Ini Dia Desa Biogas di Lekok yang Mendapat Penghargaan

0
819
Seorang warga Desa Balunganyar, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan, menunjukkan salah satu intalasi biogas yang dimilikinya. Foto: dokumen.
“Bau menyengat dari melimpahnya kotoran sapi yang kurang bermanfaat dan mencemari lingkungan, kami sulap menjadi biogas yang kaya manfaat. Pengeluaran rumah tangga jadinya lebih hemat,”

Laporan: Ardiana Putri

BEBERAPA hari lalu tepatnya Selasa (11/12/2018), Desa Balunganyar, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan mendapat penghargaan desa inovatif 2018 Kabupaten Pasuruan. Desa ini mendapat penghargaan lantaran telah berhasil menyulap limbah kotoran sapi menjadi biogas yang dapat dirasakan manfaatnya oleh penduduk setempat.

Balunganyar memang dikenal sebagai salah satu desa penghasil susu terbesar di Kabupaten Pasuruan. Hampir seratus persen penduduknya merupakan peternak sapi. Kondisi ini membuat Desa Bulunganyar dihadapkan pada satu permasalahan, yakni limbah kotoran sapi yang melimpah ruah. Bahkan baunya yang menyengat membuat penduduk merasa tak nyaman karena lingkungannya tercemar.

Dalam laporan WartaBromo sebelumnya juga tercatat, sebelum teknologi biogas diterapkan di desa tersebut, berbagai polemik dialami. Warga kerap bertengkar, bahkan bisa saling melukai, gara-gara pembuangan limbah ternak sapi yang tak karuan.
Mulyadi, sekretaris Desa Balunganyar membeberkan berbagai kendala sebelum biogas tersebut benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga.

“Kami mengawalinya sejak 2008, tapi saat itu dapat dibilang kurang berhasil. Dari tahun ke tahun kami terus berinovasi hingga saat ini dapat dikatakan telah membuahkan hasil,” ungkapnya pada Wartabromo.

Menurutnya, usaha yang mereka lakukan tak berjalan mulus. Tahun 2011, melalui dana bantuan dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Kabupaten Pasuruan, dibangunlah beberapa instalasi biogas percontohan dari bahan plastik. Saat itu warga sudah mulai yakin akan manfaatkan biogas, saat bersamaan instalasi biogas yang terbuat dari plastik tersebut rusak dan tak berfungsi. Kepercayaan warga pun memudar.

Tak patah arang, pihak pemerintah desa terus menyakinkan warganya. Melalui anggaran Dana Desa, pada 2015 kembali dibangun instalasi biogas dari beton sehingga manfaatnya dapat dirasakan hingga sekarang.

Saat ini, Desa Balunganyar telah memiliki sebanyak 16 instalasi yang telah dinikmati oleh 240 kepala keluarga. Telah diidentifikasi terdapat 20 titik potensi limbah. Pada 2019 mendatang, Desa Balunganyar berharap segera merealisasikan instalasi biogas sebanyak titik tersebut. (*)