyakit difteri mas, disini tidak pernah ada penyuluhan terkait itu, tidak pernah ada pejabat kesehatan kesini,” tambahnya.

Berbeda dengan Fitriani, warga lainnya yakni Dewi Suharmawati (29), warga Kelurahan Jati, Kecamatan Mayangan, mengaku tahu apa itu difteri. Sehingga imunisasi tersebut sangatlah penting, karena menurutnya difteri itu sangat berbahaya. Sebab, penularannya sangat mudah melalui udara bisa menular, yang dapat menyebabkan kematian.

“Imunisasi difteri itu sangat penting mas, karena saya pernah diberi tahu dokter saat anak saya periksa itu kalo difteri itu bisa menyebabkan kebutaan hingga kematian. Anak saya imunisasi difteri sudah lengkap mas,” kata ibu dari Rifky Al Amiri, seorang anak umur 5 tahun yang mengikuti Imunisasi.

Kepala Dinkes Kota Probolinggo Ninik Ira Wibawati tidak menampik rendahnya capaian ORI difteri di wilayahnya. Ia beralasan, start ORI difteri putaran ketiga mundur sekitar 1 bulan lebih. Isu vaksin haram cukup mempengaruhi capaian tersebut.

“ORI difteri putaran ketiga kami berakhirnya Januari. Karena sempat tertunda,” ujarnya.

Ninik menjelaskan, pihaknya tetap memberikan perhatian serius terhadap difteri. Karena Kota Probolinggo merupakan wilayah yang banyak dilalui oleh masyarakat dari luar daerah, khususnya Jatim.

“Kami akan kejar capaian ORI difteri putaran ketiga ini. Tapi Alhamdulillah, di Kota Probolinggo tidak ditemukan kasus difteri selama tahun ini,” ungkapnya. (fng/saw)