Bukan Negeri di Atas Awan

0
803
Pemandangan di portal pukul 5.00 shubuh.
“Nampak indahnya Gunung Semeru. Berwarna biru, layaknya background yang ada di internet itu. Seperti tidak nyata, padahal benar ada.”

Oleh : Maya Rahma

PENAT. Begitulah kira-kira suasana perkotaan saat ini. Bukannya sok metropolis. Cuma, padatnya jalanan sekarang bukan hanya dirasakan di kota-kota besar. Namun sudah mulai merambah di kota kecil seperti Lumajang.

Saya pun memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak. Oh bukan berjalan-jalan sih, bersepeda motor, mencari tempat penyegaran mata selain bangunan-bangunan toko. Kami pun memutuskan ke wisata B-29. Kami, karena saya tidak sendiri, bersama kekasih hati. Ceileh, suami gitu maksudnya.

B-29, tempat yang pernah hits pada masanya, meski sekarang tidak se-heboh dulu. Maklum, namanya juga masih baru, dulu, jelas lah bakal melejit. Apalagi tempat itu diabadikan dengan teknologi saat ini. Semakin bertambahlah keindahannya.

Imbasnya bagus sih, akses menuju Desa pucuk Senduro itu akhirnya diperbaiki oleh Pemerintah. Penduduk Argosari yang mayoritas merupakan suku Tengger, akhirnya menikmati juga jalan bagus. Meski motor yang mereka beli tetap saja harus dimodifikasi untuk keperluan jalan yang menanjak itu. Ditambahlagi bumbu-bumbu perebutan teritori wilayah setelah wisatanya hits dengan kabupaten sebelah.

Kami berniat sekali ke atas, berangkat shubuh. Oh sebelum shubuh. Supaya bisa melihat matahari terbit. B-29 bagus sekali jika diliat saat Shubuh. Paling tidak, isi kamera bekal kami itu tidak kosong lah.

Mengendarai motor selama 1 jam dari Kecamatan Senduro, cukup membuat kami lelah. Ditambah udara dingin pada pagi hari itu. Kami merapatkan jaket, tetap ngegas motor matic kami. Rencananya sih, nanti kalau sudah sampai portal masuk B29, saya mau turun, naik ojek. Ya kami sadar, motor matic terlalu lemah jika dipakai berboncengan sampai ke puncak.

Belum juga sampai ditempat tujuan, belum juga masuk gapura bertulis “Selamat Datang di Wisata Negeri Diatas Awan,” motor merah kami sudah “lelah”. Yasudah, istirahat dulu. Mau ngojek dari sini juga mikir. Terlalu jauh, biaya membengkak (maklum emak-emak perhitungannya harus jeli, hihi).

Kami pun memutuskan berhenti di portal terbawah. Bukan yang portal dekat B29, yang paling bawah pokoknya. Dekat para tukang ojek suku Tengger yang mengaku saat ini penghasilannya seret.

“Sepi sakniki (sekarang, red). Gak kayak dulu. Tamunya berkurang,” ujar Kang Ojek yang tidak mau ngaku namanya siapa.

Rupanya setelah istirahat, si merah tidak bisa diajak kerja sama. Hari semakin siang, perjalanan masih jauh. Gak “nutut” kalau memaksakan diri melihat indahnya Bromo dari B29.

Ada satu titik yang ternyata menutupi kekecewaan kami. Setelah melihat-lihat sekitar, Nampak indahnya Gunung Semeru. Anggap saya tidak tahu arah mata angin. Jelasnya, si Mahameru terlihat dibelakang kami. Berwarna biru, layaknya background yang ada di internet itu. Seperti tidak nyata, padahal benar ada.

Cekrek. Saya pun mengambil gambar. Luar biasa bagus. Pukul 5 di portal, yang sepertinya tak banyak orang tahu, atau mungkin saya yang baru tahu tempat ini. Anggap saja opsi pertama yang benar, karena hampir tidak ada yang berhenti di portal ini. Kami pun menghabiskan waktu disana. Melihat awan mengelilingi Semeru sambil membidik Ciptaan Tuhan yang amat indah. Anggaplah saya katrok. Tapi pemandangan ini mengobati penat saya.

Tampak pemandangan Gunung Semeru saat pukul 06.00 WIB. Awan sudah tak begitu terlihat.

Birunya langit, ditambah Semeru terlihat biru juga namun warnanya lebih tua. Disekililingnya ada awan. Masih juga ada hijau-hijauan pohon yang semakin membuat “rame” pandangan mata itu.

Pemandangan ini tidak hanya bisa dilihat di portal saja. Saat perjalanan turun, keindahan Semeru masih tampak tak nyata. Beberapa spot baru dengan latar yang sama pun kami temukan. Spot ini tempat baru bagi kami melepas penat. Saya yakin bakal sering ke portal ini nantinya.

Foto yang saya tampilkan memang hanya dua. Karena ternyata lebih banyak foto selfie, nanti dikira ke-PDan. Yang jelas, pemandangan ini lebih indah dari bidikan fotografrer amatir macam saya. Percayalah.

Pelajaran yang saya petik hari ini, meski tidak sampai ke tujuan, nyatanya ada “ganti” yang cukup baik bagi perjalanan jauh kami. Yang jelas, harus berjalan dulu supaya bisa bertemu hal baru.