Alih Fungsi Hutan Membawa Bencana

957
Dua kali dalam setahun, wilayah Kecamatan Tiris, Kabupaten Probolinggo, dilanda banjir bandang dan tanah longsor. Nyawa, harta benda dan infrastruktur hanyut terbawa arus liar. Alih fungsi hutan dituding sebagai biang keladinya.

Laporan : Sundari Adi Wardhana

WAJAH Endang (45), tertegun memandangi bagian belakang rumahnya yang habis terseret arus banjir sungai Lawang Kedaton. Dapur dan kandang hewan, beserta 2 ekor sapi ludes tak berbekas. Beruntung ia, Burianto (50), suaminya, beserta 3 orang anaknya, selamat dalam malam yang mencekam itu.

“Saya masih ingat bagaimana suara air menderu-deru lewat di samping rumah. Saat air mulai membesar, saya dan keluarga naik ke dataran yang lebih tinggi. Tak terpikirkan untuk menyelamatkan ternak, yang penting kami selamat,” tutur Endang, warga RT 11 RW 4 Dusun Kedaton, Desa Andung Biru, mengenang banjir yang hampir merenggut nyawanya itu.

Ya, Endang adalah salah satu korban bencana banjir bandang di desa tersebut. Banjir bandang dan tanah longsor pada Senin (10/12/2018) lalu itu, bukanlah yang pertama kali melanda wilayah Kecamatan Tiris. Dalam catatan wartabromo.com, daerah yang berada di lereng Pegunungan Argopuro (Hyang) ini, telah 2 kali dilanda musibah yang sama di tahun yang sama.

Sebelumnya pada Kamis (1/2/2018), banjir bandang juga melandan pasca hujan berlangsung selama 9 jam, yakni sejak sekitar pukul 11.00 hingga 20.00. Akibatnya ratusan KK (kepala keluarga) terisolasi karena jembatan terbawa banjir. Di Desa Andung Biru, 50 hektare sawah yang ditanami cabai, sengon, dan padi gagal panen. Banjir juga menyebabkan longsor di Dusun Sumberkapong. Longsoran dari ketinggian 70 meter itu sampai ke halaman rumah warga. Sebab mempunyai panjang sekitar 15 meter dengan tebal 6 meter. Ada 40 rumah yang terancam dengan material longsoran.

Kemudian, infrastruktur jalan sepanjang 3 kilometer dari Dusun Kedaton hingga Dusun Lawang Kedaton tergerus air. Kerugian lainnya, empat unit motor; 65 ekor ayam; tiga lokal kamar mandi, dan tempat parkir di SDN 1 Andungbiru, hanyut terbawa arus. Satu rumah warga di Desa Andungbiru juga dilaporkan mengalami rusak berat. Sementara di Desa Tiris, 8 kandang milik warga hanyut terbawa arus.

Hanya dalam rentang 10 bulan, banjir bandang dan tanah longsor kembali melanda. Ada 3 desa yang terdampak yakni Desa Andung Biru, Desa Telogo Argo dan Desa Tiris. Sebanyak 66 rumah dan bangunan dilaporkan rusak, 2 diantaranya rata dengan tanah. Kemudian jalan penghubung Desa Tlogoargo ke Jember terputus. Ada 7 jembatan rusak akibat diterjang banjir.

Tak hanya itu, 2 kakak beradik yakni Siti Munawaroh (19) dan Akbar Maulana (10), yang merupakan warga RT 14 RW 4 Dusun Lawang Kedaton meninggal dunia. Keduanya tewas setelah tertimpa tanah longsor yang mengubur rumah tempat tinggalnya.

Ada 2.788 jiwa terisolir, pasca jalan akses tertimbun longsor. Rinciannya di Dusun Krajan sebanyak 901 jiwa, Dusun Kedaton ada 749 orang, dan Dusun Lawang Kedaton sebanyak 1.138 orang.

“Ini banjir kiriman dari Jember, gara-gara hutan di Jember gundul. Kalau di sini tidak ada yang gundul. Saya minta di Jember (melakukan, Red) reboisasi,” kata Kepala Desa Andung Biru, Essam.

Essam menuturkan hutan gundul yang ia maksud ada di Gunung Gambir atau oleh warga Desa Andung Biru lebih dikenal dengan Gunung Malang. Daerah itu, masuk Desa Gelang, Kecamatan Sumber Waru, Kabupaten Jember. Jaraknya sekitar 7 kilometer dari Desa Andung Biru. Dalam 2 tahun terakhir, terjadi penebangan besar-besaran di daerah itu. Setelah pohon tegakan dibabat habis, lahannya ditanami dengan aneka palawija seperti jagung. Sehingga dalam satu tahun, desanya terkena bencana banjir bandang sebanyak 2 kali.

“Sejak 2 tahun lalu sudah ada 27 longsor di areal hutan itu. “Ini akibat penebangan liar. Kawasan hutan di atas desa ini sudah beralih fungsiAkibatnya ya seperti sekarang ini. Saya sangat menentang adanya penebangan liar karena takutnya ada kejadian seperti ini,” terang pria yang menjabat Kades sejak 2015 ini.

Dari analisis sementara Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Probolinggo, ada 3 hal yang mendasari penyebab banjir dan longsor. Pertama alih fungsi hutan, yakni dari hutan kayu jati dan pohon keras lainnya, berubah menjadi hutan kayu sengon dan perkebunan kopi. Perubahan fungsi hutan itu, tak hanya di areal Gunung Gambir, sebagaimana dituduhkan oleh Kades Andung Biru, Essam. Tetapi juga terjadi di hutan yang berada di kawasan Kecamatan Tiris.